JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Yasika Aulia Ramadhani, putri dari Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan, Yasir Machmud, baru-baru ini menjadi sorotan di media sosial setelah keberhasilannya dalam mengelola 41 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Sosok Yasika yang baru menginjak usia 20 tahun ini, menjadi bahan perbincangan masyarakat dan media daring karena prestasinya yang dianggap luar biasa sekaligus kontroversial.
Fakta ini terungkap pada saat peresmian dapur MBG di Kabupaten Bone, Jumat 14 November 2025. Dapur MBG yang dipimpin Yasika tersebar di Makassar, Parepare, Gowa, serta Bone, masing-masing dengan total rincian adalah16 dapur di Makassar, 3 di Parepare, 2 di Gowa, dan 10 di Bone.
Semua program tersebut berada di bawah Yayasan Yasika Group yang dipimpinnya, ayah dari Yasika, Yasir Machmud, merupakan seorang politikus Partai Gerindra dan menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan periode 2024-2029 setelah meraih suara signifikan pada pemilu lalu.
Keberadaan Yasika di pos penting tersebut memancing berbagai reaksi dari publik, banyak yang menyoroti apakah kapasitas dan pengalaman Yasika telah memadai dan memenuhi syarat untuk mengurus dapur makan bergizi gratis dalam skala yang terhitung besar.
Selain itu, muncul pula beberapa perdebatan mengenai potensi konflik kepentingan yang kerap kali membayangi proyek sosial milik keluarga pejabat publik. Media sosial turut membahas kemungkinan adanya bancakan proyek serta isu nepotisme dikarenakan besarnya pengaruh keluarga di balik pengelolaan MBG.
Program MBG sendiri digarap sebagai inisiatif sosial guna memperluas akses makanan sehat kepada anak-anak dan masyarakat prasejahtera di Sulawesi Selatan, namun popularitas MBG belakangan juga diwarnai berbagai macam polemik.
Laporan dari Badan Gizi Nasional dan pemerintah daerah menyebutkan adanya kasus keracunan makanan pada beberapa program MBG di sejumlah wilayah, sehingga pengawasan ketat diperlukan guna memastikan tata kelola dapur sesuai standar operasional.
Di tengah sorotan, Yasika selalu menekankan pernyataan bahwa program MBG adalah upaya murni keluarga untuk membantu warga yang membutuhkan gizi seimbang.
Yasika mengaku siap untuk melakukan evaluasi dan audit terbuka jika memang diperlukan, serta berharap transparansi dan akuntabilitas dapat tercapai. Terlepas dari isu yang berkembang, Yasika mulai membangun reputasi sebagai pemimpin muda yang aktif di bidang sosial, meski tantangan dan kontroversi tetap membayangi setiap langkahnya.
Kasus ini menyoroti perlunya keterbukaan dan pengawasan yang lebih baik dalam setiap program sosial, terutama ketika dikelola oleh keluarga pejabat.
Peran media, masyarakat, dan pemerintah dinilai sangat penting untuk memastikan bantuan benar-benar tepat sasaran tanpa menimbulkan risiko keamanan atau konflik kepentingan yang merugikan masyarakat penerima manfaat. Dzafir Kirana Adelia
Editor : Imron Arlado