alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Mati Angin karena Pandemi

Pandemi yang tak kunjung reda, membuat banyak perajin kelimpungan. Tak terkecuali Sunali. Sudah 5 bulan ini, produksi kerajinan kapalnya terhenti. Ibarat mati angin, kapal-kapal yang biasa berlayar sampai luar pulau tersebut, kini terpaksa harus bersandar.

TANGAN Sunali terlihat lincah memainkan sumpitnya. Bukan sedang menikmati semangkuk mi, tetapi pria 42 tahun ini sedang mengerjakan beberapa pesanan dari TNI Angkatan laut.

Dengan telaten ia merangkai remihan bahan-bahan kecil menjadi sebuah miniatur kapal layar latih Bima Suci. Di rumah sederhana yang juga merupakan bengkel kerajinannya di Desa Wringinrejo, Kecamatan Sooko, inilah Sunali biasa memproduksi kerajinan kapal dengan berbagai model.

Mulai model kapal pinisi, kapal Mojopahit, hingga model kapal perang. Tak hanya peralatan, bahan yang digunakan Sunali juga termasuk sederhana. Untuk badan hingga tiang kapal, Sunali menggunakan limbah kayu mahoni dari pabrik.

Baca Juga :  Mendag: Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga

Limbah kayu tersebut digergaji dengan rajin hingga menyerupai bentuk badan kapal sebenarnya. Sementara untuk layar ia biasa memakai bahan baku sepatu. Bentuk layar ini juga menyesuaikan pesanan.

Kebanyakan untuk model pesanan berbentuk layar kapal pinisi serta kapal layar lainnya. ’’Yang sekarang sering dipesan TNI AL itu model kapal latih Bima Suci,’’ ujar Sunali.

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, produksi kerajinan Sunali mampu menembus ke berbagai daerah. Mulai tempat oleh-oleh ternama di Jogja dan Bali sampai Makasar, tempat kapal pinisi yang asli dibuat, juga menjadi tujuan utama pelayaran kapal pinisi miniatur buatannya.

Bahkan, di era keemasan usahanya, Sunali mengaku mampu membuat kapal dengan berbagai ukuran dalam jumlah ratusan dalam sebulan. Mulai miniatur kapal ukuran terkecil sampai yang berukuran lebih dari 1 meter. ’’Ukuran paling kecil biasanya yang dimasukan dalam botol,’’ terangnya.

Baca Juga :  Pramuka Gelar Latihan Gabungan Hingga Ikrar Sumpah Pemuda

Untuk menyelesaikan produksi sebanyak itu, ia memperkerjakan enam orang pekerja. Tiga orang bekerja di bengkelnya, sementara tiga orang lainnya mengerjakan produksi di rumah masing-masing. Namun, untuk tahapan finishing, Sunali mengerjakan sendiri di bengkel. 

Namun saat pandemi Covid-19 mulai melanda, lambat laun produksinya mulai berkurang. Pesanan dari berbagai daerah yang biasa mengalir, kini mulai surut. Bahkan, sempat terhenti total. Akibatnya sangat mengenaskan. Ia terpaksa memperhentikan semua pekerjanya.

Bahkan Sunali sendiri juga mengalami hal yang sama. Agar dapurnya tetap berasap, Sunali terpaksa mencari mata pencaharian lainnya. Kini, ia bekerja di sebuah proyek di kawasan Gresik. ’’Baru malam setelah pulang kerja, saya lanjutkan mengerjakan sedikit pesanan yang tersisa,’’ pungkas Sunali. (nto/abi) 

 

Pandemi yang tak kunjung reda, membuat banyak perajin kelimpungan. Tak terkecuali Sunali. Sudah 5 bulan ini, produksi kerajinan kapalnya terhenti. Ibarat mati angin, kapal-kapal yang biasa berlayar sampai luar pulau tersebut, kini terpaksa harus bersandar.

TANGAN Sunali terlihat lincah memainkan sumpitnya. Bukan sedang menikmati semangkuk mi, tetapi pria 42 tahun ini sedang mengerjakan beberapa pesanan dari TNI Angkatan laut.

Dengan telaten ia merangkai remihan bahan-bahan kecil menjadi sebuah miniatur kapal layar latih Bima Suci. Di rumah sederhana yang juga merupakan bengkel kerajinannya di Desa Wringinrejo, Kecamatan Sooko, inilah Sunali biasa memproduksi kerajinan kapal dengan berbagai model.

Mulai model kapal pinisi, kapal Mojopahit, hingga model kapal perang. Tak hanya peralatan, bahan yang digunakan Sunali juga termasuk sederhana. Untuk badan hingga tiang kapal, Sunali menggunakan limbah kayu mahoni dari pabrik.

Baca Juga :  Pandemi, Angka Perceraian Naik

Limbah kayu tersebut digergaji dengan rajin hingga menyerupai bentuk badan kapal sebenarnya. Sementara untuk layar ia biasa memakai bahan baku sepatu. Bentuk layar ini juga menyesuaikan pesanan.

Kebanyakan untuk model pesanan berbentuk layar kapal pinisi serta kapal layar lainnya. ’’Yang sekarang sering dipesan TNI AL itu model kapal latih Bima Suci,’’ ujar Sunali.

- Advertisement -

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, produksi kerajinan Sunali mampu menembus ke berbagai daerah. Mulai tempat oleh-oleh ternama di Jogja dan Bali sampai Makasar, tempat kapal pinisi yang asli dibuat, juga menjadi tujuan utama pelayaran kapal pinisi miniatur buatannya.

Bahkan, di era keemasan usahanya, Sunali mengaku mampu membuat kapal dengan berbagai ukuran dalam jumlah ratusan dalam sebulan. Mulai miniatur kapal ukuran terkecil sampai yang berukuran lebih dari 1 meter. ’’Ukuran paling kecil biasanya yang dimasukan dalam botol,’’ terangnya.

Baca Juga :  Pola Hidup Sehat, Kunci Utama Hadapi Pandemi

Untuk menyelesaikan produksi sebanyak itu, ia memperkerjakan enam orang pekerja. Tiga orang bekerja di bengkelnya, sementara tiga orang lainnya mengerjakan produksi di rumah masing-masing. Namun, untuk tahapan finishing, Sunali mengerjakan sendiri di bengkel. 

Namun saat pandemi Covid-19 mulai melanda, lambat laun produksinya mulai berkurang. Pesanan dari berbagai daerah yang biasa mengalir, kini mulai surut. Bahkan, sempat terhenti total. Akibatnya sangat mengenaskan. Ia terpaksa memperhentikan semua pekerjanya.

Bahkan Sunali sendiri juga mengalami hal yang sama. Agar dapurnya tetap berasap, Sunali terpaksa mencari mata pencaharian lainnya. Kini, ia bekerja di sebuah proyek di kawasan Gresik. ’’Baru malam setelah pulang kerja, saya lanjutkan mengerjakan sedikit pesanan yang tersisa,’’ pungkas Sunali. (nto/abi) 

 

Artikel Terkait

Most Read

Pengasuh Pesantren Cabuli Santriwati

Outer Rajut Lebih Estetik dan Trendi

Bawaslu Ancam Stop Tahapan

Artikel Terbaru


/