alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Monday, August 15, 2022

Lima Bulan, Tiga Pertamini di Kabupaten Mojokerto Dijilat Si Jago Merah

Disperindag Bakal Koordinasi dengan Pertamina

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Menjamurnya penjualan BBM berlabel Pertamini di Kabupaten Mojokerto, menimbulkan sejumlah persoalan. Terhitung, sejak lima bulan terakhir, tiga Pertamini di Kabupaten Mojokerto terbakar dan mengakibatkan enam orang terluka.

Menyikapi hal ini, pemda bakal berkoordinasi dengan PT. Pertamina Patra Niaga untuk mengurai persoalan ini. Apalagi, tahun ini sudah tiga kali Pertamini terbakar karena standarisasi keamanannya tak terjamin.

Kepala Disperindag Kabupaten Mojokerto Iwan Abdillah mengatakan, Pertamini memang menjadi salah satu ekonomi kreatif yang bermunculan hingga pelosok desa. Namun, di sisi lain, bisnis ini tak sesuai aturan. ’’Aspek keamanan penampungan BBM-nya juga mengkhawatirkan. Jangan sampai Pertamini ini malah jadi bom waktu yang malah membahayakan bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain,’’ ungkapnya.

Sesuai data yang dihimpun, di tahun berjalan, peristiwa kebakaran yang menimpa pom mini ini sudah tiga kali terjadi. Kali pertama terjadi di Jalan Raya Dusun Jatisari, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo awal Maret lalu. Akibatnya, satu orang harus dilarikan ke rumah sakit akibat luka bakar dan satu rumah hangus dilalap api. Peristiwa nahas ini terjadi saat pemiliknya tengah melayani pembeli.

Baca Juga :  Harga Migor Masih Mahal

Selanjutnya, peristiwa kembali terjadi pada April di Dusun/Desa dinoyo, Kecamatan Jatorejo. Kebakaran dipicu udara panas dari dapur rumah korban yang menimbulkan api di drum penyimpan pertalite. Selain mengakibatkan rumah sekaligus pom mini ludes dilalap api, kobaran api turut menimbulkan tiga korban luka bakar ringan dan satu korban luka bakar serius.

Terakhir, Minggu (31/7), di Dusun Jetak, Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro. Kebakaran yang terjadi saat pemilik pom minim ngetap dari mobilnya ke jerigen Pertamini itu juga mengakibatkan satu korban tersulut api hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit. ’’Artinya, itu kan sebenarnya sudah menjadi peringatan bagi para pelaku usaha Pertamini, jika standarisasi keamanan dan keselamatannya tak terjamin,’’ terangnya.

Sesuai penelitian dan pengujian terhadap unit pompa ukur di Pertamini yang dilakukan direktorat Metrologi hasilnya juga tidak sesuai ketentuan yang berlaku. Hal itu berdasarkan surat Dirjen Standarisasai dan Perlindungan Konsumen yang diterima diseperindag sebelumnya. Hanya saja, mesli tak mempunyai legalitas, pihaknya perlu melakukan koordinasi lintas OPD untuk melakukan penertibannya.

Baca Juga :  Korban Mutilasi di Kabupaten Semarang Dipotong Jadi 11 Bagian

Termasuk, berkoordinasi dengan Patra Niaga yang ada di wilayahnya. Selain berkaitan dengan penegakan aturan, keberadaan pom mini juga sudah cukup menjamur di Bumi Majapahit. ’’Perlu koordinasi lebih intensif dengan lintas sektoral sebelum akhirnya pemda ambil langkah agar kondusivitas tetap terjaga,’’ tegasnya.

Sesuai petunjuk Dirjen Standarisasai dan Perlindungan Konsumen, disperindag juga diminta mengimbau pemilik Pertamini untuk mengurus perizinan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan BPH Migas. ’’Sesuai petunjuk, disperindag juga tidak boleh melakukan uji tera karena alat ukur Pertamini tidak termasuk lingkup Metrologi legal dan berpotensi merugikan konsumen,’’ tandasnya.

Iwan menyebut, Pertamini ini bukan unit bisnis langsung Pertamina selaku distributor tunggal bahan bakar. Mereka yang menjual bahan bakar dari Pertamini juga kerap membeli BBM bersubsidi menggunakan jeriken hingga tangki mobil di SPBU. Sebelumnya, peristiwa kebakaran yang seringkali menerpa bisnis penjualan BBM eceran berlabel Pertamini, membuat pemerintah daerah prihatin. Karena, selain nihilnya legalitas, standarisasi keamanan, teknis, hingga alat ukur juga tak jelas. (ori/ron)

Disperindag Bakal Koordinasi dengan Pertamina

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Menjamurnya penjualan BBM berlabel Pertamini di Kabupaten Mojokerto, menimbulkan sejumlah persoalan. Terhitung, sejak lima bulan terakhir, tiga Pertamini di Kabupaten Mojokerto terbakar dan mengakibatkan enam orang terluka.

