alexametrics
31.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 17, 2022

Jalan Rusak Berubah Seperti Sungai Lumpur

MOJOKERTO – Memasuki musim penghujan, belakangan ini membuat Desa Lakardowo dan Sidorejo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, rentan terisolir.

Menyusul, dua jalur yang menjadi akses utama masyarakat di utara Sungai Brantas tersebut mengalami kerusakan parah. Bahkan, konstruksi jalan tak ubahnya seperti sungai lumpur.

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, kerusakan terparah terjadi di jalan penghubung antardesa. Tepatnya di utara perempatan Jetis. Jalan kabupaten sepanjang sekitar 2 km ini kondisinya memperhatinkan.

Jalan dengan lebar sekitar 8 meter ini tak sedikitpun kondisinya bagus atau layak dilintasi. ’’Kondisi seperti ini sudah bertahun-tahun,’’ ungkap Rudianto, salah satu warga, Rabu (28/11).

Tak heran, kondisi ini membuat warga resah hingga. Sebab, sudah bertahun-tahun tak pernah tersentuh perbaikan. Seperti akses jalan lainnya. Jalanan ini seakan dibiarkan makin rusak.

’’Ini akses kita satu-satunya menuju tempat kerja atau ke kota,’’ tegasnya. Menurut Rudianto, belakangan ini jalanan kian memprihatinkan. Itu setelah jalan penghubung antardesa setiap harinya diguyur hujan deras.

Baca Juga :  Proyek Sekolah Belum Rampung, Rekanan Dijatuhi Denda

Selain membuat jalanan kian licin, jalan berubah menjadi sungai lumpur. Banyak kubangan-kubangan baru. Seperti lokasi galian C (sirtu). Diameternya cukup besar hingga 1 meter dengan kedalaman 30 cm.

Pengguna jalan pun wajib berhati-hati jika tak mau celaka. Utamanya pengendara sepeda motor. Selain rawan terpeleset dan terperopsok ke lumpur, juga rawan terkena percikan lumpur saat truk melintas.

’’Jadinya kami terisolir. Mau kemana-mana aksesnya sulit dan harus melewati jalan penuh lumpur. Ini hampir terjadi setiap musim hujan,’’ sesalnya.

Setidaknya ada dua desa yang ”terisolir” dan kena dampak akibat rusaknya jalan yang menjadi akses utama ke kota. Selain Desa Sidorejo juga Desa Lakardowo, desa dengan lima dusun ini dikepung akses jalan yang memprihatinkan.

Jika jalan sepanjang sekitar 2 km di utara Perempatan Jetis ini tak ubahnya seperti galian C. Akses barat yang menjadi jalan alternatif juga tak ubahnya areal persawahan.

Baca Juga :  Tujuh ODGJ Berusia Lansia Dibuang lalu Ditelantarkan

Jalanan ini melintang sekaligus memecah perbukitan di Dusun Gondang, Desa Parengan menuju Dusun Kedungpalang, Desa Lakardowo. ’’Jalannya seperti jalan ke sawah. Licin dan berlumpur,’’ tambah Juprianto, warga lainnya.

Ditambah tidak adanya penerangan jalan umum (PJU) di dua jalur ini. Saat malam hari membuat jalur tersebut rawan kecelakaan. ’’Bagi yang tidak tahu medan pasti terpeleset dan jatuh,’’ tuturnya.

Seperti dua atau tiga hari ini. Seorang pengendara sepeda motor harus berlumuran lumpur akibat terpelest dan terjatuh di kubangan jalan. ’’Harusnya, pemerintah itu hadir dan tidak tutup mata. Jangan hanya dituntut bayar pajak saja. Tapi, jalan rusak dibiarkan,’’ pungkasnya.

Sementara itu, Camat Jetis Iwan Abdillah menyatakan, dua jalur tersebut memang jauh dari kelayakan. ’’Saya juga cukup prihatin,’’ tuturnya.

Namun, situasi itu sebenarnya sudah menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Mojokerto sejak lama. ’’Kalau tidak salah, perbaikan masuk anggaran tahun 2019,’’ pungkas mantan Camat Trawas ini.

