alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Migor Kemasan Melimpah, Curah Langka

Hasil Pantauan Polisi di Minimarket dan Toko Kelontong

JETIS, Jawa Pos Radar Mojokerto – Persoalan minyak goreng (migor) menjadi atensi Polres Mojokerto Kota. Pengecekan secara rutin ke minimarket maupun toko kelontong dilakukan secara rutin sejak empat hari terakhir. Hasil pantauan, stok migor kemasan tercukupi sedangkan jenis curah masih minim.

Minitoring tersebut dilakukan oleh jajaran Polsek Jetis. Bhabinkamtibmas mengecek persediaan migor ke para penjual di masing-masing desa tempat tugasnya sejak Senin (21/3). ”Kita cek jumlahnya untuk antisipasi penimbunan,” kata Kapolsek Jetis Kompol Soegeng Prajitno, kemarin (24/3).

Sejauh ini, menurut Soegeng, belum ditemukan indikasi pelanggaran dari pedagang. Untuk migor jenis kemasan, pasokannya terbilang banyak. Misalnya hasil pemantauan di minimarket di Desa Ngabar. Stok migor melimpah namun harganya mahal. Seperti migor merek Fraiswell yang dijual Rp 24.300 per liter dan merek Banco Rp 36.300 per liter.
Harga tak jauh berbeda didapati di toko grosir, UD Barokah. Di sini, harga migor merek Sabrina Rp 14 ribu per liter dan merek Family Rp 47 ribu per dua liter. ”Yang kemasan itu memang banyak,” ungkapnya.

Baca Juga :  Keluhkan Harga Pelet Meroket

Sementara itu, hal berbeda didapati saat pengecekan stok migor curah di sejumlah toko kelontong. Salah satunya seperti yang terjadi di Dusun Keputran, Desa Banjarsari, kemarin. Sejumlah toko yang didatangi mengaku kehabisan stok. ”Karena memang pasokan dari distibutor berkurang jadinya cepat habis,” terang Soegeng.

Sulitnya mencari migor curah tersebut dirasakan warga. Bahkan, karena kelangkaan migor curah, perajin kerupuk di Dusun Sidolegi, Desa Parengan, terpaksa berhenti produksi. Hal itu lantaran migor tersebut tak tersedia di toko-toko maupun agen langganan. ”Minyak yang premium (kemasan) mahal sekali, terus kalau minyak curah itu ternyata barangnya kosong di mana-mana. Adapun harganya mencapai Rp 23 ribu (per liter),” keluh Aisyah, perajin kerupuk yang sudah berhenti produksi sejak enam hari terakhir. (adi/ron)

Baca Juga :  Banpres UMKM Kota Dibuka Lagi, Kuota Pemohon Tak Dibatasi

Hasil Pantauan Polisi di Minimarket dan Toko Kelontong

JETIS, Jawa Pos Radar Mojokerto – Persoalan minyak goreng (migor) menjadi atensi Polres Mojokerto Kota. Pengecekan secara rutin ke minimarket maupun toko kelontong dilakukan secara rutin sejak empat hari terakhir. Hasil pantauan, stok migor kemasan tercukupi sedangkan jenis curah masih minim.

Minitoring tersebut dilakukan oleh jajaran Polsek Jetis. Bhabinkamtibmas mengecek persediaan migor ke para penjual di masing-masing desa tempat tugasnya sejak Senin (21/3). ”Kita cek jumlahnya untuk antisipasi penimbunan,” kata Kapolsek Jetis Kompol Soegeng Prajitno, kemarin (24/3).

Sejauh ini, menurut Soegeng, belum ditemukan indikasi pelanggaran dari pedagang. Untuk migor jenis kemasan, pasokannya terbilang banyak. Misalnya hasil pemantauan di minimarket di Desa Ngabar. Stok migor melimpah namun harganya mahal. Seperti migor merek Fraiswell yang dijual Rp 24.300 per liter dan merek Banco Rp 36.300 per liter.
Harga tak jauh berbeda didapati di toko grosir, UD Barokah. Di sini, harga migor merek Sabrina Rp 14 ribu per liter dan merek Family Rp 47 ribu per dua liter. ”Yang kemasan itu memang banyak,” ungkapnya.

Baca Juga :  Banpres UMKM Kota Dibuka Lagi, Kuota Pemohon Tak Dibatasi

Sementara itu, hal berbeda didapati saat pengecekan stok migor curah di sejumlah toko kelontong. Salah satunya seperti yang terjadi di Dusun Keputran, Desa Banjarsari, kemarin. Sejumlah toko yang didatangi mengaku kehabisan stok. ”Karena memang pasokan dari distibutor berkurang jadinya cepat habis,” terang Soegeng.

Sulitnya mencari migor curah tersebut dirasakan warga. Bahkan, karena kelangkaan migor curah, perajin kerupuk di Dusun Sidolegi, Desa Parengan, terpaksa berhenti produksi. Hal itu lantaran migor tersebut tak tersedia di toko-toko maupun agen langganan. ”Minyak yang premium (kemasan) mahal sekali, terus kalau minyak curah itu ternyata barangnya kosong di mana-mana. Adapun harganya mencapai Rp 23 ribu (per liter),” keluh Aisyah, perajin kerupuk yang sudah berhenti produksi sejak enam hari terakhir. (adi/ron)

Baca Juga :  Peduli Pendidikan hingga Santuni Anak Kurang Mampu

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/