Menyikapi hal ini, pemda bakal berkoordinasi dengan PT. Pertamina Patra Niaga untuk mengurai persoalan ini. Apalagi, tahun ini sudah tiga kali Pertamini terbakar karena standarisasi keamanannya tak terjamin.

Kepala Disperindag Kabupaten Mojokerto Iwan Abdillah mengatakan, Pertamini memang menjadi salah satu ekonomi kreatif yang bermunculan hingga pelosok desa. Namun, di sisi lain, bisnis ini tak sesuai aturan. ’’Aspek keamanan penampungan BBM-nya juga mengkhawatirkan. Jangan sampai Pertamini ini malah jadi bom waktu yang malah membahayakan bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain,’’ ungkapnya.

Sesuai data yang dihimpun, di tahun berjalan, peristiwa kebakaran yang menimpa pom mini ini sudah tiga kali terjadi. Kali pertama terjadi di Jalan Raya Dusun Jatisari, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo awal Maret lalu. Akibatnya, satu orang harus dilarikan ke rumah sakit akibat luka bakar dan satu rumah hangus dilalap api. Peristiwa nahas ini terjadi saat pemiliknya tengah melayani pembeli.

Baca Juga :  MPLS SDN Gedongan 3, Bangkitkan Konsentrasi dengan Tepuk Semangat

Selanjutnya, peristiwa kembali terjadi pada April di Dusun/Desa dinoyo, Kecamatan Jatorejo. Kebakaran dipicu udara panas dari dapur rumah korban yang menimbulkan api di drum penyimpan pertalite. Selain mengakibatkan rumah sekaligus pom mini ludes dilalap api, kobaran api turut menimbulkan tiga korban luka bakar ringan dan satu korban luka bakar serius.

- Advertisement -

Terakhir, Minggu (31/7), di Dusun Jetak, Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro. Kebakaran yang terjadi saat pemilik pom minim ngetap dari mobilnya ke jerigen Pertamini itu juga mengakibatkan satu korban tersulut api hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit. ’’Artinya, itu kan sebenarnya sudah menjadi peringatan bagi para pelaku usaha Pertamini, jika standarisasi keamanan dan keselamatannya tak terjamin,’’ terangnya.

Sesuai penelitian dan pengujian terhadap unit pompa ukur di Pertamini yang dilakukan direktorat Metrologi hasilnya juga tidak sesuai ketentuan yang berlaku. Hal itu berdasarkan surat Dirjen Standarisasai dan Perlindungan Konsumen yang diterima diseperindag sebelumnya. Hanya saja, mesli tak mempunyai legalitas, pihaknya perlu melakukan koordinasi lintas OPD untuk melakukan penertibannya.

Baca Juga :  Ratusan Warga Luruk Balai Desa Gunungan, Dawarblandong, Mojokerto. Ada Apa?

Termasuk, berkoordinasi dengan Patra Niaga yang ada di wilayahnya. Selain berkaitan dengan penegakan aturan, keberadaan pom mini juga sudah cukup menjamur di Bumi Majapahit. ’’Perlu koordinasi lebih intensif dengan lintas sektoral sebelum akhirnya pemda ambil langkah agar kondusivitas tetap terjaga,’’ tegasnya.

Sesuai petunjuk Dirjen Standarisasai dan Perlindungan Konsumen, disperindag juga diminta mengimbau pemilik Pertamini untuk mengurus perizinan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan BPH Migas. ’’Sesuai petunjuk, disperindag juga tidak boleh melakukan uji tera karena alat ukur Pertamini tidak termasuk lingkup Metrologi legal dan berpotensi merugikan konsumen,’’ tandasnya.

Iwan menyebut, Pertamini ini bukan unit bisnis langsung Pertamina selaku distributor tunggal bahan bakar. Mereka yang menjual bahan bakar dari Pertamini juga kerap membeli BBM bersubsidi menggunakan jeriken hingga tangki mobil di SPBU. Sebelumnya, peristiwa kebakaran yang seringkali menerpa bisnis penjualan BBM eceran berlabel Pertamini, membuat pemerintah daerah prihatin. Karena, selain nihilnya legalitas, standarisasi keamanan, teknis, hingga alat ukur juga tak jelas. (ori/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/