alexametrics
22.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Perajin Tahu Gulung Tikar

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pelaku Industri kecil Menengah (IKM) tahu yang sempat dikunjungi Bupati Ikfina Fahmawati Jumat (7/1) lalu, akhirnya gulung tikar. Warga Dusun Tambaksari, Desa Tambakagung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, ini memilih berhenti produksi akibat mahalnya harga kedelai dan minyak goreng (migor).

’’Pabrik yang dikunjungi bupati  kemarin akhirnya sekarang benar-benar berhenti produksi. Karena tidak kuat beban biaya produksi,’’ ungkap Ketua IKM Kelompok Tahu Berkah Abadi, Desa Tambakagung, Didik Amirudin, kemarin.

Di tengah harga kedelai yang menjadi bahan dasar tahu, sebelum tutup, dia hanya bisa memproduksi 70 kilogram per hari dengan modal Rp 1,3 juta. Dengan pengeluaran itu, perajin hanya menghasilkan 170-180 bungkus tahu yang dijual Rp 8 ribu per kemasan atau total omzet sekitar Rp 1,4 juta. ’’Sisa Rp 100 ribu itu pun kotor, makanya untuk menekan kerugian lebih besar, dia memilih berhenti produksi mulai hari ini, (kemarin),’’ tegasnya.

Baca Juga :  Menko Airlangga : Padi Gogo Solusi agar Lahan Kering Jadi Produktif

Menurutnya, tak hanya satu perajin yang gulung tikar. Di tengah harga kedelai dan migor melambung, sudah ada enam perajin tahu di desanya yang terpuruk. Dua perajin memilih berhenti poduksi, empat anggota lainnya memilih bergabung dalam produksi. Sedangkan lainnya, mengalami kembang kempis. ’’Yang gabungan (merger) itu sudah berlangsung dua bulanan. Ada juga yang berhenti usaha jualannya. Sebelumnya produksi sendiri, terus gabung dan sekarang benar-benar sudah tidak jual lagi,’’ jelasnya.

Disebutnya, pelaku IKM tahu memang cukup tercekik akibat mahalnya kedelai sebagai bahan utama. Dengan harga kedelai Rp 10,5 ribu per kilogram ini sangat memberatkan bagi para IKM. Padahal, idealnya Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu per kilogram.

Pun demikian dengan harga migor. Di pasaran, harganya kian tak terkendali hingga tembus Rp 20 ribu per liter dari sebelumnya Rp 16 ribu per liter. ’’Kalau terus-terusan (harga kedelai dan migor mahal) seperti ini, bakal banyak yang berhenti produksi akibat ada pembengkakan biaya produksi,’’ keluhnya.

Baca Juga :  Digemari Kalangan Artis, Dikagumi Pasar Mancanegara

Keluhan para IKM ini sempat menjadi atensi pemda. Bupati Ikfina Fahmawati bahkan terjun ke lokasi untuk memberikan sejumlah solusi, Jumat (7/1) lalu. Salah satunya, ditawarkan ke para IKM untuk mencarikan pasar yang bisa menjual tahu agar tidak sampai merugi. Hal itu menindaklanjuti surat terbuka para IKM pada pemerintah pusat dan daerah. ’’Insya Allah akan kami tindak lanjuti, pemerintah ikut membantu masalah transportasi atau pun membantu melakukan pemasaran. Sehingga kemudian, meski harga bahan naik, tapi kalau pemasaran bagus, perajin masih bisa produksi dan bisa mendapatkan untung,’’ ungkap Bupati Ikfina saat turun langsung, Jumat (7/1). (ori/ron)

 

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pelaku Industri kecil Menengah (IKM) tahu yang sempat dikunjungi Bupati Ikfina Fahmawati Jumat (7/1) lalu, akhirnya gulung tikar. Warga Dusun Tambaksari, Desa Tambakagung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, ini memilih berhenti produksi akibat mahalnya harga kedelai dan minyak goreng (migor).

’’Pabrik yang dikunjungi bupati  kemarin akhirnya sekarang benar-benar berhenti produksi. Karena tidak kuat beban biaya produksi,’’ ungkap Ketua IKM Kelompok Tahu Berkah Abadi, Desa Tambakagung, Didik Amirudin, kemarin.

Di tengah harga kedelai yang menjadi bahan dasar tahu, sebelum tutup, dia hanya bisa memproduksi 70 kilogram per hari dengan modal Rp 1,3 juta. Dengan pengeluaran itu, perajin hanya menghasilkan 170-180 bungkus tahu yang dijual Rp 8 ribu per kemasan atau total omzet sekitar Rp 1,4 juta. ’’Sisa Rp 100 ribu itu pun kotor, makanya untuk menekan kerugian lebih besar, dia memilih berhenti produksi mulai hari ini, (kemarin),’’ tegasnya.

Baca Juga :  Kemendag Tetapkan 229 Jenis Aset Kripto Yang Aman Diperdagangkan

Menurutnya, tak hanya satu perajin yang gulung tikar. Di tengah harga kedelai dan migor melambung, sudah ada enam perajin tahu di desanya yang terpuruk. Dua perajin memilih berhenti poduksi, empat anggota lainnya memilih bergabung dalam produksi. Sedangkan lainnya, mengalami kembang kempis. ’’Yang gabungan (merger) itu sudah berlangsung dua bulanan. Ada juga yang berhenti usaha jualannya. Sebelumnya produksi sendiri, terus gabung dan sekarang benar-benar sudah tidak jual lagi,’’ jelasnya.

Disebutnya, pelaku IKM tahu memang cukup tercekik akibat mahalnya kedelai sebagai bahan utama. Dengan harga kedelai Rp 10,5 ribu per kilogram ini sangat memberatkan bagi para IKM. Padahal, idealnya Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu per kilogram.

Pun demikian dengan harga migor. Di pasaran, harganya kian tak terkendali hingga tembus Rp 20 ribu per liter dari sebelumnya Rp 16 ribu per liter. ’’Kalau terus-terusan (harga kedelai dan migor mahal) seperti ini, bakal banyak yang berhenti produksi akibat ada pembengkakan biaya produksi,’’ keluhnya.

Baca Juga :  Pemerintah Gencarkan Operasi Pasar
- Advertisement -

Keluhan para IKM ini sempat menjadi atensi pemda. Bupati Ikfina Fahmawati bahkan terjun ke lokasi untuk memberikan sejumlah solusi, Jumat (7/1) lalu. Salah satunya, ditawarkan ke para IKM untuk mencarikan pasar yang bisa menjual tahu agar tidak sampai merugi. Hal itu menindaklanjuti surat terbuka para IKM pada pemerintah pusat dan daerah. ’’Insya Allah akan kami tindak lanjuti, pemerintah ikut membantu masalah transportasi atau pun membantu melakukan pemasaran. Sehingga kemudian, meski harga bahan naik, tapi kalau pemasaran bagus, perajin masih bisa produksi dan bisa mendapatkan untung,’’ ungkap Bupati Ikfina saat turun langsung, Jumat (7/1). (ori/ron)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/