25.8 C
Mojokerto
Saturday, December 3, 2022

Harga Cabai Rawit di Kota Mojokerto Tembus Rp 35 Ribu per Kilogram

Dalam Sehari Bisa Naik Rp 10 Ribu Per Kg

MOJOKERTO – Musim hujan dan cuaca ekstrem yang terjadi di beberapa wilayah belakangan ini, termasuk daerah produsen cabai rawit, mengakibatkan harga cabai rawit di pasaran meroket. Sejak Senin (14/11), harga si pedas tersebut telah menembus angka Rp 35 ribu dari sebelumnya di kisaran Rp 23 ribu hingga Rp 24 ribu per kilogram.

Hal ini mengakibatkan penurunan permintaan. Baik di tingkat pedagang eceran maupun grosir mengalami penurunan. ”Sekarang naik menjadi Rp 35 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp 25 ribu per kilogram. Naiknya sekitar Rp 10 ribu per kilogram. Ya, mungkin karena faktor cuaca,” ungkap Inayah, pedagang cabai di Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto, Selasa (15/11).

Baca Juga :  Digemari Kalangan Artis, Dikagumi Pasar Mancanegara

Hal yang sama dirasakan pedagang lainnya, Suyut. Dia mengungkapkan, kenaikan harga cabai ini cenderung disebabkan oleh faktor cuaca dan terbatasnya barang di tingkat petanu. Di mana, daerah pengirim cabai hasil panen yang didapat tidak maksimal. ”Tapi kalau naik begini yang untung ya petani. Kalau kita sebagai pedagang, istilah cepat habis,” papar dia.

MERANGKAK: Pedagang cabai rawit di Pasar Tanjung Ayar Kota Mojokerto, saat melayani pembeli, Selasa (15/12).

Memang, proses pengiriman cabai di pasar tradisional terbesar di Kota Mojokerto, sejauh ini tidak tersendat. Hanya saja, baik pedagang maupun grosir cabai rawit seketika merasakan kenaikan harga yang cenderung mendadak.
”Istilahnya, petikan atau petani panen itu berkurang,” jelas Gunawan, grosir cabai. Dia menegaskan, seiring kenaikan harga cabai tersebut, pihaknya kini menjual di harga Rp 24 ribu per kilogram. Dari sebelumnya Rp 18 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Pedagang Migor Pasar Tradisional Gigit Jari

Gunawan menambahkan, kenaikan tersebut memang dipicu oleh faktor cuaca. Di beberapa daerah penghasil cabai, para petani tidak bisa menikmati hasil maksimal lantaran lahan pertanian cabai mereka terendam. Seperti di kawasan Jombang, Nganjuk, dan Probolinggo. ”Selain itu, ada serangan hama pethek juga menyerang hasil pertanian,” kata dia.

Akibat kondisi ini, suplai barang kepada agen atau pedagang cabai mengalami penurunan hingga 20 persen. ”Kenaikan harga itu karena kebutuhan tidak terpenuhi, sehingga jadi naik. Bukan (harga, Red) yang dinaikkan. Sebab, di petaninya sudah naik,” tandas Gunawan yang biasa menghabiskan cabai rawit dari 8 kuintal hingga 1 ton per harinya. (dar)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/