alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Air Zamzam Tak Laku, Kini Jahit Masker, Mukenah dan Daster

Keputusan pemerintah menangguhkan perjalanan ibadah umrah dan haji sejak dua musim terakhir, membuat toko oleh-oleh haji membeku. Toko ini nyaris tak bergerak. Berbagai barang terpajang di etalase toko, tak bergeser sedikit pun. Lalu, bagaimana mereka bertahan dengan kondisi ini?

YULIANTO ADI NUGROHO, Sooko, Jawa Pos Radar Mojokerto

Gerbang toko itu tertutup separo. Sebagian lampu ruangan sudah padam. Para pegawai sudah lebih dulu meninggalkan tempat. Di balik rak bagian belakang, Elok Faiqatul Himah duduk tenang. Jarum jam baru menunjukkan jam lima sore. Namun, tangannya masih terus bergerak. Seirama detak suara mesin jahit.

Pemilik toko oleh-oleh haji Al Hajj itu tengah menyelesaikan proses menjahit bahan mukenah dan nantinya akan bergabung dengan barang-barang lain yang terpajang di etalase. Wabah Covid-19 menggoncang usahanya yang selama ini mengandalkan keberangkatan ibadah ke tanah suci. Penanguhan penerbangan untuk menunaikan rukum Islam kelima itu membuat pelanggannya merosot drastis. ”Turunnya sekitar 85 persen sampai 90 persen,” ujarnya.

Namun demikian, usahanya tak mati total. Sejumlah pelanggan masih datang. Terutama mereka yang mencari kurma serta air zamzam. Tapi, tentunya bukan untuk oleh-oleh. ”Jadi kurma kan buat kesehatan. Untuk covid-19 itu kan sekarang bagus dianjurkan kurma dan zamzam,” terang Elok.

Baca Juga :  Rapat Awal Tahun, Plt Bupati Bahas TPP Model Baru

Dulu, sebelum pandemi menutup akses keluar masuk berbagai negara, berbagai barang di tokonya selalu jadi buruan. Mulai dari perlengkapan, oleh-oleh, hingga perabotan persiapan kedatangan dan kepergian haji dan umrah selalu laris. Kini, barang-barang itu bertahan di tempatnya.

Elok juga sudah lama tidak menyetok barang dari luar negeri lagi. Seperti air zamzam yang langsung didatangkannya dari tahan Arab. ”Terakhir datang zamzam itu waktu pandemi tapi masih ada umrah hanya beberapa bulan,” ungkapnya.

15 dari tujuh galon zamzam yang distok, hingga kini masih berjajar rapi di rak. Sebagaimana barang-barang lain seperti sajadah atau tasbih. Dua barang terakhir ini hampir tak laku sama sekali. ”Ada (yang beli) kadang-kadang buat tahlilan. Souvenir pernikahan gitu ada sebagian. Tapi turunnya drastis,” sebut dia.

Untuk melewati masa pandemi yang entah kapan ujungnya ini, Elok melakukan beragam siasat. Salah satunya dengan memproduksi kebutuhan selama pandemi seperti masker dan face shield, hingga mukenah dan daster yang kini sedang difokuskan. Barang-barang ini dipasarkannya sendiri di tokonya yang berada di Jalan Teratai, Desa/Kecamatan Sooko tersebut. ”Di awal pandemi pernah bikin masker, bikin face shield, sekarang terakhir bikin mukenah dan daster,” kata perempuan 33 tahun tersebut.

Baca Juga :  Baru Tiga Bulan, Pedestrian Sudah Rusak

Langkah taktis ini setidaknya berhasil menjaga roda perekomomian. ”Jadi terdampak haji dan umrah, saya tetap masih bisa bertahan. Cara ini pula yang membuat Elok tidak sampai merumahkan para pekerjanya yang mencapai 25 orang. Ada yang di bagian menjaga toko, produksi mukena, dan lainnya. Kendati pernah diliburkan sementara waktu, kini mereka setidaknya lebih optimis dalam menyongsong hari. ”Alhamdulillah tidak ada (pengurangan karyawan). Meskipun karyawan yang jahit sempat libur hampir mau satu tahun waktu pandemi awal itu,” jelas perempuan yang berdomisili di Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto itu. (ron)

Keputusan pemerintah menangguhkan perjalanan ibadah umrah dan haji sejak dua musim terakhir, membuat toko oleh-oleh haji membeku. Toko ini nyaris tak bergerak. Berbagai barang terpajang di etalase toko, tak bergeser sedikit pun. Lalu, bagaimana mereka bertahan dengan kondisi ini?

