Kamis, 20 Jan 2022
Radar Mojokerto
Home / Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Perajin Tahu Gulung Tikar

Tercekik Harga Kedelai dan Migor

12 Januari 2022, 05: 00: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Perajin Tahu Gulung Tikar

BANGKRUT: Salah satu IKM tahu di Desa Tambakagung, Kecamatan Puri yang telah dikunjungi Bupati Ikfina Fahmawati Jumat (7/1) lalu, akhirnya berhenti produksi. (Khudori Aliandu/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pelaku Industri kecil Menengah (IKM) tahu yang sempat dikunjungi Bupati Ikfina Fahmawati Jumat (7/1) lalu, akhirnya gulung tikar. Warga Dusun Tambaksari, Desa Tambakagung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, ini memilih berhenti produksi akibat mahalnya harga kedelai dan minyak goreng (migor).

’’Pabrik yang dikunjungi bupati  kemarin akhirnya sekarang benar-benar berhenti produksi. Karena tidak kuat beban biaya produksi,’’ ungkap Ketua IKM Kelompok Tahu Berkah Abadi, Desa Tambakagung, Didik Amirudin, kemarin.

Di tengah harga kedelai yang menjadi bahan dasar tahu, sebelum tutup, dia hanya bisa memproduksi 70 kilogram per hari dengan modal Rp 1,3 juta. Dengan pengeluaran itu, perajin hanya menghasilkan 170-180 bungkus tahu yang dijual Rp 8 ribu per kemasan atau total omzet sekitar Rp 1,4 juta. ’’Sisa Rp 100 ribu itu pun kotor, makanya untuk menekan kerugian lebih besar, dia memilih berhenti produksi mulai hari ini, (kemarin),’’ tegasnya.

Baca juga: Pemerintah Wujudkan Pemulihan Ekonomi Berkelanjutan

Menurutnya, tak hanya satu perajin yang gulung tikar. Di tengah harga kedelai dan migor melambung, sudah ada enam perajin tahu di desanya yang terpuruk. Dua perajin memilih berhenti poduksi, empat anggota lainnya memilih bergabung dalam produksi. Sedangkan lainnya, mengalami kembang kempis. ’’Yang gabungan (merger) itu sudah berlangsung dua bulanan. Ada juga yang berhenti usaha jualannya. Sebelumnya produksi sendiri, terus gabung dan sekarang benar-benar sudah tidak jual lagi,’’ jelasnya.

Disebutnya, pelaku IKM tahu memang cukup tercekik akibat mahalnya kedelai sebagai bahan utama. Dengan harga kedelai Rp 10,5 ribu per kilogram ini sangat memberatkan bagi para IKM. Padahal, idealnya Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu per kilogram.

Pun demikian dengan harga migor. Di pasaran, harganya kian tak terkendali hingga tembus Rp 20 ribu per liter dari sebelumnya Rp 16 ribu per liter. ’’Kalau terus-terusan (harga kedelai dan migor mahal) seperti ini, bakal banyak yang berhenti produksi akibat ada pembengkakan biaya produksi,’’ keluhnya.

Keluhan para IKM ini sempat menjadi atensi pemda. Bupati Ikfina Fahmawati bahkan terjun ke lokasi untuk memberikan sejumlah solusi, Jumat (7/1) lalu. Salah satunya, ditawarkan ke para IKM untuk mencarikan pasar yang bisa menjual tahu agar tidak sampai merugi. Hal itu menindaklanjuti surat terbuka para IKM pada pemerintah pusat dan daerah. ’’Insya Allah akan kami tindak lanjuti, pemerintah ikut membantu masalah transportasi atau pun membantu melakukan pemasaran. Sehingga kemudian, meski harga bahan naik, tapi kalau pemasaran bagus, perajin masih bisa produksi dan bisa mendapatkan untung,’’ ungkap Bupati Ikfina saat turun langsung, Jumat (7/1). (ori/ron)

(mj/ori/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia