alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Harga Gula Berangsur Turun, Daya Beli Turun dan Stok Barang Melimpah

KOTA-KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Harga gula yang sempat tembus Rp 20 ribu per kilogram, bekalangan berangsur turun. Di pasaran, harga gula pasir kini dibanderol Rp 16-17 ribu per kilogram.

Penurunan tersebut menyusul menurunnya daya beli masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Meski mengalami penurunan Rp 3 ribu lebih, harga itu masih lebih mahal dari harga eceran tertinggi (HET) gula Rp 12.500 per kilogram.

Yakni, berdasarkan Permendag Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan. ’’Iya, harga gula sekarang sudah turun menjadi Rp 17 ribu per kilogram,’’ ungkap Hardiyan, salah satu pedagang Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto kemarin.

Menurutnya, penuruan harga ini sudah berlangsung sepekan lebih. Secara bertahap. Mulai 18.000 per kilogram dari harga sebelumnya Rp 18.500. Hingga sekarang dibanderol Rp 17.000 dari sebelumnya Rp 17.500 per kilogram untuk di pasaran.

Baca Juga :  Kemendag: Bukti Nyata Pemerintah Dukung UMKM Go Global

’’Jadi, turunnya berangsur. Kadang Rp 500 dalam sehari. Kadang juga dua hari baru turun. Tidak pasti,’’ terangnya. Hardiyan mengaku merosotnya harga gula ini memang banyak faktor. Salah satunya karena terjadi penurunan daya beli masyarakat. Terbukti, dari kapasitas 1 kuintal gula di lapaknya, baru habis dua sampai tiga minggu.

Hal itu berbeda sebelum pandemi. Gula 1 kuintal sudah habis dalam seminggu. Bahkan, kalau ramai seperti bulan Ramadan bisa habis sebelum seminggu. ’’Tapi Ramadan tahun ini berbeda. Daya beli masyarakat menurun. Ya otomatis berpengaruh dengan menurunnya omzet juga,’’ jelasnya.

Selain daya beli menurun, stok gula di pasaran juga melimpah. Hal itu juga menjadi salah satu pemicu turunnya harga gula pasir. Termasuk, operasi pasar yang dilakukan pemerintah baru-baru ini. ’’Semua pedagang pada mengeluh lesu karena terjadi penurunan pembeli. Pasar tak ramai lagi karena adanya virus,’’ pungkasnya.

Baca Juga :  Wajah Perekonomian Kabupaten Mojokerto

Dari penelusuran Jawa Pos Radar Mojokerto, penurunan harga gula ini hampir merata di semua daerah. Bahkan, harga di pasaran di wilayah Kabupaten Mojokerto, harga gula ini dibanderol Rp 16.250 per kilogram.

Angka itu turun Rp 4 ribu dari harga sebelumnya yang sempat tembus Rp 20 ribu di toko kelontong awal April lalu. ’’Sekarang Rp 16.000 sampai 16.500 per kilogram. Sudah turun beberapa hari lalu,’’ ungkap Heru, salah satu pedagang di wilayah Jetis.

Meski turun, harga gula ini memang masih melampaui HET gula berdasarkan Permendag Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan. Yakni, Rp 12.500 per kilogram. Tingginya harga gula belakangan sempat membuat pemerintah keheranan. Selain karena tak ada kelangkaan, stok gula di pasaran juga melimpah. (abi)

 

KOTA-KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Harga gula yang sempat tembus Rp 20 ribu per kilogram, bekalangan berangsur turun. Di pasaran, harga gula pasir kini dibanderol Rp 16-17 ribu per kilogram.

Penurunan tersebut menyusul menurunnya daya beli masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Meski mengalami penurunan Rp 3 ribu lebih, harga itu masih lebih mahal dari harga eceran tertinggi (HET) gula Rp 12.500 per kilogram.

Yakni, berdasarkan Permendag Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan. ’’Iya, harga gula sekarang sudah turun menjadi Rp 17 ribu per kilogram,’’ ungkap Hardiyan, salah satu pedagang Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto kemarin.

Menurutnya, penuruan harga ini sudah berlangsung sepekan lebih. Secara bertahap. Mulai 18.000 per kilogram dari harga sebelumnya Rp 18.500. Hingga sekarang dibanderol Rp 17.000 dari sebelumnya Rp 17.500 per kilogram untuk di pasaran.

Baca Juga :  Digitalisasi, Kesempatan Emas bagi Pemuda Indonesia Saat New Normal

’’Jadi, turunnya berangsur. Kadang Rp 500 dalam sehari. Kadang juga dua hari baru turun. Tidak pasti,’’ terangnya. Hardiyan mengaku merosotnya harga gula ini memang banyak faktor. Salah satunya karena terjadi penurunan daya beli masyarakat. Terbukti, dari kapasitas 1 kuintal gula di lapaknya, baru habis dua sampai tiga minggu.

Hal itu berbeda sebelum pandemi. Gula 1 kuintal sudah habis dalam seminggu. Bahkan, kalau ramai seperti bulan Ramadan bisa habis sebelum seminggu. ’’Tapi Ramadan tahun ini berbeda. Daya beli masyarakat menurun. Ya otomatis berpengaruh dengan menurunnya omzet juga,’’ jelasnya.

- Advertisement -

Selain daya beli menurun, stok gula di pasaran juga melimpah. Hal itu juga menjadi salah satu pemicu turunnya harga gula pasir. Termasuk, operasi pasar yang dilakukan pemerintah baru-baru ini. ’’Semua pedagang pada mengeluh lesu karena terjadi penurunan pembeli. Pasar tak ramai lagi karena adanya virus,’’ pungkasnya.

Baca Juga :  PLN-Vendor Konstruksi Berkolaborasi Mempercepat Penyambungan Sementara

Dari penelusuran Jawa Pos Radar Mojokerto, penurunan harga gula ini hampir merata di semua daerah. Bahkan, harga di pasaran di wilayah Kabupaten Mojokerto, harga gula ini dibanderol Rp 16.250 per kilogram.

Angka itu turun Rp 4 ribu dari harga sebelumnya yang sempat tembus Rp 20 ribu di toko kelontong awal April lalu. ’’Sekarang Rp 16.000 sampai 16.500 per kilogram. Sudah turun beberapa hari lalu,’’ ungkap Heru, salah satu pedagang di wilayah Jetis.

Meski turun, harga gula ini memang masih melampaui HET gula berdasarkan Permendag Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan. Yakni, Rp 12.500 per kilogram. Tingginya harga gula belakangan sempat membuat pemerintah keheranan. Selain karena tak ada kelangkaan, stok gula di pasaran juga melimpah. (abi)

 

Artikel Terkait

Most Read

Ritual Baridin

Mojosari Putra FC Tunda Euforia

Artikel Terbaru


/