alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Harga Cabai Kian Pedas, Rp 100 Ribu Per Kilogram

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Komoditas cabai sedang melambung drastis. Di pasaran, harga eceran cabai rawit campuran mencapai Rp 100 ribu per kilogram (kg). Ini merupakan harga tertinggi selama tahun ini.

Mahalnya harga cabai berdampak besar pada pengusaha kuliner. Mereka pun terpaksa mengurangi takaran untuk menutup biaya produksi. Lonjakan harga cabai rawit terpantau di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto. Adrian, salah satu pedagang mengatakan, harga cabai rawit terus mengalami fluktuasi.

Belum ada seminggu ini, cabai rawit melambung drastis mencapai Rp 100 ribu per kilogram. ’’Sejak tiga sampai empat hari terakhir ini naiknya,’’ ungkapnya. Dia mengatakan, harga ini merupakan yang tertinggi selama tahun ini.

Sejak musim penghujan ini, harga eceran cabai rawit selalu bertahan di kisaran Rp 80 ribu per kilogram hingga Rp 90 ribu per kilogram. Angka ini tentunya jauh di atas harga normal yang berada di kisaran Rp 40 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Harga Bapok Anjlok, Bumbu Pabrikan Naik

Melihat kondisi ini, para pedagang menjual cabai dengan mencampur cabai berusia tua dengan cabai yang masih muda. Selain untuk menekan harga, para petani juga banyak yang memanen cabai muda. Faktor cuaca disebut-sebut membuat hasil panen petani tak maksimal.

Sehingga mereka terpaksa panen dini.  Di samping itu, musim penghujan juga mengakibatkan banyak cabai busuk. ’’Sebenarnya banyak petani cabai rawit yang sudah panen. Tapi karena dikirim ke berbagai daerah, jadi harganya pun harus menyesuaikan,’’ tambah Irawan, salah satu tengkulak cabai rawit di Pasar Tanjung Anyar.

Selama ini, Irawan menerima langsung hasil panen cabai rawit dari berbagai daerah. Dari petani, dia mendapat harga Rp 80 ribu per kilogram untuk cabai rawit merah. Sementara itu, cabai rawit muda hanya dihargai Rp 35 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Kemendag Pastikan Ketersediaan Beras Aman Selama Tahun 2021

Mahalnya harga cabai rawit juga berdampak pada pelaku usaha kuliner. Mereka harus memutar otak guna menekan biaya produksi yang ikut terkerek. ’’Kalau pedagang lain mungkin memilih stop. Kalau aku mungkin isi kemasannya yang dikurangi,’’ ungkap Ritin Estina, penjual sambal pecel.

Sejak harga cabai naik, ukuran produknya pun ikut dikurangi. Dia mengaku tidak mau menggunakan cabai kering yang banyak dijual dengan harga yang lebih terjangkau. Hal ini dilakukannya guna untuk menjaga kualitas produksinya.

’’Biasanya 100 gram. Kalau kayak gini, isinya tinggal ngurangi tinggal 90 gram atau 80 gram bergantung tingkat kenaikannya,’’ tambahnya. (adi) 

 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Komoditas cabai sedang melambung drastis. Di pasaran, harga eceran cabai rawit campuran mencapai Rp 100 ribu per kilogram (kg). Ini merupakan harga tertinggi selama tahun ini.

Mahalnya harga cabai berdampak besar pada pengusaha kuliner. Mereka pun terpaksa mengurangi takaran untuk menutup biaya produksi. Lonjakan harga cabai rawit terpantau di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto. Adrian, salah satu pedagang mengatakan, harga cabai rawit terus mengalami fluktuasi.

Belum ada seminggu ini, cabai rawit melambung drastis mencapai Rp 100 ribu per kilogram. ’’Sejak tiga sampai empat hari terakhir ini naiknya,’’ ungkapnya. Dia mengatakan, harga ini merupakan yang tertinggi selama tahun ini.

Sejak musim penghujan ini, harga eceran cabai rawit selalu bertahan di kisaran Rp 80 ribu per kilogram hingga Rp 90 ribu per kilogram. Angka ini tentunya jauh di atas harga normal yang berada di kisaran Rp 40 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Gandeng Kejaksaan Optimalisasi Kepatuhan

Melihat kondisi ini, para pedagang menjual cabai dengan mencampur cabai berusia tua dengan cabai yang masih muda. Selain untuk menekan harga, para petani juga banyak yang memanen cabai muda. Faktor cuaca disebut-sebut membuat hasil panen petani tak maksimal.

Sehingga mereka terpaksa panen dini.  Di samping itu, musim penghujan juga mengakibatkan banyak cabai busuk. ’’Sebenarnya banyak petani cabai rawit yang sudah panen. Tapi karena dikirim ke berbagai daerah, jadi harganya pun harus menyesuaikan,’’ tambah Irawan, salah satu tengkulak cabai rawit di Pasar Tanjung Anyar.

- Advertisement -

Selama ini, Irawan menerima langsung hasil panen cabai rawit dari berbagai daerah. Dari petani, dia mendapat harga Rp 80 ribu per kilogram untuk cabai rawit merah. Sementara itu, cabai rawit muda hanya dihargai Rp 35 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Program Prioritas PEN Digenjot Sejak Awal Tahun

Mahalnya harga cabai rawit juga berdampak pada pelaku usaha kuliner. Mereka harus memutar otak guna menekan biaya produksi yang ikut terkerek. ’’Kalau pedagang lain mungkin memilih stop. Kalau aku mungkin isi kemasannya yang dikurangi,’’ ungkap Ritin Estina, penjual sambal pecel.

Sejak harga cabai naik, ukuran produknya pun ikut dikurangi. Dia mengaku tidak mau menggunakan cabai kering yang banyak dijual dengan harga yang lebih terjangkau. Hal ini dilakukannya guna untuk menjaga kualitas produksinya.

’’Biasanya 100 gram. Kalau kayak gini, isinya tinggal ngurangi tinggal 90 gram atau 80 gram bergantung tingkat kenaikannya,’’ tambahnya. (adi) 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/