alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Jadi Tradisi Ritual Buang Sangkal

Kembang atau bunga setaman menjadi salah satu unsur yang cukup melekat dalam adat Jawa. Tak terkecuali bagi masyarakat Mojokerto yang hingga kini kerap menggunakan aneka puspa dalam berbagai upacara ritual dan selamatan.

RANGKAIAN bunga setaman memang banyak dipergunakan untuk berbagai keperluan masyarakat. Baik yang bersifat spiritual hingga kebudayaan. Salah satu yang paling identik adalah digunakan untuk ziarah kubur. Di samping itu, masih banyak tradisi-tradisi yang memakai bunga sebagai sarana perlengkapannya.

Salah satunya adalah tradisi menabur bunga setaman di persimpang jalan. Sampai saat ini, di beberapa titik simpang empat jalan di Mojokerto masih sering dijumpai warga yang menabur aneka bunga yang disebar di jalanan.

Bahkan, tidak hanya di pedesaan, jalanan protokol di tengah perkotaan pun masih banyak dilakukan. Menikwati, 57, salah satu pedagang bunga di Pasar Niaga Sawahan, Kecamatan Mojosari mengungkapkan, fenomena tabur bunga di persimpangan jalan memang menjadi salah satu tradisi di tengah masyarakat.

Menurut dia, ditebarkannya bunga di jalanan tersebut terkandung berbagai maksud dan tujuan bagi para penaburnya. ”Salah satunya ya sama-sama untuk nyekar (ziarah),” terangnya. Hanya, kata dia, ziarah tersebut tidak dilakukan dengan mendatangi langsung ke tempat pemakaman, melainkan hanya ditaburkan di jalanan tertentu. Sebab, lokasi makamnya memang sulit untuk dijangkau karena jarak yang terlalu jauh atau alasan lain.

Baca Juga :  Buruh Semringah, Upah 2019 Mendekati Rp 4 Juta

”Karena tidak sempat nyekar, biasanya karena makam kerabatnya jauh. Akhirnya bunga ditabur di perempatan jalan sambil menyebut nama (almarhum),” terang perempuan yang akrab disapa Menik ini. Oleh karena itu, perempuan asal Dusun Pekojo, Desa Tunggalpager, Kecamatan Pungging ini menyebutkan, tabur bunga di persimpangan jalan tidak jauh berbeda dengan ziarah makam pada umumnya.

Yaitu, dilakukan saat hari Kamis, utamanya pada pasaran Kliwon atau malam Jumat Legi dalam kalender Jawa. Demikian pun dengan jenis bunga yang digunakan, yaitu rangkaian kembang setaman. Meliputi bunga mawar merah, mawar putih, kenanga, melati, gading atau cempaka putih, sedap malam, dan bunga bundel. ”Pokoknya pitung rupo, ada tujuh macam bunga,” tuturnya.

Baca Juga :  Ning Ita Dukung Event Menulis Surat

Pedagang yang sudah berjualan bunga sejak 1986 ini menyatakan, selain bertujuan untuk ziarah, tabur bunga di simpang empat jalan juga memiliki makna penghormatan kepada para leluhur. Dengan cara menaburkan bunga sebagai wujud terima kasih dan dijauhkan dari marabahaya.

”Istilahnya buang sangkal (membung sial) biar selamat,” imbuhnya. Tiap jenis bunga menyiratkan makna filosofis tersendiri. Di sisi lain, di dalam kembang setaman juga mampu memancarkan aroma keharuman masing-masing. Sehingga dengan menaburkan bunga, dipercaya dapat menghilangkan berbagai hal yang bersifat buruk.

”Setelah mimpi tidak enak, itu juga bisa menyebarkan bunga ke jalan. Karena menaburkan bunga itu sama saja dengan menghilangkan bau amis (anyir),” ujar warga kelahiran Trenggalek 1963 silam ini.

Terdapat berbagai ritual dan tradisi lain yang ada di balik menaburkan bunga di perempatan. Seperti meminta keselamatan dalam perjalanan, syukuran setelah mendapatkan sesuatu atau bersedekah setelah memperoleh rezeki.

