alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

UMM-Kemenlu Gelar Debriefing Kepala Perwakilan RI

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri (BPPK Kemlu) menggelar Debriefing Kepala Perwakilan Republik Indonesia, Jumat (29/1). Kegiatan ini dihadiri Duta Besar LBBP RI untuk Republik Kolombia H.E. Priyo yang merangkap Antigua dan Barbuda, Saint Cristopher dan Nevis, dan Rektor UMM, Dr. Fauzan M.Pd. Turut hadir Direktur Utama Amerika II, Darianto Harsono serta jajaran pejabat kampus UMM. Selain itu juga menghadirkan secara virtual kepala BPPK Kemlu, Dr. Siswo Pramono, LL.M.

Duta Besar LBBP Ri untuk Republik Bolivar Venezuela merangkap Persemakmuran Dominika, Grenada, Saint Lucia, Saint Vincent dan The Grenadines dan Trinidad dan Tobago periode 2016-2020 H.E. Mochammad Luthfie Witto’eng dan Duta Besar LBBP RI untuk Republik Mozambik merangkap Republik Malawi periode 2016-2020 H.E. Tito Dos Santos Baptista didapuk mengisi forum tersebut.

Agenda ini diikuti lebih dari 800 peserta dan dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Siswo Pramono. Ia menjelaskan, agenda ini menjadi wadah penyampaian pertanggungjawaban publik bagi para kepala perwakilan Indonesia, khususnya yang telah menyelesaikan pengabdiannya di luar negeri.

Siswo berharap forum ini bisa menyajikan informasi terkait pelaksanaan visi dan misi yang sudah diamanatkan kepada para kepala perwakilan. ’’Pada acara-acara seperti ini, kita juga bisa mendapatkan masukan-masukan langsung dari para pakar, akademisi dan masyarakat,” lanjutnya.

Baca Juga :  Seribu Pemuda Bangun Entrepreneur di Jambore Kebangsaan

Dalam kesempatan yang sama, Fauzan menegaskan, debriefing yang terlaksana tentu dapat memberikan informasi lebih lanjut terkait kondisi wilayah di mana para duta besar bertugas. Ia menilai ada berbagai hal menarik dan penting yang bisa ditindak lanjuti. Sejalan dengan banyaknya ide yang nantinya dikerjakan bersama dengan negara-negara tersebut.

Usai sambutan, debriefing dimulai dengan paparan materi dari Mochammad Luthfie Witto’eng terkait wilayah di mana ia mengabdi, utamanya Venezuela. Ia mengatakan, Venezuela mengalami rentetan krisis, mulai dari krisis politik hingga ekonomi. Ketegangan antara pemerintah dan oposisi masih terus berlangsung, hingga puncaknya Juan Guaido naik menjadi presiden interim, padahal Maduro masih menjadi presiden bagi Venezuela.

Negara tersebut juga tak lepas dari krisis ekonomi. Meski dikenal sebagai salah satu negara dengan penghasil minyak terbesar, mereka tidak bisa lari dari jeratan krisis ekonomi. Salah satu penyebabnya adalah nasionalisasi perusahaan minyak yang diberikan kepada pihak tak berkompeten. Selain itu ketersediaan subsidi yang terlampau besar membuat masyarakat menjadi manja. “Hingga akhirnya ketika harga minyak turun, krisis ekonomi menerpa Venezuela. Subsidi dikurangi, utamanya pada aspek kesehatan,” ungkap Luthfie.

Meski demikian, pihak KBRI Indonesia masih terus berusaha untuk menjalin kerja sama. Mereka sempat menggelar business meeting yang mendorong pengusaha Venezuela untuk membangun hubungan perdagangan dengan Indonesia. ’’Sayangnya, krisis ekonomi belum berakhir. Ditambah lagi dengan kondisi pandemi seperti ini. Jadi tidak bisa dilaksanakan dengan maksimal,” terangnya lebih lanjut.

Baca Juga :  Manfaatkan Waktu Senggang, Sebulan Produksi Empat Kodi

Forum tersebut kembali dilanjutkan dengan paparan dari Tito Dos Santos Baptista. Ia menggambarkan tantangan, dinamika dan kondisi politik serta ekonomi Mozambik dan Malawi. Meski kedutaan di Mozambik baru dibuka pada tahun 2009, namun sudah memberikan peningkatan kualitas kerja sama. Ia menilai aspek ekonomi khususnya investasi harus lebih didorong lagi agar bisa memberi dampak lebih.

Tito juga berharap agar Mozambik bisa menjadi entry gate untuk produk-produk Indonesia ke negara-negara tetangga di Afrika. Di samping itu, Mozambik juga bisa menjadi negara strategis mengingat dukungannya terhadap Indonesia di PBB yang cukup baik. “Tak lupa sektor budaya yang perlu dikembangkan lagi karena dapat membantu kerja sama di bidang-bidang lainnya,” terangnya.

