JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Tidak sedikit orang tua yang merasa frustasi ketika anak menolak makan sayur, hanya mau nasi dengan kecap atau bahkan menolak makanan yang sebelumnya disukai.
Fenomena ini dikenal sebagai picky eater, kebiasaan memilih-milih makanan yang bisa berdampak pada asupan gizi dan tumbuh kembang anak.
Meski sering dianggap sebagai fase normal dalam masa pertumbuhan, picky eating bisa menjadi tantangan tersendiri jika berlangsung lama dan memengaruhi kesehatan.
Membahas lebih dalam tentang apa itu picky eater, apa saja penyebabnya, serta strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasinya dengan pendekatan yang lebih bijak dan penuh pengertian.
Apa Itu Picky Eater?
Picky eater adalah sebutan bagi individu terutama anak-anak yang sangat selektif dalam memilih makanan. Mereka cenderung menolak makanan baru, hanya menyukai jenis makanan tertentu, dan kadang menolak makanan yang sebelumnya disukai.
Meski perilaku ini umum terjadi dalam masa tumbuh kembang, jika berlangsung terus-menerus, bisa berdampak pada kecukupan gizi dan pola makan sehat.
Kebiasaan ini bukan sekadar ''rewel makan'', melainkan respons kompleks yang bisa dipengaruhi oleh faktor sensorik, psikologis, dan lingkungan.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pengasuh untuk memahami penyebabnya dan menerapkan pendekatan yang sabar dan strategis agar anak lebih terbuka terhadap variasi makanan.
Kebiasaan Umum Picky Eater
Anak yang tergolong picky eater biasanya menunjukkan pola makan yang sangat selektif. Beberapa perilaku khas yang sering muncul antara lain:
- Enggan mencoba makanan baru (food neophobia), karena rasa takut atau tidak nyaman terhadap hal yang belum dikenal.
- Memilih makanan berdasarkan rasa, tekstur, atau warna tertentu, misalnya hanya mau makan makanan yang renyah atau berwarna cerah.
- Menghindari sayur dan buah, terutama yang bertekstur lembek atau berbau kuat.
- Makan dalam porsi kecil dan tidak konsisten, sehingga asupan gizi harian bisa terganggu.
- Bereaksi negatif saat disajikan makanan yang tidak disukai, seperti menangis, menolak makan, atau bahkan marah.
Baca Juga: Jamin Tak Ada Kenaikan Tunjangan Anggota Dewan
Kebiasaan ini bisa menjadi tantangan bagi orang tua, tetapi dengan pendekatan yang tepat, anak dapat belajar lebih terbuka terhadap variasi makanan.
Penyebab Picky Eater
Perilaku picky eating bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti:
1. Perkembangan Sensorik dan Psikologis
Anak-anak memiliki sensitivitas tinggi terhadap rasa, bau, dan tekstur. Ini bisa membuat mereka menolak makanan yang terasa ''asing'' atau tidak nyaman.
2. Pola Asuh dan Lingkungan Makan
Paksaan saat makan, suasana makan yang tegang, atau kebiasaan memberi makanan favorit sebagai ''hadiah'' bisa memperkuat perilaku pilih-pilih.
3. Faktor Genetik dan Temperamen
Beberapa anak memang secara alami lebih berhati-hati terhadap hal baru, termasuk makanan.
4. Paparan Makanan Olahan
Konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak bisa membuat anak menolak makanan sehat yang rasanya lebih ''ringan''.
Cara Mengatasi Picky Eater
1. Bangun Hubungan Positif dengan Makanan
Anak perlu merasa nyaman dan aman saat makan. Hindari paksaan, ancaman, atau komentar negatif.
Jadikan waktu makan sebagai momen menyenangkan dan penuh interaksi positif. Duduk bersama keluarga saat makan bisa memberi contoh dan membangun kebiasaan baik.
2. Libatkan Anak dalam Proses Memasak
Ajak anak memilih bahan makanan, mencuci sayur, atau menghias piring. Ketika mereka merasa punya peran, rasa penasaran terhadap makanan baru pun meningkat. Ini juga memperkuat rasa percaya diri mereka.
3. Sajikan Makanan Secara Kreatif dan Bertahap
Gunakan bentuk lucu, warna cerah, atau paduan rasa yang familiar. Jangan langsung menyajikan porsi besar makanan baru sebagai ''pengenalan''. Anak mungkin butuh beberapa kali paparan sebelum mau mencoba.
Baca Juga: Desa Tempuran, Kecamatan Pungging Bangun TPT Sekitar Makam secara Krocokan
4. Hormati Preferensi dan Ritme Anak
Setiap anak punya selera dan waktu adaptasi yang berbeda. Jangan bandingkan dengan anak lain. Biarkan mereka mengenali rasa secara alami, tanpa tekanan. Tawarkan pilihan sehat, tapi beri ruang untuk eksplorasi.
5. Batasi Camilan dan Makanan Olahan
Camilan tinggi gula dan garam bisa membuat lidah anak terbiasa dengan rasa kuat, sehingga makanan sehat terasa hambar. Atur jadwal makan dan camilan agar anak tetap lapar saat waktu makan tiba.
Picky eating bukanlah hal yang harus ditakuti, melainkan dipahami. Dengan pendekatan yang penuh pengertian dan strategi yang tepat, kebiasaan ini bisa diatasi secara bertahap.
Yang terpenting, jangan menyerah karena setiap anak punya ritme dan cara sendiri dalam mengenal dunia rasa.
ANGELINA/FADYA
Editor : Imron Arlado