alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Monday, May 16, 2022

Salat Bikin Batin Lebih Teduh

ISLAM begitu menyenangkan. Islam mampu memberikan ketenangan dan keteduhan batin yang luar biasa. Hal inilah yang membuat Johanes Tri Haryono beralih keyakinan.

Dari seorang nasrani menjadi mualaf. Tahun 1995 menjadi tonggak awal pria yang akrab disapa Yono ini memeluk agama Islam. Di tahun itu, ia mulai menunaikan salat. ’’Saat itu, saya belajar salat dengan teman satu kos,’’ ujarnya.

Di sebuah kos di Surabaya itulah, Yono yang saat itu tengah kuliah, mulai mendalami Islam. Salat ditunaikan meski seringkali tak utuh lima waktu. ’’Ya kadang-kadang. Kadang salat, kadang tidak,’’ cerita pria yang kini berusia 49 tahun ini.

Di saat Yono mendalami agama Islam, kegiatan setiap minggu ke gereja yang dilakukannya tak dihentikan. Ia tetap rajin melakukan berbagai kegiatan bersama umat nasrani yang lain. ’’Ya salat, ya ke gereja tiap minggu,’’ imbuh Yono.

Baca Juga :  Terketuk Wasiat sang Buah Hati

Dari situ, bapak dua anak ini mulai bisa merasakan perbedaan dua agama ini. Ia menceritakan, sepulang dari gereja, nyaris tak merasakan apa pun. Tak ada rasa yang berbeda di batinnya. Namun, rasa itu berbeda saat ia telah menjalankan salat. Ia merasakan keteduhan batin. Dan hatinya menjadi lebih tenang.

Yono tak mengetahui penyebab teduh batinnya tersebut. Namun, rasa itu betul-betul dirasakan. Meski doa yang dibaca hanya basmallah. Tak detail seperti seorang muslim pada umumnya. Selama 8 tahun berlangsung, Yono memeluk dua agama. Islam dan nasrani.

Namun, tahun 2003, benar-benar membuat  ia harus membuat keputusan besar di kehidupannya. Menjadi seorang muslim tulen. ’’Saya benar-benar hanya memeluk Islam saat menikah dengan istri saya,’’ beber dia.

Baca Juga :  Dua Buah Hati Penenang Hati

Keputusannya itu membuat kegaduhan luar biasa. Karena ia harus bersinggungan dengan keluarga. Orang tua dan keluarga yang mayoritas nonmuslim tak menyetujuinya. Namun, perseteruan itu mereda setelah anak pertamanya lahir. Semua menjadi baik dan hubungan dengan keluarga kembali membaik.

Kini, Yono hidup tenteram bersama keluarga kecilnya di Desa Ngarjo, Kecamatan Jatirejo. Di kampung ini, ia ingin menjalankan ibadah selama Ramadan dengan sangat tenang.

 

 

ISLAM begitu menyenangkan. Islam mampu memberikan ketenangan dan keteduhan batin yang luar biasa. Hal inilah yang membuat Johanes Tri Haryono beralih keyakinan.

Dari seorang nasrani menjadi mualaf. Tahun 1995 menjadi tonggak awal pria yang akrab disapa Yono ini memeluk agama Islam. Di tahun itu, ia mulai menunaikan salat. ’’Saat itu, saya belajar salat dengan teman satu kos,’’ ujarnya.

Di sebuah kos di Surabaya itulah, Yono yang saat itu tengah kuliah, mulai mendalami Islam. Salat ditunaikan meski seringkali tak utuh lima waktu. ’’Ya kadang-kadang. Kadang salat, kadang tidak,’’ cerita pria yang kini berusia 49 tahun ini.

Di saat Yono mendalami agama Islam, kegiatan setiap minggu ke gereja yang dilakukannya tak dihentikan. Ia tetap rajin melakukan berbagai kegiatan bersama umat nasrani yang lain. ’’Ya salat, ya ke gereja tiap minggu,’’ imbuh Yono.

Baca Juga :  Lupakan Masa Kelam setelah Kumandangkan Azan

Dari situ, bapak dua anak ini mulai bisa merasakan perbedaan dua agama ini. Ia menceritakan, sepulang dari gereja, nyaris tak merasakan apa pun. Tak ada rasa yang berbeda di batinnya. Namun, rasa itu berbeda saat ia telah menjalankan salat. Ia merasakan keteduhan batin. Dan hatinya menjadi lebih tenang.

Yono tak mengetahui penyebab teduh batinnya tersebut. Namun, rasa itu betul-betul dirasakan. Meski doa yang dibaca hanya basmallah. Tak detail seperti seorang muslim pada umumnya. Selama 8 tahun berlangsung, Yono memeluk dua agama. Islam dan nasrani.

- Advertisement -

Namun, tahun 2003, benar-benar membuat  ia harus membuat keputusan besar di kehidupannya. Menjadi seorang muslim tulen. ’’Saya benar-benar hanya memeluk Islam saat menikah dengan istri saya,’’ beber dia.

Baca Juga :  Terlahir di Lingkungan Nonmuslim

Keputusannya itu membuat kegaduhan luar biasa. Karena ia harus bersinggungan dengan keluarga. Orang tua dan keluarga yang mayoritas nonmuslim tak menyetujuinya. Namun, perseteruan itu mereda setelah anak pertamanya lahir. Semua menjadi baik dan hubungan dengan keluarga kembali membaik.

Kini, Yono hidup tenteram bersama keluarga kecilnya di Desa Ngarjo, Kecamatan Jatirejo. Di kampung ini, ia ingin menjalankan ibadah selama Ramadan dengan sangat tenang.

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/