alexametrics
31.1 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Akhiri Pertikaian Tiga Suku di Kongo

SATUAN Tugas (Satgas) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXIX-B Rapid Deployable Battalion (RDB) Mission de l’Organisation des Nations Unies pour La Stabilisation en République Démocratique du Congo (MONUSCO) berhasil mengakhiri pertikaian tiga suku di Desa Kashege, Kalemie Provinsi Tanganyika, Republik Demokratik Kongo.

Berakhirnya konflik ini ditandai dengan penyerahan 27 orang milisi, Kamis (25/6). Mereka terdiri dari 12 orang Kelompok Milisi Persi Kaomba pimpinan Mr. Mukonga Faliala, 7 orang dari Kelompok Milisi Aleluya pimpinan Bilenge Shindano, dan 8 orang dari Kelompok Apa na Pale pimpinan Mr. Kisidja Mwenge Salumu.

Tak hanya itu, penyerahan 24 senjata api (senpi) yang terdiri dari  21 pucuk senpi jenis AK-47, 3 pucuk senpi rakitan, 15 buah magazen, 51 busur panah berikut 63 anak panah, juga menjadi akhir konflik tiga suku tersebut.

Demikian itu disampaikan Komandan Satgas TNI Konga RDB Monusco Kongo Kolonel Inf. Daniel Lumbanraja saat penyerahan  24 pucuk senpi dan puluhan panah oleh tim Long Range Mission (LRM) Kompi Bravo IndoRDB yang dipimpin oleh Kapten Inf. Nuzul Sudjatmiko dan Letda Inf. Eka Rahmat Malpura kepada staf Monusco. Dalam hal ini Disarmament Demobilization Reintegration (DDR) yang juga dihadiri oleh Head of Office (HoO) Monusco wilayah Kalemie.

Penyerahan ini sebagai bentuk kesepakatan perdamaian antara tiga kelompok yang selama ini bertikai untuk memperebutkan kekayaan alam yang ada di daerah tersebut.

Baca Juga :  MAN 1 Kabupaten Mojokerto Gelar PPDB dan Sosialisasikan Program Unggulan

Keberhasilan tim LRM Satgas TNI Konga XXXIX-B Monusco Kongo untuk memediasi ketiga suku dan memperoleh 24 pucuk jenis AK-47 tersebut merupakan bentuk pelaksanaan dari mandat PBB. Yaitu Protection of Civilian (POC) atau perlindungan warga sipil, serta kepercayaan dari ex-combatan kepada Satgas TNI Konga XXXIX-B Monusco Kongo yang bekerja sama dengan tokoh adat. Baik itu kelompok perci Kaomba, Perci Aleluya maupun kelompok Apa Napaledi wilayah Area of Responsibility COB Kompi Bravo IndoRDB yang dipimpin Mayor Inf. Dikdik Sukayat.

Komandan Satgas TNI Konga RDB Monusco Kongo Kolonel Inf. Daniel Lumbanraja mengungkapkan, jika dilihat, orang milisi saat ini, beberapa di antara sudah tidak menganggap lagi bahwa hidup di hutan itu sebagai suatu pilihan  yang tepat. Mereka sebenarnya banyak menderita. Baik karena kekurangan makanan hingga kedinginan. ’’Apalagi mereka juga punya keluarga. Sebenarnya sudah sangat susah di hutan,’’ katanya.

Hanya saja, selama ini mereka belum tahu caranya untuk kembali ke masyarakat dengan aman. Baik bagi dirinya maupun keluarganya. Namun, berjalannya waktu, berkaca dari sejumlah teman yang sudah berhasil kembali, membuat mereka juga punya keinginan kuat mengikuti jejaknya. ’’Di sisi lain, IndoRDB juga berupaya meyakinkan keamanan meraka. Itu yang mendorong mereka ingin kembali ke masyarakat,’’ terangnya.

Baca Juga :  Disidak Bupati, PT Ajinomoto Telah Penuhi Standar Prokes Pemerintah

Selama tujuh bulan menjalankan misi, pola pendekatan sederhana kerap dilakukan tim satgas. Secara persuasif mereka terus melakukan pendekatan melalui kegiatan sosial. Di antaranya, terjun di tengah masyarakat dengan melakukan pengobatan gratis dan membuka perpustakaan mini. ’’Kebetulan tanah di sini juga subur. Sehingga saat lagi panen singkong, jagung, kami juga ajari mereka mengola secara tradisional. Dan itu berdampak positif kepada mereka dan keluarga,’’ tuturnya.

Alhasil, olahan itu nyatanya ikut dirasakan sampai keluarganya yang berada di hutan. Dari situ, akhirnya timbul rasa percaya kepada IndoRDB. ’’Akhirnya melalui kepala desa, tokoh adat dan menghubungi IndoRDB, kita fasilitasi sampai terjadi  proses mereka mau turun, kembali ke kehidupan normal bersama keluarga di masyarakat,’’ paparnya.

Alhasil selama tujuh bulan dalam menjalankan tugas di daerah misi, yaitu di Republik Demokratik Kongo, satgas berhasil mengumpulkan sebanyak 74 pucuk senjata. Terdiri 69 pucuk senjata api jenis AK-47, 2 pucuk jenis FAL, 3 pucuk senjata rakitan, 436 butir amunisi, 1 buah granat tangan, 75 busur dan 80 anak panah serta 233 orang milisi.

Selain menjalankan misi tersebut juga digelar kegiatan Civil Military Coordination (CIMIC) yang meliputi pelayanan kesehatan gratis, psychology lapangan dan perpustakaan mini, juga dilaksanakan pertemuan dengan kepala suku maupun tokoh adat setempat.

