JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Ketika LISA dan ROSALIA memutuskan untuk bersatu dalam proyek musik, dunia tahu bahwa yang akan lahir bukan sekadar lagu biasa. Lagu New Woman bukan hanya kolaborasi musikal.
Tetapi sebuah pernyataan budaya dan identitas perempuan yang begitu kuat, berani, dan emosional, dirilis di tengah meningkatkan kesadaran perempuan terhadap kebebasan, hak, dan identitas.
“New Woman” hadir seperti api dalam kabut yang menyala terang, dan menghangatkan hati mereka yang butuh perwakilan suara.
Suara Dua Dunia: K-pop Bertemu Flamenco Trap
LISA dikenal lewat image nya yang tajam, berkelas, dan powerful dari BLACKPINK.
Sementara ROSALÍA telah membangun reputasi global sebagai seniman avant-garde yang memadukan flamenco tradisional dengan elemen modern seperti trap dan reggaeton.
Dua figur yang berasal dari budaya berbeda, namun dipersatukan oleh satu visi, yaitu merayakan kebebasan dan otentisitas perempuan.
Dalam “New Woman,” kita mendengar dan merasakan perpaduan dua karakter vokal dan gaya yang sangat kontras tapi menyatu secara magis.
Lirik: Ketika Kejujuran Tak Lagi Ditahan
Lagu “New Women” berbicara dalam bahasa yang sederhana, tapi sangat tajam. Bukan lirik puitis yang berlapis metafora, tapi baris-baris yang terdengar seperti suara hati yang terpendam:
“You say you want me, but i’m not yours to hold”
“No more chains, i write my name in fire”
LISA menyampaikan bagian ini seperti perempuan yang telah menyenangkan dunia, lalu memilih untuk mengklaim kembali hidupnya. ROSALIA melanjutkan dalam bahasa spanyol:
“No me visto para ti, me gusta asi”
Baca Juga: Membentuk Generasi Emas
Ada ketegasan, dan ada keberanian dalam setiap kalimat. Lirik-lirik ini menjadi semacam manifesto kecil dan sebuah refleksi perempuan.
Untuk memutuskan untuk hidup dengan caranya sendiri, tak lagi membiarkan cinta atau opini dunia mengontrol hidupnya.
Simbol Perempuan Baru: Bebas, Kompleks, Tak Terdefinisi
Di era media sosial dan tekanan ekspektasi publik, perempuan sering kali dituntut untuk tampil sempurna seperti, cantik, lembut, tapi juga kuat, sukses tapi tetap patuh.
Perempuan modern bisa memilih menjadi lembut atau garang. Bisa mencintai tanpa kehilangan kendali atas dirinya.
Bisa patah hati tanpa kehilangan arah. Lagu ini juga menjadi lambang dari kompleksitas perempuan yang selama ini sering direduksi menjadi satu identitas tunggal.
Visual yang Simbolik dan Menggetarkan
Video musik “New Woman” tidak kalah kuatnya dalam menyampaikan pesan. Di satu adegan, LISA terlihat berjalan sendiri di lorong yang panjang dengan api yang menyalah di sekitar sepatunya.
Simbol pembebasan dari belenggu masa lalu. Di sisi lain ROSALÍA menari di padang yang luas, bebas, dengan ekspresi yang mentah dan emosional.
Warna-warna netral namun intens digunakan secara konsisten seperti, hitam, merah, emas, dan putih.
Tidak ada narasi cerita rumit, tapi justru karena itu, setiap frame terasa penuh dengan makna.
Seolah-olah LISA dan ROSALIA sedang memperlihatkan bahwa keheningan pun bisa jadi bentuk perlawanan.
Kolaborasi Bukan Kompetisi: Perempuan yang Menguatkan
Apa yang membuat lagu ini spesial bukan hanya kekuatan masing-masing artisnya, tapi juga chemistry dan solidaritas di antara mereka.
Dalam industri yang sering mempertemukan perempuan dalam bayang-bayang kompetisi dan pertandingan, LISA dan ROSALIA menunjukan bahwa kolaborasi bisa juga jadi kekuatan terbesar.
Tidak ada yang menutupi cahaya satu sama lain. Mereka berdampingan, memberi ruang, dan justru saling mengangkat.
Ini adalah representasi, tapi perayaan akan keragaman dan kebebasan berekspresi.
Ini Lebih dari Sekedar Lagu, Tapi Ini Adalah Identitas
Lagu “New Woman” bukan hanya karya kolaborasi dari dua superstar. Ini adalah narasi kolektif perempuan modern yang berani berdiri sendiri, dan mencintai dirinya sendiri tanpa syarat.
LISA dan ROSALIA: tidak hanya menyanyi, mereka juga menyuarakan generasi baru. Mereka menolak definisi sempit tentang perempuan.
Mereka menunjukan bahwa menjadi perempuan baru bukan berarti harus mengubah jadi diri, tetapi justru merayakannya dengan bangga.
AILEEN ZNR
Editor : Imron Arlado