alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Wisata Kuliner Loreomah Jadi Mesin Pendongkrak PAD

Desa Kesiman, Kecamatan Trawas

Wisata Kuliner Loreomah, Desa Kesiman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, tergolong baru. Meski begitu, satu dari lima unit BUMDes Mitra Warga ini bisa meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) sekaligus mendongkrak perekonomian warga.

SESUAI namanya, Loreomah dibangun di atas tanah Tanah Kas Desa (TKD) yang merupakan ganjaran salah satu perangkat Desa Kesiman. Nama Loreomah sendiri, tak lepas dari istilah warga setempat untuk menyebutkan lokasi sawah yang berada di sisi utara rumah paling ujung di desa ini.
Konsep yang diusung Loreomah cukup sederhana. Memadukan bangunan semi permanen yang artistik dengan view menarik Gunung Penanggungan. Bangunan untuk pengunjung menikmati sajian kuliner dikonsep dengan bentuk gazebo bambu beratap ijuk. Di sini, terdapat sekitar lebih dari lima gazebo besar yang mampu menampung hingga ratusan pengunjung.
Kepala Desa Kesiman Helmi Affandi menjelaskan, BUMDes Kesiman memiliki lima unit usaha. Meliputi, usaha pengelolaan pasar desa, persewaan gedung serba guna, pengelohan sampah, Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM), dan terbaru Wisata Kuliner Loreomah. ’’Jika tahun lalu PAD dari BUMDes yang masuk desa Rp 65 juta, tahun 2022 ini kita proyeksikan bisa Rp 250 sampai Rp 300 juta,’’ ungkapnya.
Target peningkatan PAD ini bukan tanpa dasar. Menurutnya, proyeksi kenaikan hingga empat kali lipat dari tahun 2021 ini tak lain dengan adanya unit BUMDes anyar Wisata Kuliner Loreomah. Jika diambil rata-rata dalam tiga bulan terakhir, keberadaan Unit BUMDes Loreomah ini bisa menyumbang PAD paling besar dibanding empat unit lainnya. Yakni, Rp 15-17 juta per bulan. ’’Angka itu belum termasuk sewa TKD Rp 15 juta tiap tahunnya,’’ ujarnya.
Sehingga hemat Helmi, wisata kuliner yang buka akhir Maret 2021 ini bisa menjadi mesin pendongkrak PAD di 2022. ’’Kalau target kami, tahun ini, PAD dari BUMDes minimal Rp 20 juta per bulan. Rp 20 juta itu, bagi hasil 45 persen dari pendapatan total BUMDES Mitra Warga Desa Kesiman,’’ tegasnya.
Helmi menambahkan, kunci kesuksesan Loreomah tak lepas dari keseriusan pengelolaannya. Selain terus menawarkan konsep yang menarik bagi pengunjung, manajemen Loreomah juga menerapkan pengelolaan keuangan yang akuntabel. ’’Sistem keuangan mulai dari transaksi sampai pembelanjaan kita koneksikan dengan BUMDes. Jadi, semua detail keuangan Loreomah, BUMDes bisa ikut mengawasi,’’ jelasnya.
Wisata Kuliner Loreomah ini juga banyak membuka lapangan pekerjaan kalangan anak muda dan ibu rumah tangga. Ada sekitar 40 warga Kesiman dipekerjakan. Mulai dari bagian parkir, kasir, dapur, hingga pengisi hiburan live music. ’’Untuk operasional Loreomah, kita prioritaskan dari warga Kesiman sendiri,’’ tandas Helmi. (ori/fen)

Baca Juga :  Kota Mojokerto Zero Kasus Aktif Covid-19

Desa Kesiman, Kecamatan Trawas

Wisata Kuliner Loreomah, Desa Kesiman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, tergolong baru. Meski begitu, satu dari lima unit BUMDes Mitra Warga ini bisa meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) sekaligus mendongkrak perekonomian warga.

SESUAI namanya, Loreomah dibangun di atas tanah Tanah Kas Desa (TKD) yang merupakan ganjaran salah satu perangkat Desa Kesiman. Nama Loreomah sendiri, tak lepas dari istilah warga setempat untuk menyebutkan lokasi sawah yang berada di sisi utara rumah paling ujung di desa ini.
Konsep yang diusung Loreomah cukup sederhana. Memadukan bangunan semi permanen yang artistik dengan view menarik Gunung Penanggungan. Bangunan untuk pengunjung menikmati sajian kuliner dikonsep dengan bentuk gazebo bambu beratap ijuk. Di sini, terdapat sekitar lebih dari lima gazebo besar yang mampu menampung hingga ratusan pengunjung.
Kepala Desa Kesiman Helmi Affandi menjelaskan, BUMDes Kesiman memiliki lima unit usaha. Meliputi, usaha pengelolaan pasar desa, persewaan gedung serba guna, pengelohan sampah, Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM), dan terbaru Wisata Kuliner Loreomah. ’’Jika tahun lalu PAD dari BUMDes yang masuk desa Rp 65 juta, tahun 2022 ini kita proyeksikan bisa Rp 250 sampai Rp 300 juta,’’ ungkapnya.
Target peningkatan PAD ini bukan tanpa dasar. Menurutnya, proyeksi kenaikan hingga empat kali lipat dari tahun 2021 ini tak lain dengan adanya unit BUMDes anyar Wisata Kuliner Loreomah. Jika diambil rata-rata dalam tiga bulan terakhir, keberadaan Unit BUMDes Loreomah ini bisa menyumbang PAD paling besar dibanding empat unit lainnya. Yakni, Rp 15-17 juta per bulan. ’’Angka itu belum termasuk sewa TKD Rp 15 juta tiap tahunnya,’’ ujarnya.
Sehingga hemat Helmi, wisata kuliner yang buka akhir Maret 2021 ini bisa menjadi mesin pendongkrak PAD di 2022. ’’Kalau target kami, tahun ini, PAD dari BUMDes minimal Rp 20 juta per bulan. Rp 20 juta itu, bagi hasil 45 persen dari pendapatan total BUMDES Mitra Warga Desa Kesiman,’’ tegasnya.
Helmi menambahkan, kunci kesuksesan Loreomah tak lepas dari keseriusan pengelolaannya. Selain terus menawarkan konsep yang menarik bagi pengunjung, manajemen Loreomah juga menerapkan pengelolaan keuangan yang akuntabel. ’’Sistem keuangan mulai dari transaksi sampai pembelanjaan kita koneksikan dengan BUMDes. Jadi, semua detail keuangan Loreomah, BUMDes bisa ikut mengawasi,’’ jelasnya.
Wisata Kuliner Loreomah ini juga banyak membuka lapangan pekerjaan kalangan anak muda dan ibu rumah tangga. Ada sekitar 40 warga Kesiman dipekerjakan. Mulai dari bagian parkir, kasir, dapur, hingga pengisi hiburan live music. ’’Untuk operasional Loreomah, kita prioritaskan dari warga Kesiman sendiri,’’ tandas Helmi. (ori/fen)

Baca Juga :  Nataru, Seluruh Objek Wisata Buka

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/