alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Ekonomi Masyarakat Memburuk, Kinerja Tim Covid-19 Dinilai Lemah

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kinerja satuan tugas Covid-19 di tingkat desa di Kabupaten Mojokerto perlu dievaluasi ulang. Karena sebagai garda terdepan, kerja mereka nyaris tak menyentuh hingga masyarakat bawah.

Hal itu terlihat dari hasil survei yang dilakukan Pengurus Cabang (PC) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Mojokerto, selama enam hari, terhitung sejak 16 April lalu.

Dari hasil jajak pendapat ini, menyebutkan, sebanyak 42 persen responden mengaku tak mengetahui lembaga yang dibentuk pemda tersebut. ’’Mereka tidak tahu ada atau tidaknya satuan tugas Covid-19 di tingkat desa,’’ tegas Ketua PC Lakpesdam NU Kabupaten Mojokerto Mi’rojul Huda.

Padahal, peran tim Covid-19 di tingkat desa sangat vital. Mereka harus bertanggung jawab terhadap keberadaan masyarakat dengan berbagai sebutan di pandemi Covid-19. Seperti orang dalam pemantauan (ODP), pasian dalam pengawasan (PDP), dan orang tanpa gejala (OTG).

Baca Juga :  Mojokerto Punya Stok Ratusan Janda Cabe-Cabean

Idealnya, relawan penanganan Covid-19 di tingkat desa, tak sekadar memasang banner dan membatasi akses masuk ke desa saja. Melainkan, memberikan edukasi dan sosialisasi, serta mendata warga yang terdampak secara ekonomi.

Survei yang menjamah 527 responden dan tersebar di 18 kecamatan di Kabupaten Mojokerto ini juga mencerminkan lemahnya sosialisasi ke masyarakat. Dari survei terlihat, sebanyak 69 persen responden tak mengetahui call center Covid-19 Kabupaten Mojokerto.

’’Hanya 31 persen saja yang tahu dan memahami adanya call center itu,’’ beber dia. Huda menegaskan, dampak Covid-19 di masyarakat Kabupaten Mojokerto menggerogoti sendi-sendi perekonomian warga. Lihat saja, sebanyak 15 persen responden mengaku tak akan mampu bertahan dengan kondisi ekonomi saat  ini.

Sedangkan, 51 persen mengaku ragu, dan sisanya 33,5 persen meyakini jika akan tetap bertahan dengan terpaan ekonomi di tengah Covid-19. Pesimisme yang dialami para responden itu karena mereka tak mampu memiliki stok bahan makanan dalam jangka panjang.

Baca Juga :  Gus Syafiq: Bacalon Harus Mampu Menjaga Marwah Ansor, Kiai, dan NKRI

Terdata, sebanyak 21,1 persen responden mengaku tak memiliki stok makanan, 44,6 persen memiliki stok makanan untuk bertahan beberapa hari saja, 10,1 persen dengan stok makanan beberapa bulan, dan sisanya 24,3 persen dengan stok bahan makanan untuk kebutuhan beberapa pekan.

Huda menambahkan, keraguan responden mampu bertahan di tengah pandemi korona, karena banyak ditemukan ekonomi masyarakat labil. ’’Apalagi, bantuan pemerintah yang selama ini didengungkan pemerintah, belum bisa dirasakan masyarakat,’’ tandas dia.

Dampak pandemi juga berpengaruh pada sektor ekonomi, terutama ekonomi masyarakat. Sebanyak 53,5 persen warga mengaku penghasilannya semakin memburuk, sementara sebanyak 49,5 persen warga juga menyatakan pengeluarannya meningkat selama pandemi berlangsung.

Secara umum, berbagai langkah antisipatif sudah dilakukan masyarakat secara luas. Seperti, aktivitas berjabat tangan sudah mulai dihindari. ’’Hanya 40 persen warga masih melakukan jabat tangan ketika bertemu orang lain,’’ tandas Huda. 

