alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Saturday, August 13, 2022

Harga Komoditas Bumbu Dapur di Mojokerto Melambung, Daya Beli Menurun

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Mendekati Hari Raya Idul Adha, mahalnya harga sejumlah bahan pokok dan komoditas bumbu dapur sepertinya masih sulit untuk turun. Meski ketersediaan stok relatif aman, namun kondisi tersebut berdampak pada merosotnya daya beli masyarakat.

Hal itu diketahui dari hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Pemkot Mojokerto di sejumlah pasar tradisional, Rabu (6/7). Di Pasar Tanjung Anyar misalnya, sejumlah harga komoditas bahan pokok masih bertahan dengan harga tinggi. ”Hasil cek di lapangan cabai kecil, cabai merah, bawang merah itu mengalami kenaikan harga. Tapi selebihnya relatif stabil,” terang Sekadakot Gaguk Prasetyo di sela sidak, kemarin.

Melambungnya harga ketiga komoditas tersebut terjadi secara bertahap sejak dua bulan terakhir. Namun, kenaikan harga semakin signifikan mendekati Hari Raya Idul Adha. Di antaranya yang cukup drastis adalah bawang merah dari harga normal Rp 35 ribu per kilogram (kg) naik hampir dua kali lipat menjadi Rp 60 ribu per kg.

Baca Juga :  Peternak Ayam Keluhkan Biaya Vaksin Flu Burung

Demikian dengan harga cabai merah dari semula Rp 60 ribu per kg kini nangkring pada angka Rp 90 ribu per kg. Sedangkan cabai rawit yang masih ogah turun dengan banderol Rp 100 ribu per kg.

Gaguk menyebut, melambungnya harga sejumlah komoditas bumbu dapur itu bukan disebabkan karena stok yang terbatas. Tetapi, pedagang yang biasanya mendapat pasokan barang dari Tuban dan Blitar, kini harus mendapatkannya dari Banyuwangi. ”Mengambil ke daerah lain yang lebih jauh ini kan berdampak pada transportasinya. Tapi ini salah satu indikasi untuk cabai merah,” tandasnya.

Disebutkannya, pengecekkan harga dan ketersediaan bahan pokok masih akan terus digulirkan secara periodik. Di samping untuk mengetahui faktor kenaikan harga, hasil monitoring juga sebagai dasar untuk melakukan upaya untuk menstabilkan harga. ”Pengecekan akan berlanjutkan lagi untuk mendapatkan data yang komprehensif. Sehingga kita bisa menganalisa, apa sebenarnya yang menyebabkan kenaikan harga ini,” tandasnya.

Baca Juga :  Empat Motor Wisatawan Ngeblong di Jalur Pacet-Cangar, Mojokerto

Sementara itu, masih meroketnya harga sejumlah bahan pangan dikeluhkan pedagang. Pasalnya, meski stok melimpah, namun tingkat daya beli masyarakat merosot tajam. ”Sangat drastis, (turun) sampai 75 persen lah,” sambung Tria pedagang di Pasar Tanjung Anyar.

Terpisah, Dewi, salah satu pembeli di pasar Tanjung Anyar juga merasakan dampak melambungnya harga bahan pokok. Karena biaya untuk kebutuhan dapur sehari-hari menjadi membengkak. Jika rata-rata menghabiskan Rp 500 ribu untuk berbelanja seminggu, kini dia harus merogoh sekitar Rp 700 ribu agar dapur tetap ngebul. ”Lebih membengkak, karena harga bumbu semakin tinggi,” keluhnya. (ram/ron)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Mendekati Hari Raya Idul Adha, mahalnya harga sejumlah bahan pokok dan komoditas bumbu dapur sepertinya masih sulit untuk turun. Meski ketersediaan stok relatif aman, namun kondisi tersebut berdampak pada merosotnya daya beli masyarakat.

Hal itu diketahui dari hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Pemkot Mojokerto di sejumlah pasar tradisional, Rabu (6/7). Di Pasar Tanjung Anyar misalnya, sejumlah harga komoditas bahan pokok masih bertahan dengan harga tinggi. ”Hasil cek di lapangan cabai kecil, cabai merah, bawang merah itu mengalami kenaikan harga. Tapi selebihnya relatif stabil,” terang Sekadakot Gaguk Prasetyo di sela sidak, kemarin.

Melambungnya harga ketiga komoditas tersebut terjadi secara bertahap sejak dua bulan terakhir. Namun, kenaikan harga semakin signifikan mendekati Hari Raya Idul Adha. Di antaranya yang cukup drastis adalah bawang merah dari harga normal Rp 35 ribu per kilogram (kg) naik hampir dua kali lipat menjadi Rp 60 ribu per kg.

Baca Juga :  Tekan Angka Korupsi, Ning Ita Launching Rejo Anguripi

Demikian dengan harga cabai merah dari semula Rp 60 ribu per kg kini nangkring pada angka Rp 90 ribu per kg. Sedangkan cabai rawit yang masih ogah turun dengan banderol Rp 100 ribu per kg.

Gaguk menyebut, melambungnya harga sejumlah komoditas bumbu dapur itu bukan disebabkan karena stok yang terbatas. Tetapi, pedagang yang biasanya mendapat pasokan barang dari Tuban dan Blitar, kini harus mendapatkannya dari Banyuwangi. ”Mengambil ke daerah lain yang lebih jauh ini kan berdampak pada transportasinya. Tapi ini salah satu indikasi untuk cabai merah,” tandasnya.

Disebutkannya, pengecekkan harga dan ketersediaan bahan pokok masih akan terus digulirkan secara periodik. Di samping untuk mengetahui faktor kenaikan harga, hasil monitoring juga sebagai dasar untuk melakukan upaya untuk menstabilkan harga. ”Pengecekan akan berlanjutkan lagi untuk mendapatkan data yang komprehensif. Sehingga kita bisa menganalisa, apa sebenarnya yang menyebabkan kenaikan harga ini,” tandasnya.

Baca Juga :  Wamendag: Revitalisasi Pasar Rakyat Dukung Pemulihan Ekonomi Nasional
- Advertisement -

Sementara itu, masih meroketnya harga sejumlah bahan pangan dikeluhkan pedagang. Pasalnya, meski stok melimpah, namun tingkat daya beli masyarakat merosot tajam. ”Sangat drastis, (turun) sampai 75 persen lah,” sambung Tria pedagang di Pasar Tanjung Anyar.

Terpisah, Dewi, salah satu pembeli di pasar Tanjung Anyar juga merasakan dampak melambungnya harga bahan pokok. Karena biaya untuk kebutuhan dapur sehari-hari menjadi membengkak. Jika rata-rata menghabiskan Rp 500 ribu untuk berbelanja seminggu, kini dia harus merogoh sekitar Rp 700 ribu agar dapur tetap ngebul. ”Lebih membengkak, karena harga bumbu semakin tinggi,” keluhnya. (ram/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/