alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Jelang Lebaran, Penjualan Emas Lesu

MOJOKERTO RAYA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Sepekan menjelang Lebaran, penjualan perhiasan emas masih lesu. Meski lebaran tahun ini aktivitas mudik dipermudah, penjualan perhiasan emas tidak jauh berbeda ketimbang tahun lalu saat mudik masih dilarang. Yakni masih dikisaran 10 persen dibanding sebelum masa pandemi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Perhiasan Indonesia (APEPI) Mojokerto Rudyanto mengatakan, masyarakat, utamanya kaum hawa, biasanya bakal berbondong-bondong menyerbu toko perhiasan emas sekitar dua pekan menjelang lebaran. Namun, saat ini kebiasaan itu berubah drastis.

Menurutnya, sejak diterpa pandemi Covid-19, tiga kali lebaran ini penjualan perhiasan emas anjlok. Tidak tanggung-tanggung, penjualan logam mulia itu jeblok hingga 90 persen. ’’Sudah tiga lebaran ini penjualannya hancur. Jelang lebaran seperti sekarang rata-rata cuma laku 10 potong,’’ sebutnya.

Itu berbanding terbalik ketika sebelum pandemi merajalela di Mojokerto. H-14 sebelum lebaran, perhiasan berupa kalung, gelang, anting, dan cincin laku hingga sekitar 100 potong. Kondisi seperti ini terjadi di seluruh toko emas yang tergabung dalam asosiasi yang dinahkodainya itu. ’’Sebelum pandemi itu masih bagus, sekarang sudah sepi. Rata-rata hampir di semua toko emas (anggota APEPI) di Mojokerto seperti ini,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Tembus Rp 1 Juta/Gram, Harga Logam Mulia Cetak Sejarah

Kebiasaan kaum hawa yang mempercantik diri dengan perhiasan emas disaat lebaran ini sudah bergeser. Yang sebelumnya mengivestasikan pendapatan pada perhiasan emas, kini lebih cenderung memilih membeli smartphone maupun motor keluaran terbaru. Sehingga kemungkinan besar bukan akibat lemahnya daya beli masyarakat.

’’Sebenarnya daya beli masyarakat masih bagus. Kenaikan UMR dan dapat tunjangan segala macam. Sekarang bisa dilihat, satu orang tidak cukup satu HP. Satu keluarga bisa punya empat motor. Jadi kebiasaan membelikan uang THR ataupun tabungan untuk perhiasan emas saat lebaran itu sudah berubah. Tidak seperti dulu lagi,’’ ungkapnya.

Dikatakannya, itu bukan hanya soal terpengaruh gaya hidup konsumtif. Menurutnya, harga logam mulia yang cenderung terus naik setiap lebaran jadi salah satu faktor lain. Dibanding tahun lalu, harga perhiasan emas 22 karat berkadar 70 persen dibanderol sekitar Rp 650 ribu.

Ada kenaikan sekitar Rp 50 ribu ketimbang tahun lalu. ’’Meskipun harga emas ini terus berfluktuasi, tapi memang trennya setiap lebaran ada kenaikan. Kemungkinan itu yang jadi faktor lain masyarakat jadi mikir-mikir mau beli emas,’’ urainya. Terlebih, penjualan kembali perhiasan emas yang relatif anjlok akibat penyusutan dari penggunaan harian. Sehingga warga Mojokerto seolah meninggalkan perhiasan emas untuk mempercantik diri sekaligus investasi.

Baca Juga :  Minyak Goreng Datang, Warga Serbu Swalayan 

Alhasil, belum bergeliatnya bisnis perhiasan emas dimasa pemulihan ekonomi ini membuat pengusaha was-was. Sebab, lanjut Rudy, lesunya perdagangan logam mulia ini dikhawatirkan mengikis keberadaan sejumlah toko emas di Mojokerto.