SATUAN Tugas (Satgas) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXIX-B Rapid Deployable Battalion (RDB) Mission de l’Organisation des Nations Unies pour La Stabilisation en République Démocratique du Congo (MONUSCO) berhasil mengakhiri pertikaian tiga suku di Desa Kashege, Kalemie Provinsi Tanganyika, Republik Demokratik Kongo.

Berakhirnya konflik ini ditandai dengan penyerahan 27 orang milisi, Kamis (25/6). Mereka terdiri dari 12 orang Kelompok Milisi Persi Kaomba pimpinan Mr. Mukonga Faliala, 7 orang dari Kelompok Milisi Aleluya pimpinan Bilenge Shindano, dan 8 orang dari Kelompok Apa na Pale pimpinan Mr. Kisidja Mwenge Salumu.

Tak hanya itu, penyerahan 24 senjata api (senpi) yang terdiri dari  21 pucuk senpi jenis AK-47, 3 pucuk senpi rakitan, 15 buah magazen, 51 busur panah berikut 63 anak panah, juga menjadi akhir konflik tiga suku tersebut.

Demikian itu disampaikan Komandan Satgas TNI Konga RDB Monusco Kongo Kolonel Inf. Daniel Lumbanraja saat penyerahan  24 pucuk senpi dan puluhan panah oleh tim Long Range Mission (LRM) Kompi Bravo IndoRDB yang dipimpin oleh Kapten Inf. Nuzul Sudjatmiko dan Letda Inf. Eka Rahmat Malpura kepada staf Monusco. Dalam hal ini Disarmament Demobilization Reintegration (DDR) yang juga dihadiri oleh Head of Office (HoO) Monusco wilayah Kalemie.

Penyerahan ini sebagai bentuk kesepakatan perdamaian antara tiga kelompok yang selama ini bertikai untuk memperebutkan kekayaan alam yang ada di daerah tersebut.

Baca Juga :  Pohon Tumbang Timpa Motor dan PJU

Keberhasilan tim LRM Satgas TNI Konga XXXIX-B Monusco Kongo untuk memediasi ketiga suku dan memperoleh 24 pucuk jenis AK-47 tersebut merupakan bentuk pelaksanaan dari mandat PBB. Yaitu Protection of Civilian (POC) atau perlindungan warga sipil, serta kepercayaan dari ex-combatan kepada Satgas TNI Konga XXXIX-B Monusco Kongo yang bekerja sama dengan tokoh adat. Baik itu kelompok perci Kaomba, Perci Aleluya maupun kelompok Apa Napaledi wilayah Area of Responsibility COB Kompi Bravo IndoRDB yang dipimpin Mayor Inf. Dikdik Sukayat.

- Advertisement -

Komandan Satgas TNI Konga RDB Monusco Kongo Kolonel Inf. Daniel Lumbanraja mengungkapkan, jika dilihat, orang milisi saat ini, beberapa di antara sudah tidak menganggap lagi bahwa hidup di hutan itu sebagai suatu pilihan  yang tepat. Mereka sebenarnya banyak menderita. Baik karena kekurangan makanan hingga kedinginan. ’’Apalagi mereka juga punya keluarga. Sebenarnya sudah sangat susah di hutan,’’ katanya.

Hanya saja, selama ini mereka belum tahu caranya untuk kembali ke masyarakat dengan aman. Baik bagi dirinya maupun keluarganya. Namun, berjalannya waktu, berkaca dari sejumlah teman yang sudah berhasil kembali, membuat mereka juga punya keinginan kuat mengikuti jejaknya. ’’Di sisi lain, IndoRDB juga berupaya meyakinkan keamanan meraka. Itu yang mendorong mereka ingin kembali ke masyarakat,’’ terangnya.

Baca Juga :  Mojokerto Kembali Disapu Angin, Pohon dan Tiang Listrik Tumbang

Selama tujuh bulan menjalankan misi, pola pendekatan sederhana kerap dilakukan tim satgas. Secara persuasif mereka terus melakukan pendekatan melalui kegiatan sosial. Di antaranya, terjun di tengah masyarakat dengan melakukan pengobatan gratis dan membuka perpustakaan mini. ’’Kebetulan tanah di sini juga subur. Sehingga saat lagi panen singkong, jagung, kami juga ajari mereka mengola secara tradisional. Dan itu berdampak positif kepada mereka dan keluarga,’’ tuturnya.

Alhasil, olahan itu nyatanya ikut dirasakan sampai keluarganya yang berada di hutan. Dari situ, akhirnya timbul rasa percaya kepada IndoRDB. ’’Akhirnya melalui kepala desa, tokoh adat dan menghubungi IndoRDB, kita fasilitasi sampai terjadi  proses mereka mau turun, kembali ke kehidupan normal bersama keluarga di masyarakat,’’ paparnya.

Alhasil selama tujuh bulan dalam menjalankan tugas di daerah misi, yaitu di Republik Demokratik Kongo, satgas berhasil mengumpulkan sebanyak 74 pucuk senjata. Terdiri 69 pucuk senjata api jenis AK-47, 2 pucuk jenis FAL, 3 pucuk senjata rakitan, 436 butir amunisi, 1 buah granat tangan, 75 busur dan 80 anak panah serta 233 orang milisi.

Selain menjalankan misi tersebut juga digelar kegiatan Civil Military Coordination (CIMIC) yang meliputi pelayanan kesehatan gratis, psychology lapangan dan perpustakaan mini, juga dilaksanakan pertemuan dengan kepala suku maupun tokoh adat setempat.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/