Kembang atau bunga setaman menjadi salah satu unsur yang cukup melekat dalam adat Jawa. Tak terkecuali bagi masyarakat Mojokerto yang hingga kini kerap menggunakan aneka puspa dalam berbagai upacara ritual dan selamatan.

RANGKAIAN bunga setaman memang banyak dipergunakan untuk berbagai keperluan masyarakat. Baik yang bersifat spiritual hingga kebudayaan. Salah satu yang paling identik adalah digunakan untuk ziarah kubur. Di samping itu, masih banyak tradisi-tradisi yang memakai bunga sebagai sarana perlengkapannya.

Salah satunya adalah tradisi menabur bunga setaman di persimpang jalan. Sampai saat ini, di beberapa titik simpang empat jalan di Mojokerto masih sering dijumpai warga yang menabur aneka bunga yang disebar di jalanan.

Bahkan, tidak hanya di pedesaan, jalanan protokol di tengah perkotaan pun masih banyak dilakukan. Menikwati, 57, salah satu pedagang bunga di Pasar Niaga Sawahan, Kecamatan Mojosari mengungkapkan, fenomena tabur bunga di persimpangan jalan memang menjadi salah satu tradisi di tengah masyarakat.

Menurut dia, ditebarkannya bunga di jalanan tersebut terkandung berbagai maksud dan tujuan bagi para penaburnya. ”Salah satunya ya sama-sama untuk nyekar (ziarah),” terangnya. Hanya, kata dia, ziarah tersebut tidak dilakukan dengan mendatangi langsung ke tempat pemakaman, melainkan hanya ditaburkan di jalanan tertentu. Sebab, lokasi makamnya memang sulit untuk dijangkau karena jarak yang terlalu jauh atau alasan lain.

Baca Juga :  Ikfina-Gus Barra Menang di 18 Kecamatan

”Karena tidak sempat nyekar, biasanya karena makam kerabatnya jauh. Akhirnya bunga ditabur di perempatan jalan sambil menyebut nama (almarhum),” terang perempuan yang akrab disapa Menik ini. Oleh karena itu, perempuan asal Dusun Pekojo, Desa Tunggalpager, Kecamatan Pungging ini menyebutkan, tabur bunga di persimpangan jalan tidak jauh berbeda dengan ziarah makam pada umumnya.

- Advertisement -

Yaitu, dilakukan saat hari Kamis, utamanya pada pasaran Kliwon atau malam Jumat Legi dalam kalender Jawa. Demikian pun dengan jenis bunga yang digunakan, yaitu rangkaian kembang setaman. Meliputi bunga mawar merah, mawar putih, kenanga, melati, gading atau cempaka putih, sedap malam, dan bunga bundel. ”Pokoknya pitung rupo, ada tujuh macam bunga,” tuturnya.

Baca Juga :  Ada Doa yang Tersirat

Pedagang yang sudah berjualan bunga sejak 1986 ini menyatakan, selain bertujuan untuk ziarah, tabur bunga di simpang empat jalan juga memiliki makna penghormatan kepada para leluhur. Dengan cara menaburkan bunga sebagai wujud terima kasih dan dijauhkan dari marabahaya.

”Istilahnya buang sangkal (membung sial) biar selamat,” imbuhnya. Tiap jenis bunga menyiratkan makna filosofis tersendiri. Di sisi lain, di dalam kembang setaman juga mampu memancarkan aroma keharuman masing-masing. Sehingga dengan menaburkan bunga, dipercaya dapat menghilangkan berbagai hal yang bersifat buruk.

”Setelah mimpi tidak enak, itu juga bisa menyebarkan bunga ke jalan. Karena menaburkan bunga itu sama saja dengan menghilangkan bau amis (anyir),” ujar warga kelahiran Trenggalek 1963 silam ini.

Terdapat berbagai ritual dan tradisi lain yang ada di balik menaburkan bunga di perempatan. Seperti meminta keselamatan dalam perjalanan, syukuran setelah mendapatkan sesuatu atau bersedekah setelah memperoleh rezeki.

Artikel Terkait

Most Read

APV Sasar Empat Motor, Tiga Tewas Sekaligus

Limbah Peternakan Ayam Bakal Dipindah

Apresiasi Curhat Ning Ita

Artikel Terbaru


/