alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Saturday, May 28, 2022

Curah Hujan Tinggi, Khawatir Gagal Panen

Kesuksesan panen raya tahun ini, diharapkan bisa terulang. Namun tantangan cuaca, membuat para petani ketar-ketir. Banyak cabai rawit yang rontok dari tanaman karena curah hujan yang terlalu tinggi.

Panen raya diprediksi datang satu sampai dua bulan lagi. Saat ini, para petani tengah getol merawat tanaman mereka supaya bisa membuahkan cabai rawit yang sempurna. Tanaman cabai rata-rata saat ini masih berusia dua bulanan. Buahnya masih hijau dan belum siap panen. ”Bulan tiga (Maret, red) paling ramai-ramainya panen,” kata Uman, petani di Dusun Warugunung, Desa Jatirowo, Kecamatan Dawarblandong.

Dia merasa khawatir curah hujan yang tinggi saat ini membuat tanamannya rusak. Cabai yang ditanam di lahan seluas 2.300 bata itu belum semuanya berbuah. Masih banyak pohon yang belum berbunga. Kondisi ini disebutnya karena pengaruh intensitas hujan yang tinggi belakang. ”Kalau hujan terus bisa busuk dan protol,” ujarnya.

Baca Juga :  Antara Tren dan Peluang Usaha Berkelanjutan

Uman belum bisa memprediksi hasil panennya kali ini. Sekali petik, dia bisa menghasilkan 1,25 kwintal cabai rawit. Dia berharap, keberhasilan panen bisa terulang kembali. Sebab, cabai rawit menjadi andalan banyak petani di Kecamatan Dawarblandong. ”Kalau tanaman lainnya itu tidak ada. Kalau sampai mbeleset (gagal panen, Red) sudah bejat. Karena yang diandalkan untuk biaya apapun dari lombok,” sebut dia.

Ungkapan serupa juga disampaikan Watini. Tanaman cabai rawit sulit hidup karena terus terkena hujan. Buahnya pun banyak yang rontok. Dia belum tahu apakah bisa kembali menghasilkan ratusan juta rupiah dari tanamannya ini. ”Dilihat saja nanti. Minta doanya saja semoga bisa panen banyak,” tuturnya. (adi/ron)

Baca Juga :  Keliling Kampung, Tengkulak Pisang Meninggal

 

 

 

Kesuksesan panen raya tahun ini, diharapkan bisa terulang. Namun tantangan cuaca, membuat para petani ketar-ketir. Banyak cabai rawit yang rontok dari tanaman karena curah hujan yang terlalu tinggi.

Panen raya diprediksi datang satu sampai dua bulan lagi. Saat ini, para petani tengah getol merawat tanaman mereka supaya bisa membuahkan cabai rawit yang sempurna. Tanaman cabai rata-rata saat ini masih berusia dua bulanan. Buahnya masih hijau dan belum siap panen. ”Bulan tiga (Maret, red) paling ramai-ramainya panen,” kata Uman, petani di Dusun Warugunung, Desa Jatirowo, Kecamatan Dawarblandong.

Dia merasa khawatir curah hujan yang tinggi saat ini membuat tanamannya rusak. Cabai yang ditanam di lahan seluas 2.300 bata itu belum semuanya berbuah. Masih banyak pohon yang belum berbunga. Kondisi ini disebutnya karena pengaruh intensitas hujan yang tinggi belakang. ”Kalau hujan terus bisa busuk dan protol,” ujarnya.

Baca Juga :  Peternak Ramai-Ramai Jual Murah

Uman belum bisa memprediksi hasil panennya kali ini. Sekali petik, dia bisa menghasilkan 1,25 kwintal cabai rawit. Dia berharap, keberhasilan panen bisa terulang kembali. Sebab, cabai rawit menjadi andalan banyak petani di Kecamatan Dawarblandong. ”Kalau tanaman lainnya itu tidak ada. Kalau sampai mbeleset (gagal panen, Red) sudah bejat. Karena yang diandalkan untuk biaya apapun dari lombok,” sebut dia.

Ungkapan serupa juga disampaikan Watini. Tanaman cabai rawit sulit hidup karena terus terkena hujan. Buahnya pun banyak yang rontok. Dia belum tahu apakah bisa kembali menghasilkan ratusan juta rupiah dari tanamannya ini. ”Dilihat saja nanti. Minta doanya saja semoga bisa panen banyak,” tuturnya. (adi/ron)

Baca Juga :  Komitmen Peningkatan Layanan Masyarakat

 

- Advertisement -

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/