JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Indonesia diperkirakan akan menghadapi musim kemarau yang cukup panjang pada tahun 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa musim kemarau tahun ini datang lebih cepat di beberapa wilayah dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.
Situasi tersebut berkaitan dengan perubahan pola iklim global, termasuk kemungkinan munculnya fenomena El Nino yang dapat menyebabkan berkurangnya curah hujan dan meningkatnya suhu udara di beberapa daerah Indonesia.
Menurut perkiraan BMKG, musim kemarau biasanya terjadi secara bertahap sejak sekitar bulan April. Wilayah yang lebih dulu merasakannya adalah kawasan Nusa Tenggara, lalu diikuti daerah lain seperti Jawa, Bali, sebagian Sumatra, dan Kalimantan.
Puncak musim kemarau umumnya terjadi pada bulan Juli hingga Agustus, yaitu saat curah hujan berada pada titik paling rendah. Di periode tersebut, cuaca cenderung lebih panas dan kering dan berpotensi mempengaruhi berbagai aktivitas masyarakat.
Salah satu sektor yang paling terdampak oleh kemarau panjang adalah sektor pertanian. Saat hujan jarang turun, ketersediaan air untuk mengairi sawah dan ladang menjadi sangat terbatas.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan tanaman seperti padi, jagung, dan kedelai sulit tumbuh dengan baik. Jika kekurangan air terjadi dalam waktu lama, petani dapat mengalami penurunan hasil panen hingga gagal panen.
Dengan cuaca yang panas dan kering juga dapat memicu meningkatnya serangan hama tanaman. Jadi, petani biasanya disarankan menyesuaikan jadwal tanam dan memanfaatkan sistem irigasi yang lebih efisien agar penggunaan air dapat lebih hemat.
Kemarau panjang juga dapat berdampak pada ketersediaan air bersih untuk masyarakat. Di beberapa daerah, sumber air seperti sungai, waduk, dan sumur sering mengalami penurunan debit ketika hujan jarang turun.
Jika kondisi tersebut berlangsung lama, masyarakat dapat mengalami kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak, mandi, dan mencuci.
Jadi, pemerintah daerah biasanya menyiapkan langkah darurat, misalnya dengan menyalurkan bantuan air bersih, mengatur penggunaan air, serta membangun atau memperbaiki fasilitas penampungan air.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Harga Cabai di Kota Mojokerto Kian Meroket, Begini Pantauan Tim Satgas Pangan
Selain musim kemarau sering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Tanah yang cenderung lebih kering dan vegetasi yang mudah terbakar membuat api lebih cepat menyebar.
Kebakaran hutan tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menimbulkan kabut asap yang berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat dan mengganggu aktivitas transportasi.
Langkah yang dapat mengurangi dampak kemarau panjang, pemerintah mulai melakukan berbagai langkah antisipasi sejak dini. Contohnya yaitu meningkatkan pemantauan kondisi cuaca, memperbaiki pengelolaan sumber daya air, dan memberikan informasi kepada masyarakat tentang cara menghadapi potensi kekeringan.
Namun, masyarakat juga diharapkan ikut berperan, misalnya dengan menggunakan air secara bijak, menjaga lingkungan agar tidak terjadi kebakaran, dan menyesuaikan aktivitas pertanian dengan kondisi cuaca.
LULUS
Editor : Imron Arlado