alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Polisi Telusuri Distribusi Elpiji Melon di Mojokerto

MOJOKERTO – Aroma kelangkaan elpiji ukuran 3 kilogram (kg) yang sudah melanda beberapa daerah, termasuk di Kabupaten Mojokerto mulai mendapat perhatian serius kepolisian.

Rabu (28/8), untuk memastikan ketersediaan pasokan, polisi melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Stasiun Pengisian Bahan Bulk Elpiji (SPBE) di Desa Sekargadung, Kecamatan Pungging.

’’Ini sifatnya pengecekan. Untuk memastikan stok ketersediaan elpiji di wilayah kabupaten,’’ ungkap Kapolres Mojokerto, AKBP Leonardus Simarmata. Dari sidak ini, pihaknya tidak menemukan menipisnya stok elpiji melon seperti yang terjadi di beberapa daerah lain.

Bahkan, dengan pasokan elpiji yang dijadwalkan setiap hari mencapai 50 ton dari SPBE, angka itu dianggap lebih dari cukup dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Baik di Kota dan Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga :  Dokter dan Perawat Rumah Sakit Terpapar Covid

’’Tapi, yang efektif ada 40 ton. Artinya, tidak ada kesulitan soal ketersediaan elpiji ini,’’ tandas kapolres. Sebaliknya, lanjut dia, jika di lapangan fakta berbicara lain, tentu hal ini yang menjadi perhatian kepolisian.

Salah satu contoh, bila di induk SPBE stok masih aman, sementara di lapangan kondisinya menipis atau bahkan mengalami kelangkaan, hal itu patut dicurigai. Apakah ada aroma penyelewengan atau pendistribusian yang tidak tepat sasaran.

Apalagi pola distribusian selama ini ada di agen. Sedangkan, SPBE sebatas untuk refill atau isi ulang tabung. ’’Nah, ini yang mau kita telusuri. Mulai dari hulu sampai ke hilirnya,’’ tegasnya.

Namun, dia belum dapat memastikan apakah memang ada dugaan penyelewengan atau karena sebab lain. ’’Untuk sekarang mungkin belum. Masih normal saja. Tapi, kita patut antisipasi siapa tahu kelangkaan di Jombang berimbas ke tempat kita,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Pemanfaatan Rusunawa Kota Mojokerto Terancam Tertunda

Sementara itu, kepala SPBE Desa Sekargadung, Kecamatan Pungging, Faradian menyatakan, sejauh ini tugasnya memang sebatas melakukan pengisian. Termasuk pengiriman ke tingkat agen yang sudah ditentukan Pertamina.

’’Tidak bisa merubah itu. Sesuai apa yang dijadwalkan pertamina. Ya sudah itu yang kita jalankan. Semua aturan, alokasi berapa yang disalurkan, Pertamina yang menentukan,’’ katanya.

Sehingga, jika ada potensi kelangkaan di lapangan, SPBE tidak dalam ranah bertanggungjawab. ’’Jika dilihat dari pasokan SPBE, saya rasa tidak mungkin ada kelangkaan. Apalagi, kita juga tidak ada pengurangan pengiriman,’’ tandasnya.

Setiap hari, SPBE ini mampu memasok 40 ton ke tujuh agen di wilayah Kabupaten Mojokerto. 

MOJOKERTO – Aroma kelangkaan elpiji ukuran 3 kilogram (kg) yang sudah melanda beberapa daerah, termasuk di Kabupaten Mojokerto mulai mendapat perhatian serius kepolisian.

Rabu (28/8), untuk memastikan ketersediaan pasokan, polisi melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Stasiun Pengisian Bahan Bulk Elpiji (SPBE) di Desa Sekargadung, Kecamatan Pungging.

’’Ini sifatnya pengecekan. Untuk memastikan stok ketersediaan elpiji di wilayah kabupaten,’’ ungkap Kapolres Mojokerto, AKBP Leonardus Simarmata. Dari sidak ini, pihaknya tidak menemukan menipisnya stok elpiji melon seperti yang terjadi di beberapa daerah lain.

Bahkan, dengan pasokan elpiji yang dijadwalkan setiap hari mencapai 50 ton dari SPBE, angka itu dianggap lebih dari cukup dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Baik di Kota dan Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga :  Atasi Hama Tikus, Bangun Rumah Burung Hantu
- Advertisement -

’’Tapi, yang efektif ada 40 ton. Artinya, tidak ada kesulitan soal ketersediaan elpiji ini,’’ tandas kapolres. Sebaliknya, lanjut dia, jika di lapangan fakta berbicara lain, tentu hal ini yang menjadi perhatian kepolisian.

Salah satu contoh, bila di induk SPBE stok masih aman, sementara di lapangan kondisinya menipis atau bahkan mengalami kelangkaan, hal itu patut dicurigai. Apakah ada aroma penyelewengan atau pendistribusian yang tidak tepat sasaran.

Apalagi pola distribusian selama ini ada di agen. Sedangkan, SPBE sebatas untuk refill atau isi ulang tabung. ’’Nah, ini yang mau kita telusuri. Mulai dari hulu sampai ke hilirnya,’’ tegasnya.

Namun, dia belum dapat memastikan apakah memang ada dugaan penyelewengan atau karena sebab lain. ’’Untuk sekarang mungkin belum. Masih normal saja. Tapi, kita patut antisipasi siapa tahu kelangkaan di Jombang berimbas ke tempat kita,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Angkat Perekonomian Warga, Bentuk Kampung Organik

Sementara itu, kepala SPBE Desa Sekargadung, Kecamatan Pungging, Faradian menyatakan, sejauh ini tugasnya memang sebatas melakukan pengisian. Termasuk pengiriman ke tingkat agen yang sudah ditentukan Pertamina.

’’Tidak bisa merubah itu. Sesuai apa yang dijadwalkan pertamina. Ya sudah itu yang kita jalankan. Semua aturan, alokasi berapa yang disalurkan, Pertamina yang menentukan,’’ katanya.

Sehingga, jika ada potensi kelangkaan di lapangan, SPBE tidak dalam ranah bertanggungjawab. ’’Jika dilihat dari pasokan SPBE, saya rasa tidak mungkin ada kelangkaan. Apalagi, kita juga tidak ada pengurangan pengiriman,’’ tandasnya.

Setiap hari, SPBE ini mampu memasok 40 ton ke tujuh agen di wilayah Kabupaten Mojokerto. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/