MOJOKERTO – Memasuki musim penghujan, belakangan ini membuat Desa Lakardowo dan Sidorejo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, rentan terisolir.

Menyusul, dua jalur yang menjadi akses utama masyarakat di utara Sungai Brantas tersebut mengalami kerusakan parah. Bahkan, konstruksi jalan tak ubahnya seperti sungai lumpur.

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, kerusakan terparah terjadi di jalan penghubung antardesa. Tepatnya di utara perempatan Jetis. Jalan kabupaten sepanjang sekitar 2 km ini kondisinya memperhatinkan.

Jalan dengan lebar sekitar 8 meter ini tak sedikitpun kondisinya bagus atau layak dilintasi. ’’Kondisi seperti ini sudah bertahun-tahun,’’ ungkap Rudianto, salah satu warga, Rabu (28/11).

- Advertisement -

Tak heran, kondisi ini membuat warga resah hingga. Sebab, sudah bertahun-tahun tak pernah tersentuh perbaikan. Seperti akses jalan lainnya. Jalanan ini seakan dibiarkan makin rusak.

’’Ini akses kita satu-satunya menuju tempat kerja atau ke kota,’’ tegasnya. Menurut Rudianto, belakangan ini jalanan kian memprihatinkan. Itu setelah jalan penghubung antardesa setiap harinya diguyur hujan deras.

Baca Juga :  Dimasak Pakai Kemaron, Pertahankan Resep Warisan Keluarga

Selain membuat jalanan kian licin, jalan berubah menjadi sungai lumpur. Banyak kubangan-kubangan baru. Seperti lokasi galian C (sirtu). Diameternya cukup besar hingga 1 meter dengan kedalaman 30 cm.

Pengguna jalan pun wajib berhati-hati jika tak mau celaka. Utamanya pengendara sepeda motor. Selain rawan terpeleset dan terperopsok ke lumpur, juga rawan terkena percikan lumpur saat truk melintas.

’’Jadinya kami terisolir. Mau kemana-mana aksesnya sulit dan harus melewati jalan penuh lumpur. Ini hampir terjadi setiap musim hujan,’’ sesalnya.

Setidaknya ada dua desa yang ”terisolir” dan kena dampak akibat rusaknya jalan yang menjadi akses utama ke kota. Selain Desa Sidorejo juga Desa Lakardowo, desa dengan lima dusun ini dikepung akses jalan yang memprihatinkan.

Jika jalan sepanjang sekitar 2 km di utara Perempatan Jetis ini tak ubahnya seperti galian C. Akses barat yang menjadi jalan alternatif juga tak ubahnya areal persawahan.

Baca Juga :  Dinilai Berisiko Tinggi, Warga Enggan Budidaya Lobster

Jalanan ini melintang sekaligus memecah perbukitan di Dusun Gondang, Desa Parengan menuju Dusun Kedungpalang, Desa Lakardowo. ’’Jalannya seperti jalan ke sawah. Licin dan berlumpur,’’ tambah Juprianto, warga lainnya.

Ditambah tidak adanya penerangan jalan umum (PJU) di dua jalur ini. Saat malam hari membuat jalur tersebut rawan kecelakaan. ’’Bagi yang tidak tahu medan pasti terpeleset dan jatuh,’’ tuturnya.

Seperti dua atau tiga hari ini. Seorang pengendara sepeda motor harus berlumuran lumpur akibat terpelest dan terjatuh di kubangan jalan. ’’Harusnya, pemerintah itu hadir dan tidak tutup mata. Jangan hanya dituntut bayar pajak saja. Tapi, jalan rusak dibiarkan,’’ pungkasnya.

Sementara itu, Camat Jetis Iwan Abdillah menyatakan, dua jalur tersebut memang jauh dari kelayakan. ’’Saya juga cukup prihatin,’’ tuturnya.

Namun, situasi itu sebenarnya sudah menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Mojokerto sejak lama. ’’Kalau tidak salah, perbaikan masuk anggaran tahun 2019,’’ pungkas mantan Camat Trawas ini.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/