JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Generasi Z tumbuh di era digital yang serba cepat, penuh peluang, sekaligus sarat tantangan. Kemudahan teknologi membuat Gen Z lebih kreatif, ekspresif, dan bebas memilih jalan karier.
Namun di sisi lain, derasnya arus informasi, tren konsumsi online, dan tekanan sosial media sering membuat generasi ini terjebak dalam kebiasaan finansial yang kurang sehat.
Meski masih muda, keputusan keuangan yang diambil hari ini akan sangat memengaruhi stabilitas hidup di masa depan. Karena itu, memahami kesalahan umum dan cara menghindarinya menjadi langkah penting menuju kemandirian finansial yang lebih kuat.
Salah satu kesalahan terbesar yang sering terjadi adalah kebiasaan konsumtif berlebihan. Kemudahan berbelanja lewat aplikasi membuat banyak Gen Z terjebak pada impulsive buying hanya demi mengikuti tren, review viral, atau tekanan sosial media untuk terlihat “up to date”.
Padahal, pola ini sering memicu pengeluaran tidak terkendali. Untuk menghindarinya, Gen Z perlu mulai menerapkan mindful spending, yaitu mempertanyakan setiap pembelian: apakah kebutuhan atau sekadar keinginan sesaat.
Kesalahan lainnya adalah kurangnya kebiasaan menabung dan tidak memiliki dana darurat. Banyak yang merasa menabung bisa dilakukan nanti ketika sudah lebih mapan. Padahal, dana darurat adalah fondasi keuangan yang wajib dimiliki bahkan sejak awal bekerja.
Mulailah dengan menabung minimal 10% dari penghasilan secara konsisten. Nominal boleh kecil, yang penting kebiasaan terbentuk. Gen Z juga kerap terlambat berinvestasi karena takut rugi atau merasa investasi itu rumit.
Padahal saat ini banyak platform investasi yang lebih mudah, aman, dan ramah pemula. Memulai sejak dini memberi keuntungan besar berkat efek compounding. Untuk menghindari kesalahan ini, edukasi dasar mengenai instrumen seperti reksa dana, obligasi, atau saham sangat penting.
Selain itu, manajemen utang menjadi tantangan tersendiri. Fasilitas paylater atau kartu kredit memang memudahkan, tetapi bila digunakan tanpa kontrol bisa membuat Gen Z terkena jeratan cicilan berkepanjangan.
Batasi penggunaan paylater hanya untuk kebutuhan penting, pastikan rasio utang tidak melebihi 30% dari penghasilan, dan selalu bayar tepat waktu. Kesalahan lain yang jarang disadari adalah kurangnya perencanaan keuangan jangka panjang.
Banyak Gen Z fokus pada kebutuhan hari ini tanpa memikirkan tujuan besar seperti membeli rumah, melanjutkan pendidikan, atau merintis bisnis. Padahal, tujuan keuangan yang jelas bisa membantu mengatur prioritas pengeluaran dan membuat keputusan lebih bijak.
Terakhir, Gen Z sering mengabaikan literasi finansial. Padahal, pemahaman dasar mengenai uang adalah pondasi utama yang menentukan stabilitas hidup. Edukasi diri melalui buku, konten edukatif, webinar, atau kursus singkat bisa meningkatkan kemampuan mengatur keuangan secara signifikan.
Dengan menghindari kesalahan-kesalahan di atas dan mulai membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat sejak dini, Gen Z dapat menciptakan masa depan yang lebih stabil, terencana, dan penuh peluang. Kemandirian finansial bukanlah hal yang instan, melainkan perjalanan yang dimulai dari langkah kecil yang diambil hari ini. AILEEN
Editor : Imron Arlado