alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

15 Dusun Disapu Puting Beliung, 12 Rumah Rusak Berat

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto menyatakan, dari hasil assessment bencana angin kencang yang terjadi Rabu (27/11) tidak hanya terjadi di wilayah Kemlagi. Namun, terpaan angin juga menyasar sebagian wilayah di Kecamatan Jetis. ’’Jadi, ada dua kecamatan. Tapi, sebagian besar ada di wilayah Kemlagi. Untuk di Jetis hanya satu rumah, di Dusun Ketapang, Desa Mojolebak,’’ kata Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, M. Zaini, kemarin.

Dari sejumlah desa yang terkena imbas angin, setidaknya tercatat 47 bangunan yang mengalami rusak sesuai data update tim reaksi cepat (TRC). Puluhan rumah yang mengalami rusak ringan, sedang, hingga berat itu tersebar di 15 dusun di utara Sungai Brantas. Rinciannya, 13 kategori bangunan warung ataun toko semi permanen, 30 unit rumah warga dan satu kandang sapi. ’’Selain itu, ada fasilitas umum, seperti masjid, gantangan burung, dan gedung balai pertanian,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Tiap Hari, Gelontor 16 Ribu Liter Air Bersih ke Kunjorowesi

Zaini menjelaskan, dari hasil evaluasi, sejumlah banguan yang roboh selain faktor angin kencang memang ada faktor lain. Yakni, karena kondisi bangunan semi permanen tersebut terbuat dari bambu. Bahkan, sebagian sudah lapuk termakan usia. ’’Kategorinya 10 persen mengalami rusak berat, 20 persen rusak sedang, dan selebihnya 60 persen alami rusak ringan,’’ terangnya.

Dikategorikan rusak berat lanjut Zaini, lantaran bangunan tersebut memang roboh atau ambruk lantaran tidak mampu menahan terpaan angin. Seperti yang menimpa Desa Pandankrajan. Meski sebagian besar bangunan mengalami kerusakan atap, ada dua warung dari 12 bangunan yang terdata mengalami rusak berat. Dua warung itu milik Sunar dan Ari. Bangunan diketahui rata dengan tanah. Tidak ada perabotan dan dagangan yang bisa diselamatkan.

Baca Juga :  Hujan Es di Mojokerto Karena Sirkulasi Siklonik

Sedangkan di Desa Mojowirno, terdapat tiga rumah yang mengalami rusak berat. Sebaliknya untuk kategori rusak sedang dan ringan diketahui karena banguan tersebut hanya mengalami kerusakan pada bagian atap yang tidak seberapa. ’’Tapi, sebagai upaya tanggap darurat, hari ini (kemarin, Red) sebagian besar kerusakan sudah diperbaiki. Kondisinya juga hampir selesai,’’ terangnya.

Namun, dari sejumlah kerusakan tidak bisa semua lantas ditangai. Itu setelah ada beberapa bangunan warung berdiri di atas bantaran sungai yang secara aturan tidak dibenarkan. Pun demikian dengan dua rumah milik warga. ’’Jadi, menurut hasil tinjauan di lapangan, dua rumah tersebut memang dalam taraf pembangunan yang belum selesai dan belum ditempati,’’ tandasnya.

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto menyatakan, dari hasil assessment bencana angin kencang yang terjadi Rabu (27/11) tidak hanya terjadi di wilayah Kemlagi. Namun, terpaan angin juga menyasar sebagian wilayah di Kecamatan Jetis. ’’Jadi, ada dua kecamatan. Tapi, sebagian besar ada di wilayah Kemlagi. Untuk di Jetis hanya satu rumah, di Dusun Ketapang, Desa Mojolebak,’’ kata Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, M. Zaini, kemarin.

Dari sejumlah desa yang terkena imbas angin, setidaknya tercatat 47 bangunan yang mengalami rusak sesuai data update tim reaksi cepat (TRC). Puluhan rumah yang mengalami rusak ringan, sedang, hingga berat itu tersebar di 15 dusun di utara Sungai Brantas. Rinciannya, 13 kategori bangunan warung ataun toko semi permanen, 30 unit rumah warga dan satu kandang sapi. ’’Selain itu, ada fasilitas umum, seperti masjid, gantangan burung, dan gedung balai pertanian,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Tak Dapat BLT, Warga Ramai-Ramai Datangi Kantor Dinsos

Zaini menjelaskan, dari hasil evaluasi, sejumlah banguan yang roboh selain faktor angin kencang memang ada faktor lain. Yakni, karena kondisi bangunan semi permanen tersebut terbuat dari bambu. Bahkan, sebagian sudah lapuk termakan usia. ’’Kategorinya 10 persen mengalami rusak berat, 20 persen rusak sedang, dan selebihnya 60 persen alami rusak ringan,’’ terangnya.

Dikategorikan rusak berat lanjut Zaini, lantaran bangunan tersebut memang roboh atau ambruk lantaran tidak mampu menahan terpaan angin. Seperti yang menimpa Desa Pandankrajan. Meski sebagian besar bangunan mengalami kerusakan atap, ada dua warung dari 12 bangunan yang terdata mengalami rusak berat. Dua warung itu milik Sunar dan Ari. Bangunan diketahui rata dengan tanah. Tidak ada perabotan dan dagangan yang bisa diselamatkan.

Baca Juga :  Delapan Peserta Seleksi PPPK Dicoret

Sedangkan di Desa Mojowirno, terdapat tiga rumah yang mengalami rusak berat. Sebaliknya untuk kategori rusak sedang dan ringan diketahui karena banguan tersebut hanya mengalami kerusakan pada bagian atap yang tidak seberapa. ’’Tapi, sebagai upaya tanggap darurat, hari ini (kemarin, Red) sebagian besar kerusakan sudah diperbaiki. Kondisinya juga hampir selesai,’’ terangnya.

Namun, dari sejumlah kerusakan tidak bisa semua lantas ditangai. Itu setelah ada beberapa bangunan warung berdiri di atas bantaran sungai yang secara aturan tidak dibenarkan. Pun demikian dengan dua rumah milik warga. ’’Jadi, menurut hasil tinjauan di lapangan, dua rumah tersebut memang dalam taraf pembangunan yang belum selesai dan belum ditempati,’’ tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/