YULIANTO ADI NUGROHO, Sooko, Jawa Pos Radar Mojokerto

Gerbang toko itu tertutup separo. Sebagian lampu ruangan sudah padam. Para pegawai sudah lebih dulu meninggalkan tempat. Di balik rak bagian belakang, Elok Faiqatul Himah duduk tenang. Jarum jam baru menunjukkan jam lima sore. Namun, tangannya masih terus bergerak. Seirama detak suara mesin jahit.

Pemilik toko oleh-oleh haji Al Hajj itu tengah menyelesaikan proses menjahit bahan mukenah dan nantinya akan bergabung dengan barang-barang lain yang terpajang di etalase. Wabah Covid-19 menggoncang usahanya yang selama ini mengandalkan keberangkatan ibadah ke tanah suci. Penanguhan penerbangan untuk menunaikan rukum Islam kelima itu membuat pelanggannya merosot drastis. ”Turunnya sekitar 85 persen sampai 90 persen,” ujarnya.

Namun demikian, usahanya tak mati total. Sejumlah pelanggan masih datang. Terutama mereka yang mencari kurma serta air zamzam. Tapi, tentunya bukan untuk oleh-oleh. ”Jadi kurma kan buat kesehatan. Untuk covid-19 itu kan sekarang bagus dianjurkan kurma dan zamzam,” terang Elok.

Baca Juga :  Pemda Apresiasi Petugas Pemungut Pajak

Dulu, sebelum pandemi menutup akses keluar masuk berbagai negara, berbagai barang di tokonya selalu jadi buruan. Mulai dari perlengkapan, oleh-oleh, hingga perabotan persiapan kedatangan dan kepergian haji dan umrah selalu laris. Kini, barang-barang itu bertahan di tempatnya.

- Advertisement -

Elok juga sudah lama tidak menyetok barang dari luar negeri lagi. Seperti air zamzam yang langsung didatangkannya dari tahan Arab. ”Terakhir datang zamzam itu waktu pandemi tapi masih ada umrah hanya beberapa bulan,” ungkapnya.

15 dari tujuh galon zamzam yang distok, hingga kini masih berjajar rapi di rak. Sebagaimana barang-barang lain seperti sajadah atau tasbih. Dua barang terakhir ini hampir tak laku sama sekali. ”Ada (yang beli) kadang-kadang buat tahlilan. Souvenir pernikahan gitu ada sebagian. Tapi turunnya drastis,” sebut dia.

Untuk melewati masa pandemi yang entah kapan ujungnya ini, Elok melakukan beragam siasat. Salah satunya dengan memproduksi kebutuhan selama pandemi seperti masker dan face shield, hingga mukenah dan daster yang kini sedang difokuskan. Barang-barang ini dipasarkannya sendiri di tokonya yang berada di Jalan Teratai, Desa/Kecamatan Sooko tersebut. ”Di awal pandemi pernah bikin masker, bikin face shield, sekarang terakhir bikin mukenah dan daster,” kata perempuan 33 tahun tersebut.

Baca Juga :  Airlangga Hartarto: Vaksinasi Lindungi Ibu Hamil dan Bayi

Langkah taktis ini setidaknya berhasil menjaga roda perekomomian. ”Jadi terdampak haji dan umrah, saya tetap masih bisa bertahan. Cara ini pula yang membuat Elok tidak sampai merumahkan para pekerjanya yang mencapai 25 orang. Ada yang di bagian menjaga toko, produksi mukena, dan lainnya. Kendati pernah diliburkan sementara waktu, kini mereka setidaknya lebih optimis dalam menyongsong hari. ”Alhamdulillah tidak ada (pengurangan karyawan). Meskipun karyawan yang jahit sempat libur hampir mau satu tahun waktu pandemi awal itu,” jelas perempuan yang berdomisili di Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto itu. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/