alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Tak Tersentuh Subsidi, Pedagang Pasar Menjerit

SEMENTARA itu, pedagang migor di pasar tradisonal menjerit. Itu menyusul subsidi penerapan satu harga minyak goreng Rp 14 ribu per liter hanya berlaku di toko modern. Sehingga, harga migor di pasaran masih Rp 20 ribu.

Seperti diungkapkan Alimin, pedagang migor di Pasar Kedungmaling, Kecamatan Sooko, kemarin (20/1). Subsidi yang diterapkan pemerintah pusat menimbulkan kecemburuan sosial. Bahkan terkesan pilih kasih. ’’Harusnya pemerintah memberikan subsidi minyak goreng kepada agen. Bukan disalurkan langsung ke pasar modern. Karena pembagiannya pasti tidak merata dan akan merugikan produsen-produsen kecil terutama yang berdagang di pasar tradisional,’’ ungkapnya.

Menurutnya, dengan subsidi satu harga minyak goreng Rp 14 ribu per liter itu membuat pedagang di pasar rakyat merugi. Sebab, mereka yang telanjur beli dari produsen dengan harga lebih mahal Rp 18.500 per liter dipastikan tak laku di pasaran. ’’Saya tidak bisa menurunkan harga minyak karena harga minyak sendiri sebenarnya masih mahal. Saya belinya Rp 18.500 per liter masak dijual Rp 14 ribu per liter, rugi dong kita,’’ paparnya.

Baca Juga :  PKU Online Akbar Jawa Timur Sehat, UMKM Kuat

Begitu juga dengan harga minyak curah. Di pasar tradisional masih dibanderol Rp 19.500 per liter. ’’Harga minyak curah 1 drum isi 180 kilogram masih Rp 1,6 juta. Kalau dijual lagi ke pasar sekitar Rp 19.500 ribu per liter, dan minyak kemasan per liter Rp 20 ribu. Keuntungan yang didapat hanya Rp 500 per liter,’’ paparnya.

Pedagang lain, Yoyo, juga mengaku subsidi yang dilakukan pemerintah sebenarnya bagus. Namun, kebijakan itu tidak memihak pada pedagang kecil di pasar tradisional. Seharusnya pemerintah memberlakukan satu harga Rp 14 ribu per liter itu serentak. Baik di toko modern maupun pasar tradisional. ’’Subsidi itu sebenarnya bagus, tapi harusnya tidak hanya ke pengusaha besar, tapi ke pedagang kecil juga sekalian. Biar kulakannya tidak harga lama. Tapi, kalau harga lama dijual harga sekarang (Rp 14 ribu) seperti di toko modern ya ajur,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Harga Cabai di Tingkat Petani Anjlok

Sementara itu, Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati menegaskan, bakal memberi atensi terhadap pedagang di pasar tradisional. Untuk meringankan beban, pemda berencana memberikan subsidi untuk menekan kerugian lantaran belum menjadi prioritas pemerintah pusat dalam penerapan satu harga migor Rp 14 ribu per liter seperti di toko modern. ’’Kita pemerintah daerah akan bantu dengan operasi pasar. Barangkali ada permasalahan ketika para pedagang belinya di atas Rp 14 ribu, otomatis kan mengalami kerugian. Itu nanti kita akan bantu masyarakat di pasar-pasar rakyat dalam beberapa hari ke depan,’’ jelasnya. (tya/ori/abi)

 

SEMENTARA itu, pedagang migor di pasar tradisonal menjerit. Itu menyusul subsidi penerapan satu harga minyak goreng Rp 14 ribu per liter hanya berlaku di toko modern. Sehingga, harga migor di pasaran masih Rp 20 ribu.

Seperti diungkapkan Alimin, pedagang migor di Pasar Kedungmaling, Kecamatan Sooko, kemarin (20/1). Subsidi yang diterapkan pemerintah pusat menimbulkan kecemburuan sosial. Bahkan terkesan pilih kasih. ’’Harusnya pemerintah memberikan subsidi minyak goreng kepada agen. Bukan disalurkan langsung ke pasar modern. Karena pembagiannya pasti tidak merata dan akan merugikan produsen-produsen kecil terutama yang berdagang di pasar tradisional,’’ ungkapnya.

Menurutnya, dengan subsidi satu harga minyak goreng Rp 14 ribu per liter itu membuat pedagang di pasar rakyat merugi. Sebab, mereka yang telanjur beli dari produsen dengan harga lebih mahal Rp 18.500 per liter dipastikan tak laku di pasaran. ’’Saya tidak bisa menurunkan harga minyak karena harga minyak sendiri sebenarnya masih mahal. Saya belinya Rp 18.500 per liter masak dijual Rp 14 ribu per liter, rugi dong kita,’’ paparnya.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Permudah Syarat KUR, Pemerintah Optimalkan Peran UMKM

Begitu juga dengan harga minyak curah. Di pasar tradisional masih dibanderol Rp 19.500 per liter. ’’Harga minyak curah 1 drum isi 180 kilogram masih Rp 1,6 juta. Kalau dijual lagi ke pasar sekitar Rp 19.500 ribu per liter, dan minyak kemasan per liter Rp 20 ribu. Keuntungan yang didapat hanya Rp 500 per liter,’’ paparnya.

Pedagang lain, Yoyo, juga mengaku subsidi yang dilakukan pemerintah sebenarnya bagus. Namun, kebijakan itu tidak memihak pada pedagang kecil di pasar tradisional. Seharusnya pemerintah memberlakukan satu harga Rp 14 ribu per liter itu serentak. Baik di toko modern maupun pasar tradisional. ’’Subsidi itu sebenarnya bagus, tapi harusnya tidak hanya ke pengusaha besar, tapi ke pedagang kecil juga sekalian. Biar kulakannya tidak harga lama. Tapi, kalau harga lama dijual harga sekarang (Rp 14 ribu) seperti di toko modern ya ajur,’’ tegasnya.

Baca Juga :  PKU Online Akbar Jawa Timur Sehat, UMKM Kuat

Sementara itu, Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati menegaskan, bakal memberi atensi terhadap pedagang di pasar tradisional. Untuk meringankan beban, pemda berencana memberikan subsidi untuk menekan kerugian lantaran belum menjadi prioritas pemerintah pusat dalam penerapan satu harga migor Rp 14 ribu per liter seperti di toko modern. ’’Kita pemerintah daerah akan bantu dengan operasi pasar. Barangkali ada permasalahan ketika para pedagang belinya di atas Rp 14 ribu, otomatis kan mengalami kerugian. Itu nanti kita akan bantu masyarakat di pasar-pasar rakyat dalam beberapa hari ke depan,’’ jelasnya. (tya/ori/abi)

- Advertisement -

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/