alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Permintaan Telur Naik Dua Kali Lipat

Harga di Peternak Tembus Rp 24 Ribu Per Kg

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Jelang Lebaran harga telur terus meroket. Sejak sepekan terakhir, harga di tingkat produsen tembus Rp 24 ribu per kilogram (kg). Angka ini tergolong tinggi jika dibandingkan harga normal Rp 19 ribu.

Kenaikan harga ini diketahui saat Bupati Ikfina Fahmawati selaku Ketua Tim Satgas Pangan Kabupaten Mojokerto melakukan sidak di peternak Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, kemarin (29/4). ’’Sekarang per kilogram telur Rp 24 ribu. Ini termasuk tinggi-tingginya. Karena normalnya Rp 19 ribu, bisa Rp 20 ribu sampai Rp 21 ribu per kilogram,’’ kata Yuniati Prayugo, peternak ayam petelur kepada Ikfina.

Menurutnya, kenaikan harga di tingkat produsen ini sudah berlangsung sejak sepekan terakhir. Kondisi ini berbanding lurus dengan meningkatnya permintaan di pasaran. Khususnya jelang Lebaran seperti sekarang ini.

Baca Juga :  Harga Telur Kembali Mahal, Tembus Rp 23 Ribu Per Kg

Rata-rata permintaan naik dua kali lipat. ’’Jadi, sehari saat ini permintaan sampai 400 kilogram. Kalau sebelumnya, saat normal, ya produksi di kandang saya ini saja 200 kilogram. 250 kilogram itu paling banyak,’’ tegasnya.

Selama ini, dirinya selaku peternak hanya mengikuti harga di pasaran saja. ’’Tidak ikut membuat harga, kadang juga tidak tega kalau harga terlalu tinggi,’’ tuturnya.

Bupati Ikfina Fahmawati menegaskan, momentum seperti ini memang terjadi siklus kenaikan harga barang. Pemerintah sebagai Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) harus memastikan ke lapangan jika proses kenaikan masih dalam batas wajar melalui sistem 4 K. Yakni, ketersediaan barang, kelancaraan distribusi, kejangkauan harga, dan komunikasi efektif. ’’Nah kita turun di lapangan ini untuk memastikan ketersediaan barang. Dan alhamdulillah, tidak sampai ada kelangkaan, ketersediaan masih aman,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Kembangkan Ekonomi Hijau dan Kuatkan Iklim Investasi

Ketersediaan telur misalnya. Sejauh ini, sesuai data, tiap harinya tak ada kendala produksi. Artinya, meski terjadi kenaikan permintaan, ketersediaan di tingkat produsen masih tetap aman. Termasuk ketersediaan BBM di SPBU juga masih aman. ’’Distribusi juga tidak ada masalah, tidak ada keterlambatan, tidak ada pengurangan volume, kondisi masih terkendali,’’ jelasnya.

Hanya saja, yang perlu jadi atensi, belakangan terjadi peralihan pembelian dari Pertamax ke Pertalite. Sehingga, itu harus jadi perhatian khusus. ’’Karena permintaan masyarakat lebih tinggi ke Pertalite. Tapi mudah-mudahan sampai libur Lebaran kondisi tetap aman, dan tercukupi,’’ tegasnya. (ori/ron)

Harga di Peternak Tembus Rp 24 Ribu Per Kg

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Jelang Lebaran harga telur terus meroket. Sejak sepekan terakhir, harga di tingkat produsen tembus Rp 24 ribu per kilogram (kg). Angka ini tergolong tinggi jika dibandingkan harga normal Rp 19 ribu.

Kenaikan harga ini diketahui saat Bupati Ikfina Fahmawati selaku Ketua Tim Satgas Pangan Kabupaten Mojokerto melakukan sidak di peternak Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, kemarin (29/4). ’’Sekarang per kilogram telur Rp 24 ribu. Ini termasuk tinggi-tingginya. Karena normalnya Rp 19 ribu, bisa Rp 20 ribu sampai Rp 21 ribu per kilogram,’’ kata Yuniati Prayugo, peternak ayam petelur kepada Ikfina.

Menurutnya, kenaikan harga di tingkat produsen ini sudah berlangsung sejak sepekan terakhir. Kondisi ini berbanding lurus dengan meningkatnya permintaan di pasaran. Khususnya jelang Lebaran seperti sekarang ini.

Baca Juga :  Kembangkan Ekonomi Hijau dan Kuatkan Iklim Investasi

Rata-rata permintaan naik dua kali lipat. ’’Jadi, sehari saat ini permintaan sampai 400 kilogram. Kalau sebelumnya, saat normal, ya produksi di kandang saya ini saja 200 kilogram. 250 kilogram itu paling banyak,’’ tegasnya.

Selama ini, dirinya selaku peternak hanya mengikuti harga di pasaran saja. ’’Tidak ikut membuat harga, kadang juga tidak tega kalau harga terlalu tinggi,’’ tuturnya.

- Advertisement -

Bupati Ikfina Fahmawati menegaskan, momentum seperti ini memang terjadi siklus kenaikan harga barang. Pemerintah sebagai Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) harus memastikan ke lapangan jika proses kenaikan masih dalam batas wajar melalui sistem 4 K. Yakni, ketersediaan barang, kelancaraan distribusi, kejangkauan harga, dan komunikasi efektif. ’’Nah kita turun di lapangan ini untuk memastikan ketersediaan barang. Dan alhamdulillah, tidak sampai ada kelangkaan, ketersediaan masih aman,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Pedagang Eceran Keberatan Terapkan Satu Harga

Ketersediaan telur misalnya. Sejauh ini, sesuai data, tiap harinya tak ada kendala produksi. Artinya, meski terjadi kenaikan permintaan, ketersediaan di tingkat produsen masih tetap aman. Termasuk ketersediaan BBM di SPBU juga masih aman. ’’Distribusi juga tidak ada masalah, tidak ada keterlambatan, tidak ada pengurangan volume, kondisi masih terkendali,’’ jelasnya.

Hanya saja, yang perlu jadi atensi, belakangan terjadi peralihan pembelian dari Pertamax ke Pertalite. Sehingga, itu harus jadi perhatian khusus. ’’Karena permintaan masyarakat lebih tinggi ke Pertalite. Tapi mudah-mudahan sampai libur Lebaran kondisi tetap aman, dan tercukupi,’’ tegasnya. (ori/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/