alexametrics
31.1 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Gudang Penyimpanan Ampas PG Hangus

MOJOKERTO – Kebakaran melanda kompleks industri pengolahan gula milik PTPN X, PG Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Senin (28/8) siang. Api membakar sebagian besar isi gudang penyimpanan yang berisi ampas tebu sisa produksi pengolahan gula itu. Akibatnya, aktivitas produksi pabrik terganggu akibat asap tebal yang menggelayuti komplek industri milik BUMN ini.

Pengamatan Jawa Pos Radar Mojokerto di lokasi, api mulai terlihat di bagian utara gudang. Di mana, api hampir saja melahap mesin ketel uap sebagai alat pembakaran gula. Api kemudian merembet ke arah selatan yang terdapat beberapa tumpukan ampas lainnya.

Dari hasil analisa sementara, munculnya api dimungkinkan akibat gesekan sekam ampas yang menumpuk hingga di ketinggian 5 meter. Bahkan, api dengan cepat menyambar tumpukan lain lantaran ampas masih mengandung alkohol sisa hasil fermentasi dari produksi gula. Sehingga, kepulan asap tebal tak bisa dihindarkan.

Baca Juga :  Bupati Sambangi Korban Pohon Tumbang

Situasi itupun membuat petugas keamanan pabrik bersama karyawan langsung berupaya memadamkan api. Lima unit mobil PMK dari PG Gempolkrep, Pemkot Mojokerto, Pemkab Mojokerto, dan PT Tjiwi Kimia diterjunkan untuk menjinakkan api. Akan tetapi, tiupan angin kencang dan kondisi ampas yang kering, memudahkan api merembet lebih luas. Kondisi ini membuat petugas bahu membahu menyemprotkan air ke titik-titik api yang paling besar agar api tidak merembet ke bagian lain.

Kepala Bagian Keamanan PG Gempolkrep, Didit Hari Setiawan mengakui jika api memang disebabkan oleh gesekan ampas tebu yang menumpuk. Ampas tersebut kemudian saling gesekan sehingga memunculkan percikan api. Nah, kecepatan api tak bisa dibendung lantaran ampas masih mengandung zat alkohol sisa fermentasi, sehingga api sulit dipadamkan. ’’Api muncul sekitar antara pukul 11.00 sampai 11.30. Lalu, kita menerjunkan lima unit PMK dan satu hydrant untuk memadamkan api. Memang, ampas tebu ini selain kering juga masih ada sisa fermentasi mengandung alkohol,’’ terangnya.

Baca Juga :  Gelar Berbagai Kegiatan dengan Protokol Kesehatan

Tak kurang satu setengah jam upaya penyemprotan oleh petugas membuat api bisa dipadamkan seluruhnya. Sehingga, tidak sampai merembet ke jaringan pengolahan lain. ’’Ternyata jauh dari pengolahan inti. Jadi, tidak membahayakan dan tidak terlalu mengganggu aktivitas produksi,’’ imbuhnya.

Didit menambahkan, ampas tebu tersebut sedianya tidak langsung dibuang. Hal ini karena ampas masih bisa dimanfaatkan kembali untuk produksi, yakni sebagai bahan bakar ketel uap untuk mengolah tebu menjadi gula. Untuk kerugian, sampai saat ini perusahaan belum bisa menaksir besaran dan nominalnya. ’’Ya, kan masih akan dimanfaatkan lagi untuk ketel uap di penggilingan tahun depan,’’ pungkasnya.

MOJOKERTO – Kebakaran melanda kompleks industri pengolahan gula milik PTPN X, PG Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Senin (28/8) siang. Api membakar sebagian besar isi gudang penyimpanan yang berisi ampas tebu sisa produksi pengolahan gula itu. Akibatnya, aktivitas produksi pabrik terganggu akibat asap tebal yang menggelayuti komplek industri milik BUMN ini.

Pengamatan Jawa Pos Radar Mojokerto di lokasi, api mulai terlihat di bagian utara gudang. Di mana, api hampir saja melahap mesin ketel uap sebagai alat pembakaran gula. Api kemudian merembet ke arah selatan yang terdapat beberapa tumpukan ampas lainnya.

Dari hasil analisa sementara, munculnya api dimungkinkan akibat gesekan sekam ampas yang menumpuk hingga di ketinggian 5 meter. Bahkan, api dengan cepat menyambar tumpukan lain lantaran ampas masih mengandung alkohol sisa hasil fermentasi dari produksi gula. Sehingga, kepulan asap tebal tak bisa dihindarkan.

Baca Juga :  PPDB SMP Negeri, Sekolah Pinggiran Sulit Penuhi Pagu

Situasi itupun membuat petugas keamanan pabrik bersama karyawan langsung berupaya memadamkan api. Lima unit mobil PMK dari PG Gempolkrep, Pemkot Mojokerto, Pemkab Mojokerto, dan PT Tjiwi Kimia diterjunkan untuk menjinakkan api. Akan tetapi, tiupan angin kencang dan kondisi ampas yang kering, memudahkan api merembet lebih luas. Kondisi ini membuat petugas bahu membahu menyemprotkan air ke titik-titik api yang paling besar agar api tidak merembet ke bagian lain.

- Advertisement -

Kepala Bagian Keamanan PG Gempolkrep, Didit Hari Setiawan mengakui jika api memang disebabkan oleh gesekan ampas tebu yang menumpuk. Ampas tersebut kemudian saling gesekan sehingga memunculkan percikan api. Nah, kecepatan api tak bisa dibendung lantaran ampas masih mengandung zat alkohol sisa fermentasi, sehingga api sulit dipadamkan. ’’Api muncul sekitar antara pukul 11.00 sampai 11.30. Lalu, kita menerjunkan lima unit PMK dan satu hydrant untuk memadamkan api. Memang, ampas tebu ini selain kering juga masih ada sisa fermentasi mengandung alkohol,’’ terangnya.

Baca Juga :  Gelar Berbagai Kegiatan dengan Protokol Kesehatan

Tak kurang satu setengah jam upaya penyemprotan oleh petugas membuat api bisa dipadamkan seluruhnya. Sehingga, tidak sampai merembet ke jaringan pengolahan lain. ’’Ternyata jauh dari pengolahan inti. Jadi, tidak membahayakan dan tidak terlalu mengganggu aktivitas produksi,’’ imbuhnya.

Didit menambahkan, ampas tebu tersebut sedianya tidak langsung dibuang. Hal ini karena ampas masih bisa dimanfaatkan kembali untuk produksi, yakni sebagai bahan bakar ketel uap untuk mengolah tebu menjadi gula. Untuk kerugian, sampai saat ini perusahaan belum bisa menaksir besaran dan nominalnya. ’’Ya, kan masih akan dimanfaatkan lagi untuk ketel uap di penggilingan tahun depan,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/