Pada akhir forum, Dr. Ben Perkasa Drajat selaku kepala pusat pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa menyimpulkan bahwa ada banyak hal menarik yang sudah disampaikan oleh kedua pemateri. Hal-hal tersebut bisa diteliti dan dikaji lebih lanjut agar bisa memberikan manfaat bagi orang lain. “Menurut saya, banyak fenomena unik yang bisa dikaji lebih dalam. Sebut saja hubungan ekonomi yang malah smeakin baik antara Indonesia dan Venezuela, padahal berada di tengah situasi pandemi,” pungkasnya di akhir acara. (umm/ron)

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri (BPPK Kemlu) menggelar Debriefing Kepala Perwakilan Republik Indonesia, Jumat (29/1). Kegiatan ini dihadiri Duta Besar LBBP RI untuk Republik Kolombia H.E. Priyo yang merangkap Antigua dan Barbuda, Saint Cristopher dan Nevis, dan Rektor UMM, Dr. Fauzan M.Pd. Turut hadir Direktur Utama Amerika II, Darianto Harsono serta jajaran pejabat kampus UMM. Selain itu juga menghadirkan secara virtual kepala BPPK Kemlu, Dr. Siswo Pramono, LL.M.

Duta Besar LBBP Ri untuk Republik Bolivar Venezuela merangkap Persemakmuran Dominika, Grenada, Saint Lucia, Saint Vincent dan The Grenadines dan Trinidad dan Tobago periode 2016-2020 H.E. Mochammad Luthfie Witto’eng dan Duta Besar LBBP RI untuk Republik Mozambik merangkap Republik Malawi periode 2016-2020 H.E. Tito Dos Santos Baptista didapuk mengisi forum tersebut.

Agenda ini diikuti lebih dari 800 peserta dan dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Siswo Pramono. Ia menjelaskan, agenda ini menjadi wadah penyampaian pertanggungjawaban publik bagi para kepala perwakilan Indonesia, khususnya yang telah menyelesaikan pengabdiannya di luar negeri.

Siswo berharap forum ini bisa menyajikan informasi terkait pelaksanaan visi dan misi yang sudah diamanatkan kepada para kepala perwakilan. ’’Pada acara-acara seperti ini, kita juga bisa mendapatkan masukan-masukan langsung dari para pakar, akademisi dan masyarakat,” lanjutnya.

Baca Juga :  Tim Damkar Kota Evakuasi Ular Hitam di Perumahan Griya Permata Meri

Dalam kesempatan yang sama, Fauzan menegaskan, debriefing yang terlaksana tentu dapat memberikan informasi lebih lanjut terkait kondisi wilayah di mana para duta besar bertugas. Ia menilai ada berbagai hal menarik dan penting yang bisa ditindak lanjuti. Sejalan dengan banyaknya ide yang nantinya dikerjakan bersama dengan negara-negara tersebut.

Usai sambutan, debriefing dimulai dengan paparan materi dari Mochammad Luthfie Witto’eng terkait wilayah di mana ia mengabdi, utamanya Venezuela. Ia mengatakan, Venezuela mengalami rentetan krisis, mulai dari krisis politik hingga ekonomi. Ketegangan antara pemerintah dan oposisi masih terus berlangsung, hingga puncaknya Juan Guaido naik menjadi presiden interim, padahal Maduro masih menjadi presiden bagi Venezuela.

- Advertisement -

Negara tersebut juga tak lepas dari krisis ekonomi. Meski dikenal sebagai salah satu negara dengan penghasil minyak terbesar, mereka tidak bisa lari dari jeratan krisis ekonomi. Salah satu penyebabnya adalah nasionalisasi perusahaan minyak yang diberikan kepada pihak tak berkompeten. Selain itu ketersediaan subsidi yang terlampau besar membuat masyarakat menjadi manja. “Hingga akhirnya ketika harga minyak turun, krisis ekonomi menerpa Venezuela. Subsidi dikurangi, utamanya pada aspek kesehatan,” ungkap Luthfie.

Meski demikian, pihak KBRI Indonesia masih terus berusaha untuk menjalin kerja sama. Mereka sempat menggelar business meeting yang mendorong pengusaha Venezuela untuk membangun hubungan perdagangan dengan Indonesia. ’’Sayangnya, krisis ekonomi belum berakhir. Ditambah lagi dengan kondisi pandemi seperti ini. Jadi tidak bisa dilaksanakan dengan maksimal,” terangnya lebih lanjut.

Baca Juga :  Kota Terapkan Kurikulum 2013

Forum tersebut kembali dilanjutkan dengan paparan dari Tito Dos Santos Baptista. Ia menggambarkan tantangan, dinamika dan kondisi politik serta ekonomi Mozambik dan Malawi. Meski kedutaan di Mozambik baru dibuka pada tahun 2009, namun sudah memberikan peningkatan kualitas kerja sama. Ia menilai aspek ekonomi khususnya investasi harus lebih didorong lagi agar bisa memberi dampak lebih.

Tito juga berharap agar Mozambik bisa menjadi entry gate untuk produk-produk Indonesia ke negara-negara tetangga di Afrika. Di samping itu, Mozambik juga bisa menjadi negara strategis mengingat dukungannya terhadap Indonesia di PBB yang cukup baik. “Tak lupa sektor budaya yang perlu dikembangkan lagi karena dapat membantu kerja sama di bidang-bidang lainnya,” terangnya.

Pada akhir forum, Dr. Ben Perkasa Drajat selaku kepala pusat pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa menyimpulkan bahwa ada banyak hal menarik yang sudah disampaikan oleh kedua pemateri. Hal-hal tersebut bisa diteliti dan dikaji lebih lanjut agar bisa memberikan manfaat bagi orang lain. “Menurut saya, banyak fenomena unik yang bisa dikaji lebih dalam. Sebut saja hubungan ekonomi yang malah smeakin baik antara Indonesia dan Venezuela, padahal berada di tengah situasi pandemi,” pungkasnya di akhir acara. (umm/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/