alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Saturday, June 25, 2022

Wabah PMK Merebak, Harga Daging Naik Transaksi Turun

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) berimbas pada harga jual beli daging sapi di pasar tradisional. Kini harga per kilogramnya tembus Rp 120 ribu dari harga normal Rp 100 ribu per kilogram. Selain itu, penjualan tiap hari para pedagang juga menurun hingga 30 persen.

Hal ini terungkap saat Disperindag Kabupaten Mojokerto melakukan sidak di Pasar Rakyat Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Selasa (17/5). Kepala Disperindag Kabupaten Mojokerto Iwan Abdillah mengatakan, sidak kali ini menjadi atensi pemerintah dalam pengawasan jual beli daging sapi di pasar tradisional.

Selain untuk memastikan ketersediaan daging, juga mengedukasi para pedagang di tengah wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang merebak.

Baca Juga :  Sapi Disuntik Vitamin C

Sebab, wabah PMK yang menyerang ribuan sapi di 18 kecamatan belakangan sedikit banyak pasti berdampak pada jual beli daging di pasar tradisional. ”Terbukti, hasil sidak dari tiga pedagang daging di Pasar Rakyat Kedungmaling, kesemuanya mengaku terjadi penurunan omzet,” ungkapnya.

Menurutnya, sesuai keterangan para pedagang, penurunannya sampai 20 sampai 30 persen. ”Jadi, jika pedagang biasanya bisa menghabiskan daging sampai 100 kilogram dan 120 kilogram, sekarang akibat wabah PMK ini per hari hanya menjual 80 kilogramnya,” paparnya.

Yang menarik, meski ada penurunan konsumen, ternyata harga malah meningkat. Dari harga normal Rp 100 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 120 ribu per kilogram untuk kualitas super.

Baca Juga :  Jaga Kebersihan Agar Tak Tertular

Sejumlah faktor memang jadi pemicu meroketnya harga dan penurunan penjualan tiap harinya ini. Salah satunya, banyak masyarakat yang takut mengkonsumsi daging di tengah wabah PMK.

Alhasil, sejumlah pedagang kuliner, seperti rawon, soto, hingga sate sedikit banyak mengurangi pembelian di pasar. Jika sebelumnya para pedagang kuliner itu berbelanja 5 kilogram per hari, saat ini berkurang menjadi 2 kilogram per hari.

”Memang ini menjadi fenomena baru dengan adanya PMK. Makanya, saat ini kami turun ke pasar-pasar melakukan pemantauan ke para pedagang untuk memastikan ketersediaan dan distribusi daging sapi dari RPH yang dapat pengawasan ketat dari pemerintah. Kami
Sekaligus memastikan daging sapi yang dijual aman dan sehat untuk dikonsumsi,” jelasnya. (ori/fen)

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) berimbas pada harga jual beli daging sapi di pasar tradisional. Kini harga per kilogramnya tembus Rp 120 ribu dari harga normal Rp 100 ribu per kilogram. Selain itu, penjualan tiap hari para pedagang juga menurun hingga 30 persen.

Hal ini terungkap saat Disperindag Kabupaten Mojokerto melakukan sidak di Pasar Rakyat Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Selasa (17/5). Kepala Disperindag Kabupaten Mojokerto Iwan Abdillah mengatakan, sidak kali ini menjadi atensi pemerintah dalam pengawasan jual beli daging sapi di pasar tradisional.

Selain untuk memastikan ketersediaan daging, juga mengedukasi para pedagang di tengah wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang merebak.

Baca Juga :  Andalkan Testimoni Pelanggan

Sebab, wabah PMK yang menyerang ribuan sapi di 18 kecamatan belakangan sedikit banyak pasti berdampak pada jual beli daging di pasar tradisional. ”Terbukti, hasil sidak dari tiga pedagang daging di Pasar Rakyat Kedungmaling, kesemuanya mengaku terjadi penurunan omzet,” ungkapnya.

Menurutnya, sesuai keterangan para pedagang, penurunannya sampai 20 sampai 30 persen. ”Jadi, jika pedagang biasanya bisa menghabiskan daging sampai 100 kilogram dan 120 kilogram, sekarang akibat wabah PMK ini per hari hanya menjual 80 kilogramnya,” paparnya.

Yang menarik, meski ada penurunan konsumen, ternyata harga malah meningkat. Dari harga normal Rp 100 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 120 ribu per kilogram untuk kualitas super.

Baca Juga :  Tingkatkan Produktivitas UMKM, Gelar Bazar Kuliner
- Advertisement -

Sejumlah faktor memang jadi pemicu meroketnya harga dan penurunan penjualan tiap harinya ini. Salah satunya, banyak masyarakat yang takut mengkonsumsi daging di tengah wabah PMK.

Alhasil, sejumlah pedagang kuliner, seperti rawon, soto, hingga sate sedikit banyak mengurangi pembelian di pasar. Jika sebelumnya para pedagang kuliner itu berbelanja 5 kilogram per hari, saat ini berkurang menjadi 2 kilogram per hari.

”Memang ini menjadi fenomena baru dengan adanya PMK. Makanya, saat ini kami turun ke pasar-pasar melakukan pemantauan ke para pedagang untuk memastikan ketersediaan dan distribusi daging sapi dari RPH yang dapat pengawasan ketat dari pemerintah. Kami
Sekaligus memastikan daging sapi yang dijual aman dan sehat untuk dikonsumsi,” jelasnya. (ori/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/