Tak pelak, pihaknya berharap pemerintah daerah bisa memacu jantung perdagangan perhiasan emas dengan berbagai cara. Salah satunya dengan menghelat pameran perhiasan. ’’Memang masih belum ada yang sampai bangkrut tutup toko. Tapi hasil dari penjualan yang minim seperti ini cuma cukup buat bayar gaji karyawan sama biaya operasional toko saja. Ya, semoga saja pemerintah (daerah) bisa menghidupkan lagi perdagangan (perhiasan) emas ini,’’ tandas pemilik Toko Mas Sumber Rejeki di Jalan Mojopahit Kelurahan Purwotengah, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, itu. (vad/fen)

MOJOKERTO RAYA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Sepekan menjelang Lebaran, penjualan perhiasan emas masih lesu. Meski lebaran tahun ini aktivitas mudik dipermudah, penjualan perhiasan emas tidak jauh berbeda ketimbang tahun lalu saat mudik masih dilarang. Yakni masih dikisaran 10 persen dibanding sebelum masa pandemi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Perhiasan Indonesia (APEPI) Mojokerto Rudyanto mengatakan, masyarakat, utamanya kaum hawa, biasanya bakal berbondong-bondong menyerbu toko perhiasan emas sekitar dua pekan menjelang lebaran. Namun, saat ini kebiasaan itu berubah drastis.

Menurutnya, sejak diterpa pandemi Covid-19, tiga kali lebaran ini penjualan perhiasan emas anjlok. Tidak tanggung-tanggung, penjualan logam mulia itu jeblok hingga 90 persen. ’’Sudah tiga lebaran ini penjualannya hancur. Jelang lebaran seperti sekarang rata-rata cuma laku 10 potong,’’ sebutnya.

Itu berbanding terbalik ketika sebelum pandemi merajalela di Mojokerto. H-14 sebelum lebaran, perhiasan berupa kalung, gelang, anting, dan cincin laku hingga sekitar 100 potong. Kondisi seperti ini terjadi di seluruh toko emas yang tergabung dalam asosiasi yang dinahkodainya itu. ’’Sebelum pandemi itu masih bagus, sekarang sudah sepi. Rata-rata hampir di semua toko emas (anggota APEPI) di Mojokerto seperti ini,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Harga Beras Medium dan Ayam Kampung Bikin Resah

Kebiasaan kaum hawa yang mempercantik diri dengan perhiasan emas disaat lebaran ini sudah bergeser. Yang sebelumnya mengivestasikan pendapatan pada perhiasan emas, kini lebih cenderung memilih membeli smartphone maupun motor keluaran terbaru. Sehingga kemungkinan besar bukan akibat lemahnya daya beli masyarakat.

’’Sebenarnya daya beli masyarakat masih bagus. Kenaikan UMR dan dapat tunjangan segala macam. Sekarang bisa dilihat, satu orang tidak cukup satu HP. Satu keluarga bisa punya empat motor. Jadi kebiasaan membelikan uang THR ataupun tabungan untuk perhiasan emas saat lebaran itu sudah berubah. Tidak seperti dulu lagi,’’ ungkapnya.

- Advertisement -

Dikatakannya, itu bukan hanya soal terpengaruh gaya hidup konsumtif. Menurutnya, harga logam mulia yang cenderung terus naik setiap lebaran jadi salah satu faktor lain. Dibanding tahun lalu, harga perhiasan emas 22 karat berkadar 70 persen dibanderol sekitar Rp 650 ribu.

Ada kenaikan sekitar Rp 50 ribu ketimbang tahun lalu. ’’Meskipun harga emas ini terus berfluktuasi, tapi memang trennya setiap lebaran ada kenaikan. Kemungkinan itu yang jadi faktor lain masyarakat jadi mikir-mikir mau beli emas,’’ urainya. Terlebih, penjualan kembali perhiasan emas yang relatif anjlok akibat penyusutan dari penggunaan harian. Sehingga warga Mojokerto seolah meninggalkan perhiasan emas untuk mempercantik diri sekaligus investasi.

Baca Juga :  Harga Bawang Merah di Pasar Tradisional Tak Sedap Lagi

Alhasil, belum bergeliatnya bisnis perhiasan emas dimasa pemulihan ekonomi ini membuat pengusaha was-was. Sebab, lanjut Rudy, lesunya perdagangan logam mulia ini dikhawatirkan mengikis keberadaan sejumlah toko emas di Mojokerto.

Tak pelak, pihaknya berharap pemerintah daerah bisa memacu jantung perdagangan perhiasan emas dengan berbagai cara. Salah satunya dengan menghelat pameran perhiasan. ’’Memang masih belum ada yang sampai bangkrut tutup toko. Tapi hasil dari penjualan yang minim seperti ini cuma cukup buat bayar gaji karyawan sama biaya operasional toko saja. Ya, semoga saja pemerintah (daerah) bisa menghidupkan lagi perdagangan (perhiasan) emas ini,’’ tandas pemilik Toko Mas Sumber Rejeki di Jalan Mojopahit Kelurahan Purwotengah, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, itu. (vad/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/