JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Lagu Tarot dari .Feast menawarkan potret hubungan manusia yang rumit, penuh luka, namun tetap memiliki keinginan untuk bertahan.
Dibuka dengan gambaran ruangan hening dan nama yang tetap bertahan, lagu ini menunjukkan suasana stagnan yang sudah berlangsung lama. Ada dorongan untuk pergi, tetapi kaki seolah tertahan.
Kebingungan itu memperlihatkan konflik batin seseorang yang tidak mampu memutuskan apakah harus bertahan atau meninggalkan keadaan yang melelahkan. Situasi ini menggambarkan hubungan yang sudah berjalan begitu lama hingga kebiasaannya sulit dilepas.
Bagian awal lagu juga menyiratkan bahwa kebersamaan yang dulu penuh canda kini berubah menjadi kenyataan pahit. “Kita tak terbiasa dengan celaka yang nyata” menunjukkan bahwa mereka tidak siap menghadapi keseriusan yang tiba-tiba hadir.
Meski begitu, ada rasa setia terhadap penderitaan yang sama, ditunjukkan lewat pertanyaan apakah mereka tetap bersama karena sudah terlalu lama atau karena memang ingin berbagi derita.
Perasaan ini menggambarkan hubungan yang bertahan bukan karena sempurna, tetapi karena adanya keterikatan emosional yang sulit dijelaskan. Ketakutan akan memburuknya keadaan juga muncul.
Ada harapan agar mereka bisa berhati-hati, namun tetap saja jatuh dalam luka yang sama. Meski menyakitkan, ada kesadaran bahwa “luka adalah niscaya”, sesuatu yang pasti muncul dalam hubungan manusia.
Namun keinginan untuk menanggung luka bersama menunjukkan kedewasaan dalam menerima realitas. Mereka sadar bahwa penderitaan tidak selalu bisa dihindari, tetapi bisa dijalani selama masih ada kekuatan untuk saling menopang.
Bagian “kehidupan kedua” menghadirkan nuansa harapan. Seolah diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan mengubah cara menghadapi hubungan. Ada keyakinan bahwa mereka telah melalui banyak cobaan, sehingga keterikatan mereka terasa sangat kuat.
Kalimat “nyawa kita bertautan” membangun imaji hubungan yang sudah ditempa oleh pengalaman panjang. Di sini, lagu menyoroti siklus pertumbuhan manusia yang berulang: jatuh, belajar, dan mencoba memperbaiki diri.
Simbol tarot dan ramalan bintang digunakan sebagai metafora untuk menunjukkan bagaimana manusia sering mencari jawaban dari hal-hal metafisik. Namun, mereka justru menertawakan ramalan tersebut, seolah sadar bahwa nasib tidak bisa ditentukan oleh kartu atau ramalan seseorang.
Kritik halus ini menegaskan bahwa kehidupan lebih dipengaruhi oleh pilihan yang dibuat, bukan oleh takdir yang diramalkan orang lain. Meski begitu, ironi muncul ketika penyanyi berkata, “Padamu kupercaya, tak masuk logika.” Ia tidak percaya ramalan, namun ia percaya pada seseorang meski tanpa alasan rasional.
Bagian akhir lagu yang penuh repetisi menekankan intensitas perasaan tersebut. Kepercayaan yang tidak masuk akal menunjukkan bahwa hubungan manusia seringkali berjalan di luar logika.
Lagu ini menjadi refleksi bahwa manusia bisa tetap bertahan pada sesuatu yang tidak sempurna karena adanya ikatan emosional yang mendalam. “Tarot” akhirnya menjadi cermin tentang bagaimana manusia menerima luka, mempertahankan harapan, dan tetap percaya meski tidak sepenuhnya memahami alasannya. AILEEN
Editor : Imron Arlado