alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

28 Desa Dihantui Banjir dan Longsor, Berikut Nama-Nama Desanya

MOJOKERTO – Di tengah memasuki cuaca ekstrem kewaspadaan dan kesiapsiagaan warga masih harus ditingkatkan. Menyusul, ancaman bencana banjir dan tanah longsor masih berpotensi terjadi.

Di antara yang terpetakan mengalami kerawanan bencana tersebut menyentuh 28 desa tersebar di lima kecamatan di Kabupaten Mojokerto. ”Hal itu disebabkan karena gundulnya hutan yang semakin banyak di kawasan kabupaten.

Sehingga, saat musim hujan ini, tingginya curah hujan bisa menjadi pemicu terjadinya bencana tanah longsor,” kata Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto M. Zaini kemarin. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto menyebutkan, 28 desa dari lima kecamatan. Yakni, Trawas, Pacet, Gondang, Jatirejo, dan Ngoro.

Di Kecamatan Trawas terdapat lima desa. Yaitu, Desa Kedungudi, Kesiman, Ketapanrame, Seloliman, dan Trawas. Sedangkan tujuh desa di Kecamatan Pacet, masing-masing Desa Kuripansari, Kemiri, Kesimantengah, Pacet, Padusan, Sajen, dan Wiyu. Di Kecamatan Gondang tercatat ada enam desa. Yaitu, Desa Begaganlimo, Gumeng, Jatidukuh, Kalikatir, Ngembat, dan Wonoploso.

Baca Juga :  Jalan Ambles, Truk Sirtu Terguling di Watu Blorok

Selain itu, ada delapan desa di Kecamatan Jatirejo. Masing-masing Desa Bleberan, Jatirejo, Jembul, Lebakjabung, Manting, Rejosari, Sumberjati, dan Tawangrejo. Selebihnya ada dua desa di Kecamatan Ngoro. Yakni, Desa Kunjorowesi dan Manduromanggunggajah.

Zaini mengungkapkan, tingkat kerawanan ancaman bencana longsor juga dipicu oleh maraknya aktivitas pertambangan pasir dan galian C (sirtu) di wilayah kabupaten belakangan ini. Sehingga ke depan, dibutuhkan evaluasi dan pembenahan lingkungan. Salah satunya adalah kewajiban reklamasi bagi para pengusaha atau pemilik tambang galian C dan pasir.

Seperti diberitakan sebelumnya, terakhir bencana longsor terjadi  di jalur Cangar-Pacet km 6. Tebing dengan ketinggian sekitar empat meter dan lebar sekitar tiga meter ambrol setelah hujan deras mengguyur wilayah Pacet pada malam harinya.

Baca Juga :  Terapkan Prokes Ekstraketat dan Virtual

Pohon cemara gunung, dan material tanah membawa bebatuan yang longsor menutupi separo jalan. Sehingga arus lalu lintas sempat tersendat beberapa saat. Zaini menambahkan, saat ini, pemantauan perlu dilakukan oleh semua pihak. Dengan memanfaatkan aplikasi Sistim Informasi Mojokerto Bencana (SIMONA) yang bisa diakses oleh semua masyarakat melalui android atau smartphone.

Sehingga, antisipasi atau tindakan bisa dilakukan sebelum bencana tanah longsor benar-benar terjadi. ”Masyarakat semua bisa memantau cuaca dari program SIMONA guna mewaspadai perubahan cuaca,” pungkasnya. (sad/ris)

 

MOJOKERTO – Di tengah memasuki cuaca ekstrem kewaspadaan dan kesiapsiagaan warga masih harus ditingkatkan. Menyusul, ancaman bencana banjir dan tanah longsor masih berpotensi terjadi.

Di antara yang terpetakan mengalami kerawanan bencana tersebut menyentuh 28 desa tersebar di lima kecamatan di Kabupaten Mojokerto. ”Hal itu disebabkan karena gundulnya hutan yang semakin banyak di kawasan kabupaten.

Sehingga, saat musim hujan ini, tingginya curah hujan bisa menjadi pemicu terjadinya bencana tanah longsor,” kata Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto M. Zaini kemarin. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto menyebutkan, 28 desa dari lima kecamatan. Yakni, Trawas, Pacet, Gondang, Jatirejo, dan Ngoro.

Di Kecamatan Trawas terdapat lima desa. Yaitu, Desa Kedungudi, Kesiman, Ketapanrame, Seloliman, dan Trawas. Sedangkan tujuh desa di Kecamatan Pacet, masing-masing Desa Kuripansari, Kemiri, Kesimantengah, Pacet, Padusan, Sajen, dan Wiyu. Di Kecamatan Gondang tercatat ada enam desa. Yaitu, Desa Begaganlimo, Gumeng, Jatidukuh, Kalikatir, Ngembat, dan Wonoploso.

Baca Juga :  Hijrah Membawa Berkah

Selain itu, ada delapan desa di Kecamatan Jatirejo. Masing-masing Desa Bleberan, Jatirejo, Jembul, Lebakjabung, Manting, Rejosari, Sumberjati, dan Tawangrejo. Selebihnya ada dua desa di Kecamatan Ngoro. Yakni, Desa Kunjorowesi dan Manduromanggunggajah.

Zaini mengungkapkan, tingkat kerawanan ancaman bencana longsor juga dipicu oleh maraknya aktivitas pertambangan pasir dan galian C (sirtu) di wilayah kabupaten belakangan ini. Sehingga ke depan, dibutuhkan evaluasi dan pembenahan lingkungan. Salah satunya adalah kewajiban reklamasi bagi para pengusaha atau pemilik tambang galian C dan pasir.

- Advertisement -

Seperti diberitakan sebelumnya, terakhir bencana longsor terjadi  di jalur Cangar-Pacet km 6. Tebing dengan ketinggian sekitar empat meter dan lebar sekitar tiga meter ambrol setelah hujan deras mengguyur wilayah Pacet pada malam harinya.

Baca Juga :  Waspadai Musim Pancaroba

Pohon cemara gunung, dan material tanah membawa bebatuan yang longsor menutupi separo jalan. Sehingga arus lalu lintas sempat tersendat beberapa saat. Zaini menambahkan, saat ini, pemantauan perlu dilakukan oleh semua pihak. Dengan memanfaatkan aplikasi Sistim Informasi Mojokerto Bencana (SIMONA) yang bisa diakses oleh semua masyarakat melalui android atau smartphone.

Sehingga, antisipasi atau tindakan bisa dilakukan sebelum bencana tanah longsor benar-benar terjadi. ”Masyarakat semua bisa memantau cuaca dari program SIMONA guna mewaspadai perubahan cuaca,” pungkasnya. (sad/ris)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/