alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Niki Yotro Kulo Tigang Riyal, Tumbas Bayem Kaleh Riyal

MAKKAH – Jamaah haji memilih beristirahat di hotel demi menyiapkan fisik menyambut puncak haji yang tinggal menghitung hari. Puncak haji atau wukuf di Arafah jatuh pada 9 Zulhijah atau 31 Agustus. Mereka juga mulai mempersiapkan belanja kebutuhan hidup selama penghentian jatah makanan oleh pihak katering yang ditunjuk pemerintah.

Tak jarang, jamaah memilih memasak sendiri dan berbelanja di sekitar hotel. Terlebih jatah makan distop sementara hingga 5 september nanti. Secara berkelompok, jamaah iuran untuk membeli peralatan memasak, hingga bahan-bahan makanan.

Hampir semua hotel yang ditempati jamaah haji Indonesia tersedia satu hingga dua toko bertuliskan Toko Indonesia. Dagangan yang dijual pun sebagian besar adalah kebutuhan sesuai selera jamaah. Macam sayur mayur. Pedagang tampak menyediakan terong, labu, oyong, ketimun, wortel, bahkan bayam dan kangkung.

Namun, harga jualnya memang lebih mahal dibanding di Tanah Air. Satu ikat kangkung dan bayam saja dihargai 2 riyal atau setara Rp 7 ribu. Sedangkan terong dijual 5 riyal per kg. Kentang dijual 15 riyal per kg. Aneka makanan khas Indonesia juga tersedia. Macam sambal terasi, mi instan, teh kotak, beras, hingga kerupuk. Terjadi tawar menawar antara ibu-ibu dengan si penjual asal India.

Baca Juga :  Pemda Terganjal Kewenangan

Meski kadang merasa keberatan, si penjual luluh juga. Dia mau menurunkan sedikit harga jual dagangannya. ”Enaknya, kita juga bisa menawar,” ujar Erni Istikomah, jamaah haji asal Desa Batankrajan, Kecamatan Gedeg. Tak jarang jamaah perempuan menawar menggunakan bahasa Jawa halus.

”Niki yotro kulo wau tigang riyal, tumbas bayem kaleh riyal, wangsulipun tigang riyal. Dereng njenengan wangsulne (Ini uang saya tadi lima riyal, buat beli bayam dua riyal, kembalinya tiga riyal),” kata seorang jamaah sembari meminta uang kembalian. Si penjual awalnya tidak paham, namun setelah memakai bahasa isyarat, akhirnya dia memahami apa yang dimaksud si pembeli.

Di kawasan hotel Nasaman Alkhair di Mahbas Jin, Makkah, setidaknya ada dua Toko Indonesia. Sehingga, setiap toko selalu ramai dikunjungi jamaah, termasuk dari Mojokerto. Sementara itu, Fahrus Sani, jamaah asal Puri mengaku, mendekati puncak haji, dia memilih melaksanakan salat di masjid dekat hotel Barakat Burhan, di wilayah Mahbas Jin.  “Istirahat menjaga kesehatan untuk puncak haji,” katanya.

Baca Juga :  Rekonstruksi Kecelakaan Bus di Tol Sumo, Mabes Polri Turunkan Tim TAA

Layanan bus salawat biasa mengantar jamaah dari hotel ke Masjidilharam akan dihentikan mulai 27agustus. Bus akan kembali beroperasi pada 5-26 September mendatang. Selain menyiapkan fisik, Fahrus yang tergabung dalam Kloter 81 SUB (Surabaya) juga menyiapkan bekal. Macam roti, kurma dan air selama di Armina. Kendati saat puncak haji di Armina (Arafah, Muzdalifah dan Mina) jamaah tetap menerima layanan katering.

”Saya juga menyiapkan obatan-obatan, vitamin, masker, dan payung untuk mengantisipasi cuaca panas,” tandasnya. Hal serupa dilakukan Sopi’i. Dia yang menjalankan ibadah haji bersama istrinya, tidak memaksakan diri salat ke Masjidilharam. Karena pertimbangan cuaca dan kepadatan jamaah. “Kami lebih memilih jaga kesehatan dengan pola makan dan minum vitaman,” katanya.

