Kamis, 20 Jan 2022
Radar Mojokerto
Home / Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Eksis di Tengah Riuh Redam Wacana Jembatan

30 November 2021, 13: 05: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Eksis di Tengah Riuh Redam Wacana Jembatan

DIANDALKAN: Perahu penyeberangan Sungai Brantas mengantas penumpang dari Desa Betro, Kecamatan Kembali, Kabupaten Mojokerto menuju Desa/Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. (Sofan Kurniawan/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

PERAHU penyeberangan di Desa Betro, Kecamatan Kemlagi, dianggap vital. Terutama bagi para pedagang antardaerah yang sangat mengandalkan keberadaannya. Selama puluhan tahun beroperasi, perahu tambang tetap eksis di tengah riuh redam wacana pembangunan jembatan yang tak pernah terealisasi.

’’Kalau pagi itu banyak sekali pedagang yang lewat,’’ ujar Syaifudin, warga Desa Betro. Pemilik warung kopi (warkop) yang berdiri di salah satu jalur perahu tambang ini menyebut, para pedagang menyeberang untuk keperluan berjualan maupun kulakan. Mereka meliputi para pedagang tahu hingga kerupuk.

Keberadaan perahu tambang ini tak bisa tergantikan. ’’Istilahnya jalur alternatif dari berbagai daerah di sekitar. Karena ya itu tadi kalau memutar jauh banget. Jelas habis waktunya,’’ imbuh dia. Di luar pedagang, para penumpang itu datang dari berbagai daerah di Jawa Timur (Jatim). Seperti Malang, Kediri, hingga Blitar.

Baca juga: Cakupan Vaksin Lansia Paling Rendah

Pengalaman para penambang juga tak bisa dipandang sebelah mata. Mereka memiliki perhitungan terkait tingkat keamanan sungai. Seling sudah disiapkan jika sewaktu-waktu sungai banjir. Menurutnya, keamanan jasa perahu tambang juga mendapat pemantauan langsung dari pihak terkait seperti Dishub Jatim maupun kepolisian. ’’Alhamdulilah selama ini belum pernah ada kejadian kecelakaan,’’ terangnya.

Sepanjang sepengetahuannya, perahu tambangan ini sudah eksis sejak Syaifudin masih kecil. Dia menyebut, di lokasi perahu tambang beroperasi saat ini memang tak pernah ada jembatan. Yang ada hanya perahu tambang yang sudah diminati dan diandalkan masyarakat. ’’Kalau jembatan itu paling rencana-rencana saja. Tahun segini membuat jembatan, tapi dari dulu ya begitu saja,’’ ucapnya.

Demikian juga disampaikan Kepala Desa Betro Sutikno. Menurutnya, perahu penyeberangan sudah jadi andalan warga selama puluhan tahun. ’’Ada selama 50 tahun lebih. Saya belum lahir sudah ada,’’ ucapnya.

Titik operasi perahu tambangan ini menjadi titik pertemuan dari berbagai daerah. Sehingga tak heran jika keberadaanya menjadi akses alternatif. ’’Kalau ada jembatan pasti ramai,’’ sebut dia.

Menurutnya, selama ini pihak desa tak pernah mendengar mengenai rencana pembanguan jembatan. ’’Ini kan kapasitasnya BBWS Brantas dan tidak pernah ada jembatannya,’’ imbuh Sutikno. (adi/abi)

(mj/ADI/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia