alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Saturday, June 25, 2022

Nama Desa Japan dari Bahasa Belanda

NAMA Desa Japan, yang terletak di Kecamatan Sooko nyaris terdengar mirip dengan nama internasional negara Jepang. Namun, siapa sangka, nyatanya penamaan desa tersebut tak ada kaitannya dengan negeri Sakura tersebut. Justru, asal-usul penamaan Japan merupakan nama wilayah yang menjadi tonggak sejarah penyebutan Kabupaten Mojokerto.

Soepardji, tokoh masyarakat Desa Japan mengatakan, penyebutan Japan sudah ada sebelum Kabupaten Mojokerto berdiri. Banyak masyarakat yang meyakini nama Japan berasal dari penyebutan orang-orang Belanda terhadap kaum pribumi kurang lebih sekitar tahun 1603-1604. Itu berasal dari kata Djapan yang berarti pemalas.

’’Kabupaten Japan dulunya merupakan pusat perdagangan dan pintu masuk. Sejak zaman Belanda memang sudah disebut Japan artinya pemalas, dicerminkan pada masyarakat pribumi waktu itu,’’ ungkap mantan Kepala Dusun Sugihan ini.

Pria 77 tahun ini menuturkan, di tahun 1709, Panembahan Senopati yang saat itu berkuasa di kerajaan Mataram memasukkan Kabupaten Japan menjadi wilayah kekuasaannya. Semasa itu, lanjut dia, daerah Kabupaten Japan sangat luas. Bahkan sudah mencapai daerah Canggu dan Wirosobo, Kabupaten Jombang.

Baca Juga :  Mojotirto Festival 2022, KemenPAN-RB Apresiasi Suguhan Permainan Tradisional

’’Waktu itu kepemimpinan berada di bawah wedono Bupati Mancanegara Wetan, tempat peristirahatannya ya di Balai Desa Japan itu, banyak yang percaya dulu balai desa tersebut juga sempat disinggahi Hayam Wuruk,’’ bebernya.

Tahun 1755 silam melalui perjanjian Giyanti, akhirnya wilayah Japan dimasukkan ke Kesultanan Yogyakarta. Namun, pada 1 Agustus 1812, wilayah tersebut diserahkan ke pemerintahan Inggris.

Sambung Soepardji, perubahan nama Japan itu diganti atas permintaan masyarakat setempat bertepatan dengan era pengerahan tenaga kerja tanam paksa di zaman kolonial Belanda. Itu setelah Inggris meninggalkan Indonesia dan menyerahkan pemerintahannya kembali ke Belanda pada tahun 19 Agustus 1816.

’’Karena dianggap tidak tepat dengan semangat kerja mereka semasa pengerahan kerja tanam paksa itu, akhirnya berubah menjadi Mojokerto berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 12 September 1838 No 14 tentang perubahan Kabupaten Japan menjadi Mojokerto,” paparnya. Adapun, pada masa ini wilayah Wirosobo dan Japan disatukan kembali dengan Kabupaten Japan.

Baca Juga :  Petani Hanya Dapat Ganti Benih Padi

Lebih jauh, Soepadji menuturkan, hingga saat ini penamaan Desa Japan menjadi salah satu momentum atau pengingat bagi warga. Bahwasanya Kabupaten Mojokerto dulunya sempat dinamai Kabupaten Japan. Diyakini, pusat keberadaannya berada di Desa Japan saat ini. Tiga dusun yang saat ini menjadi bagian dari

Desa Japan diyakini dulunya merupakan wilayah ibukota dari Kabupaten Japan yang bernama Jipang. ’’Mulai dari Dusun Sugihan, Daleman dan Kepindon ini dulunya wilayah ibukota Kabupaten Japan yang disebut Jipang saat kekuasaan Mataram. Makanya sekarang tiga dusun ini masuk dalam wilayah Desa Japan,’’ tandasnya. (oce/fen)

NAMA Desa Japan, yang terletak di Kecamatan Sooko nyaris terdengar mirip dengan nama internasional negara Jepang. Namun, siapa sangka, nyatanya penamaan desa tersebut tak ada kaitannya dengan negeri Sakura tersebut. Justru, asal-usul penamaan Japan merupakan nama wilayah yang menjadi tonggak sejarah penyebutan Kabupaten Mojokerto.

Soepardji, tokoh masyarakat Desa Japan mengatakan, penyebutan Japan sudah ada sebelum Kabupaten Mojokerto berdiri. Banyak masyarakat yang meyakini nama Japan berasal dari penyebutan orang-orang Belanda terhadap kaum pribumi kurang lebih sekitar tahun 1603-1604. Itu berasal dari kata Djapan yang berarti pemalas.

’’Kabupaten Japan dulunya merupakan pusat perdagangan dan pintu masuk. Sejak zaman Belanda memang sudah disebut Japan artinya pemalas, dicerminkan pada masyarakat pribumi waktu itu,’’ ungkap mantan Kepala Dusun Sugihan ini.

Pria 77 tahun ini menuturkan, di tahun 1709, Panembahan Senopati yang saat itu berkuasa di kerajaan Mataram memasukkan Kabupaten Japan menjadi wilayah kekuasaannya. Semasa itu, lanjut dia, daerah Kabupaten Japan sangat luas. Bahkan sudah mencapai daerah Canggu dan Wirosobo, Kabupaten Jombang.

Baca Juga :  Berantas Rokok Ilegal, Pemkot Gandeng Media dan Influencer

’’Waktu itu kepemimpinan berada di bawah wedono Bupati Mancanegara Wetan, tempat peristirahatannya ya di Balai Desa Japan itu, banyak yang percaya dulu balai desa tersebut juga sempat disinggahi Hayam Wuruk,’’ bebernya.

Tahun 1755 silam melalui perjanjian Giyanti, akhirnya wilayah Japan dimasukkan ke Kesultanan Yogyakarta. Namun, pada 1 Agustus 1812, wilayah tersebut diserahkan ke pemerintahan Inggris.

- Advertisement -

Sambung Soepardji, perubahan nama Japan itu diganti atas permintaan masyarakat setempat bertepatan dengan era pengerahan tenaga kerja tanam paksa di zaman kolonial Belanda. Itu setelah Inggris meninggalkan Indonesia dan menyerahkan pemerintahannya kembali ke Belanda pada tahun 19 Agustus 1816.

’’Karena dianggap tidak tepat dengan semangat kerja mereka semasa pengerahan kerja tanam paksa itu, akhirnya berubah menjadi Mojokerto berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 12 September 1838 No 14 tentang perubahan Kabupaten Japan menjadi Mojokerto,” paparnya. Adapun, pada masa ini wilayah Wirosobo dan Japan disatukan kembali dengan Kabupaten Japan.

Baca Juga :  Innalillahi! Ketua PC Muslimat NU Kota Mojokerto Berpulang

Lebih jauh, Soepadji menuturkan, hingga saat ini penamaan Desa Japan menjadi salah satu momentum atau pengingat bagi warga. Bahwasanya Kabupaten Mojokerto dulunya sempat dinamai Kabupaten Japan. Diyakini, pusat keberadaannya berada di Desa Japan saat ini. Tiga dusun yang saat ini menjadi bagian dari

Desa Japan diyakini dulunya merupakan wilayah ibukota dari Kabupaten Japan yang bernama Jipang. ’’Mulai dari Dusun Sugihan, Daleman dan Kepindon ini dulunya wilayah ibukota Kabupaten Japan yang disebut Jipang saat kekuasaan Mataram. Makanya sekarang tiga dusun ini masuk dalam wilayah Desa Japan,’’ tandasnya. (oce/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/