alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Satgas Pangan Waspadai Telur HE

Peluang Perederan Besar Seiring Harga Melambung

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Memasuki Ramadan, Satgas Pangan Kabupaten Mojokerto mulai mewaspadai peredaran telur hatched egg (HE) di pasaran. Apalagi, harga telur belakangan juga melambung capai Rp 26 ribu per kilogram di tingkat konsumen.

Kabid Ketersediaan dan Distribusi Pangan Dinas Pangan dan Perikanan (Dispari) Kabupaten Mojokerto, Rofi Roza, mengatakan, peredaran telur HE atau lebih dikenal breeding memang jadi pantauan satgas pangan. Apalagi di tengah harga telur yang cukup mahal sekarang ini. Yakni, mencapai Rp 26 ribu per kilogram dari harga normal Rp 19 ribu. ’’Pas puasa begini biasanya (telur HE) keluar, karena ada celah cuan. Makanya saya sosialisasikan, barangkali ada yang tahu, bisa langsung lapor ke kami untuk kami liat bersama satgas pangan. Apalagi harga telur di tingkat konsumen juga mahal, sudah Rp 26 ribu per kilogram,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Ekonomi Hijau dan Penerapan Environmental, Social, and Governance

Sebagai evaluasi tahun lalu, telur breeding ini pernah dijual di sejumlah titik di Mojokerto. Salah satunya yang pernah didapati di kawasan Mojosari. Untuk itu, sejumlah titik yang perlu diwaspadai sudah dalam pantauan dispari untuk mencegah peredaran di Mojokerto. Sebab larangan peredaran telur HE ini sudah diatur dalam Permentan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Sesuai pasal 13 ayat 4, disebutkan, Pelaku Usaha Integrasi, Pembibit GPS, Pembibit PS, Pelaku Usaha Mandiri, dan Koperasi dilarang memperjualbelikan Telur Tertunas dan infertil sebagai Telur Konsumsi. ’’Berhubung telur itu infertil, tidak subur, tapi sudah ada bibit untuk jadi anak ayam, tidak bisa menetas, harusnya dibuang. Tapi, ada oknum yang menangkap peluang cuan, kadang dijual lebih murah, kadang dicampur dengan telur konsumsi. Produk telur HE cukup banyak karena breeding, perusahaan skala besar,’’ paparnya.

Baca Juga :  Harga Telur Merangkak Naik

Sehingga, secara tidak langsung jika dikonsumsi, telur itu tidak baik untuk kesehatan. ’’Tidak aman kalau dikonsumsi. Akan berdampak pada kesehatan, makanya ini masuk atensi dalam ranah keamanan pangan,’’ jelasnya.

Sebagai pengawasan, dalam waktu dekat pihaknya bersama tim satgas pangan bakal melakukan monitoring ke lapangan. Baik di pasar tradisional maupun penjualan telur yang kadang berada di pinggir jalan di atas pikap. Masyarakat dituntut waspada terkait peredarannya. Selain itu juga harus mengenali cirri-cirinya. ’’Dari fisiknya sudah kelihatan. Warna kulit terlalu terang dan ukuran lebih besar dari telur yang bisa dikonsumsi,’’ tegasnya. (ori/abi)

Peluang Perederan Besar Seiring Harga Melambung

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Memasuki Ramadan, Satgas Pangan Kabupaten Mojokerto mulai mewaspadai peredaran telur hatched egg (HE) di pasaran. Apalagi, harga telur belakangan juga melambung capai Rp 26 ribu per kilogram di tingkat konsumen.

Kabid Ketersediaan dan Distribusi Pangan Dinas Pangan dan Perikanan (Dispari) Kabupaten Mojokerto, Rofi Roza, mengatakan, peredaran telur HE atau lebih dikenal breeding memang jadi pantauan satgas pangan. Apalagi di tengah harga telur yang cukup mahal sekarang ini. Yakni, mencapai Rp 26 ribu per kilogram dari harga normal Rp 19 ribu. ’’Pas puasa begini biasanya (telur HE) keluar, karena ada celah cuan. Makanya saya sosialisasikan, barangkali ada yang tahu, bisa langsung lapor ke kami untuk kami liat bersama satgas pangan. Apalagi harga telur di tingkat konsumen juga mahal, sudah Rp 26 ribu per kilogram,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Gemah Ripah Loh Jinawi di Utara Sungai

Sebagai evaluasi tahun lalu, telur breeding ini pernah dijual di sejumlah titik di Mojokerto. Salah satunya yang pernah didapati di kawasan Mojosari. Untuk itu, sejumlah titik yang perlu diwaspadai sudah dalam pantauan dispari untuk mencegah peredaran di Mojokerto. Sebab larangan peredaran telur HE ini sudah diatur dalam Permentan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Sesuai pasal 13 ayat 4, disebutkan, Pelaku Usaha Integrasi, Pembibit GPS, Pembibit PS, Pelaku Usaha Mandiri, dan Koperasi dilarang memperjualbelikan Telur Tertunas dan infertil sebagai Telur Konsumsi. ’’Berhubung telur itu infertil, tidak subur, tapi sudah ada bibit untuk jadi anak ayam, tidak bisa menetas, harusnya dibuang. Tapi, ada oknum yang menangkap peluang cuan, kadang dijual lebih murah, kadang dicampur dengan telur konsumsi. Produk telur HE cukup banyak karena breeding, perusahaan skala besar,’’ paparnya.

Baca Juga :  Dukung UMKM Tingkatan Potensi Ekonomi Digital

Sehingga, secara tidak langsung jika dikonsumsi, telur itu tidak baik untuk kesehatan. ’’Tidak aman kalau dikonsumsi. Akan berdampak pada kesehatan, makanya ini masuk atensi dalam ranah keamanan pangan,’’ jelasnya.

- Advertisement -

Sebagai pengawasan, dalam waktu dekat pihaknya bersama tim satgas pangan bakal melakukan monitoring ke lapangan. Baik di pasar tradisional maupun penjualan telur yang kadang berada di pinggir jalan di atas pikap. Masyarakat dituntut waspada terkait peredarannya. Selain itu juga harus mengenali cirri-cirinya. ’’Dari fisiknya sudah kelihatan. Warna kulit terlalu terang dan ukuran lebih besar dari telur yang bisa dikonsumsi,’’ tegasnya. (ori/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/