 

 

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kinerja satuan tugas Covid-19 di tingkat desa di Kabupaten Mojokerto perlu dievaluasi ulang. Karena sebagai garda terdepan, kerja mereka nyaris tak menyentuh hingga masyarakat bawah.

Hal itu terlihat dari hasil survei yang dilakukan Pengurus Cabang (PC) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Mojokerto, selama enam hari, terhitung sejak 16 April lalu.

Dari hasil jajak pendapat ini, menyebutkan, sebanyak 42 persen responden mengaku tak mengetahui lembaga yang dibentuk pemda tersebut. ’’Mereka tidak tahu ada atau tidaknya satuan tugas Covid-19 di tingkat desa,’’ tegas Ketua PC Lakpesdam NU Kabupaten Mojokerto Mi’rojul Huda.

Padahal, peran tim Covid-19 di tingkat desa sangat vital. Mereka harus bertanggung jawab terhadap keberadaan masyarakat dengan berbagai sebutan di pandemi Covid-19. Seperti orang dalam pemantauan (ODP), pasian dalam pengawasan (PDP), dan orang tanpa gejala (OTG).

Baca Juga :  Lahan Yang Diincar Pemkab Masih Berupa Ladang Tebu

Idealnya, relawan penanganan Covid-19 di tingkat desa, tak sekadar memasang banner dan membatasi akses masuk ke desa saja. Melainkan, memberikan edukasi dan sosialisasi, serta mendata warga yang terdampak secara ekonomi.

Survei yang menjamah 527 responden dan tersebar di 18 kecamatan di Kabupaten Mojokerto ini juga mencerminkan lemahnya sosialisasi ke masyarakat. Dari survei terlihat, sebanyak 69 persen responden tak mengetahui call center Covid-19 Kabupaten Mojokerto.

- Advertisement -

’’Hanya 31 persen saja yang tahu dan memahami adanya call center itu,’’ beber dia. Huda menegaskan, dampak Covid-19 di masyarakat Kabupaten Mojokerto menggerogoti sendi-sendi perekonomian warga. Lihat saja, sebanyak 15 persen responden mengaku tak akan mampu bertahan dengan kondisi ekonomi saat  ini.

Sedangkan, 51 persen mengaku ragu, dan sisanya 33,5 persen meyakini jika akan tetap bertahan dengan terpaan ekonomi di tengah Covid-19. Pesimisme yang dialami para responden itu karena mereka tak mampu memiliki stok bahan makanan dalam jangka panjang.

Baca Juga :  Gus Syafiq: Bacalon Harus Mampu Menjaga Marwah Ansor, Kiai, dan NKRI

Terdata, sebanyak 21,1 persen responden mengaku tak memiliki stok makanan, 44,6 persen memiliki stok makanan untuk bertahan beberapa hari saja, 10,1 persen dengan stok makanan beberapa bulan, dan sisanya 24,3 persen dengan stok bahan makanan untuk kebutuhan beberapa pekan.

Huda menambahkan, keraguan responden mampu bertahan di tengah pandemi korona, karena banyak ditemukan ekonomi masyarakat labil. ’’Apalagi, bantuan pemerintah yang selama ini didengungkan pemerintah, belum bisa dirasakan masyarakat,’’ tandas dia.

Dampak pandemi juga berpengaruh pada sektor ekonomi, terutama ekonomi masyarakat. Sebanyak 53,5 persen warga mengaku penghasilannya semakin memburuk, sementara sebanyak 49,5 persen warga juga menyatakan pengeluarannya meningkat selama pandemi berlangsung.

Secara umum, berbagai langkah antisipatif sudah dilakukan masyarakat secara luas. Seperti, aktivitas berjabat tangan sudah mulai dihindari. ’’Hanya 40 persen warga masih melakukan jabat tangan ketika bertemu orang lain,’’ tandas Huda. 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/