MAKKAH – Jamaah haji memilih beristirahat di hotel demi menyiapkan fisik menyambut puncak haji yang tinggal menghitung hari. Puncak haji atau wukuf di Arafah jatuh pada 9 Zulhijah atau 31 Agustus. Mereka juga mulai mempersiapkan belanja kebutuhan hidup selama penghentian jatah makanan oleh pihak katering yang ditunjuk pemerintah.

Tak jarang, jamaah memilih memasak sendiri dan berbelanja di sekitar hotel. Terlebih jatah makan distop sementara hingga 5 september nanti. Secara berkelompok, jamaah iuran untuk membeli peralatan memasak, hingga bahan-bahan makanan.

Hampir semua hotel yang ditempati jamaah haji Indonesia tersedia satu hingga dua toko bertuliskan Toko Indonesia. Dagangan yang dijual pun sebagian besar adalah kebutuhan sesuai selera jamaah. Macam sayur mayur. Pedagang tampak menyediakan terong, labu, oyong, ketimun, wortel, bahkan bayam dan kangkung.

Namun, harga jualnya memang lebih mahal dibanding di Tanah Air. Satu ikat kangkung dan bayam saja dihargai 2 riyal atau setara Rp 7 ribu. Sedangkan terong dijual 5 riyal per kg. Kentang dijual 15 riyal per kg. Aneka makanan khas Indonesia juga tersedia. Macam sambal terasi, mi instan, teh kotak, beras, hingga kerupuk. Terjadi tawar menawar antara ibu-ibu dengan si penjual asal India.

Baca Juga :  Bupati Ajak Masyarakat Vaksin dan Serahkan Dana Hibah untuk Masjid
- Advertisement -

Meski kadang merasa keberatan, si penjual luluh juga. Dia mau menurunkan sedikit harga jual dagangannya. ”Enaknya, kita juga bisa menawar,” ujar Erni Istikomah, jamaah haji asal Desa Batankrajan, Kecamatan Gedeg. Tak jarang jamaah perempuan menawar menggunakan bahasa Jawa halus.

”Niki yotro kulo wau tigang riyal, tumbas bayem kaleh riyal, wangsulipun tigang riyal. Dereng njenengan wangsulne (Ini uang saya tadi lima riyal, buat beli bayam dua riyal, kembalinya tiga riyal),” kata seorang jamaah sembari meminta uang kembalian. Si penjual awalnya tidak paham, namun setelah memakai bahasa isyarat, akhirnya dia memahami apa yang dimaksud si pembeli.

Di kawasan hotel Nasaman Alkhair di Mahbas Jin, Makkah, setidaknya ada dua Toko Indonesia. Sehingga, setiap toko selalu ramai dikunjungi jamaah, termasuk dari Mojokerto. Sementara itu, Fahrus Sani, jamaah asal Puri mengaku, mendekati puncak haji, dia memilih melaksanakan salat di masjid dekat hotel Barakat Burhan, di wilayah Mahbas Jin.  “Istirahat menjaga kesehatan untuk puncak haji,” katanya.

Baca Juga :  Danramil Gedeg dan 7 Bintara Jalani MPP

Layanan bus salawat biasa mengantar jamaah dari hotel ke Masjidilharam akan dihentikan mulai 27agustus. Bus akan kembali beroperasi pada 5-26 September mendatang. Selain menyiapkan fisik, Fahrus yang tergabung dalam Kloter 81 SUB (Surabaya) juga menyiapkan bekal. Macam roti, kurma dan air selama di Armina. Kendati saat puncak haji di Armina (Arafah, Muzdalifah dan Mina) jamaah tetap menerima layanan katering.

”Saya juga menyiapkan obatan-obatan, vitamin, masker, dan payung untuk mengantisipasi cuaca panas,” tandasnya. Hal serupa dilakukan Sopi’i. Dia yang menjalankan ibadah haji bersama istrinya, tidak memaksakan diri salat ke Masjidilharam. Karena pertimbangan cuaca dan kepadatan jamaah. “Kami lebih memilih jaga kesehatan dengan pola makan dan minum vitaman,” katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/