JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Gempa bumi di Indonesia dapat terjadi akibat aktivitas tektonik di sepanjang batas lempeng yang bergerak saling bertumbukan.
Namun, baru-baru ini publik digemparkan akan gempa megathrust yang belum diketahui pasti kapan gempa tersebut terjadi. Hal itulah yang membuat kekhawatiran masyarakat semakin menjadi.
Berita mengenai gempa megathrust tersebut juga telah diklarifikasi langsung oleh Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Daryono.
Ia mengatakan Indonesia perlu waspada terhadap Gempa Megathrust, karena gempa tersebut telah melanda Jepang dengan skala 7,1 Magnitudo.
Gempa megathrust dan gempa bumi biasa adalah dua topik yang sering dibahas. Namun, meski keduanya sama-sama disebabkan oleh aktivitas tektonik, terdapat beberapa perbedaan mendasar yang perlu dipahami antara Gempa Megathrust dan gempa biasa.
Gempa megathrust memang gempa yang berkekuatan besar, lantas apa yang membedakannya dengan Gempa Biasa?, berikut penjelasannya.
- Gempa Megathrust
Gempa Megathrust adalah jenis gempa bumi yang terjadi di zona subduksi, yaitu area di mana satu lempeng tektonik menyusup di bawah lempeng lainnya. Zona ini biasanya berada di kedalaman lebih dari 100 kilometer di bawah permukaan bumi.
Gempa ini akan menjadi gempa besar yang diprediksi lebih besar dari Tsunami Aceh 2004 yang berkekuatan bisa mencapai magnitudo 9.
Kekuatan gempanya bisa jauh lebih besar daripada gempa biasa. Gempa Megathrust juga menjadi gempa yang paling ditakuti. Hal ini karena durasi gempa yang panjang yang bisa meningkatkan potensi kerusakan infrastruktur dan risiko keselamatan manusia yang kecil.
Gempa Megathrust menyebabkan tanah longsor. Likuefaksi, dan tsunami jika pusat gempa berada di bawah laut. Gerakan Gempa Megathrust cenderung vertikal yang signifikan pada lempeng yang bertubrukan.
Pergerakan vertikal inilah penyebab terjadinya pengangkatan atau penurunan dasar laut yang pada gilirannya dapat memicu gelombang tsunami yang besar dan mematikan.
Tsunami akibat Gempa Megathrust bisa mencapai puluhan meter tingginya, sehingga dapat menyapu wilayah pesisir dalam waktu singkat dan menyebabkan kehancuran atau kerusakan yang luas.
- Gempa Biasa
Gempa biasa umumnya memiliki magnitudo di bawah 7,0 skala Richter. Gempa biasa umumnya hanya berlangsung beberapa detik hingga satu menit, jadi gempa biasa ini tidak membahayakan seperti Gempa Megathrust yang berdurasi lama.
Gempa biasa sering kali diakibatkan oleh pergerakan horizontal di sepanjang patahan. Gempa biasa memiliki episenter tidak sedalam Gempa Megathrust.
Namun, meski memiliki episenter yang lebih dangkal, guncangan yang terjadi lebih kuat di permukaan dan dapat menyebabkan kerusakan lokal yang signifikan meskipun memiliki magnitudo lebih rendah.
Gempa biasa, terutama yang terjadi di patahan lokal, dapat terjadi lebih sering terjadi. Hal ini tergantung pada aktivitas tektonik di wilayah tersebut
Dari kedua gempa tersebut, tetap memerlukan kesadaran dan kesiapsiagaan yang menjadi kunci untuk meminimalkan dampak yang disebabkan oleh gempa bumi, baik itu Megathrust ataupun gempa biasa.
Nailul
Editor : Imron Arlado