alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Buka Pintu Lebar Gandeng Investor

SAAT ini, program pariwisata di Kabupaten Mojokerto fokus di sektor pembangunan wisata desa dan optimalisasi objek wisata (obwis) yang sudah ada. Kendati demikian, kawasan TBI dinilai menyimpan peluang besar untuk dikembangkan sebagai wisata bahari. Sehingga, pemkab membuka ruang seluas-seluasnya bagi pihak ketiga untuk berinvestasi.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Mojokerto Amat Susilo mengakui, potensi besar pengembangan wisata di kawasan TBI. Bahkan, hamparan sempadan sungai yang membentang di dua desa di Kecamatan Jetis dan Gedeg tersebut pernah dirancang sebagai kawasan wisata bahari pada periode kepemimpinan terdahulunya. ”Kita tidak memungkiri di situ (TBI, red) punya potensi besar,” katanya kemarin.

Potensi besar itu berkaitan dengan kawasan TBI yang berada di bantaran Sungai Brantas dan telah lama menjadi jujukan masyarakat. Peluang pembangunan kawasan sebagai tempat wisata terbuka dinilai sangat besar.

Baca Juga :  Jamaah Padati Masjidilharam, Suhu di Makkah Capai 46 Derajat Celsius

Namun demikian, beberapa faktor diakuinya membuat pemkab belum bisa banyak bergerak dalam waktu dekat. Pertama terkait status kawasan TBI yang berada di bawah naungan BBWS Brantas.

Amat menyebutkan, pembangunan wisata di TBI yang tak lain milik BBWS Brantas dibutuhkan proses panjang. Mulai dari koordinasi pengelolaan, bentuk kerja sama, serta teknis pembangunan. ”Panjang itu prosesnya karena terkait dengan kewenangan itu tadi,” ujarnya.

Di samping tahapan panjang tersebut, program pengembangan wisata saat ini tidak berpihak pada program yang dapat megakomodasi kawasan TBI. Menurut dia, program pembangunan wisata di Kabupaten Mojokerto saat ini berfokus pada pengembangan wisata desa serta optimalisasi obwis milik pemkab yang sudah berjalan.

Dengan hal ini, anggaran yang diplot belum memungkinkan untuk membangun TBI dalam waktu dekat. ”Sementara ini, kita mengelola (obwis) yang ada dan mengembangkan potensi wisata yang berdampak langsung dengan masyarakat dan desa,” lontar Amat.

Baca Juga :  Pohon Rawan Tumbang Tak Terpetakan

Lebih dari itu, anggaran yang dibutuhkan untuk membangunan TBI dinilainya tidak sedikit. Kendati belum bisa menyebut nilainya karena belum ada rencana ke sana, pihaknya menyebut nilai investasi di TBI sangat tinggi. Dengan beban modal yang besar, Amat menyebut, akan berbeda cerita jika pembangunan TBI disokong oleh pihak swasta atau pihak ketiga. ”Saya juga tidak tahu hitungannya (anggaran yang dibutuhkan, Red) berapa karena kita belum ada gambaran di situ. Yang jelas sangat besar sekali karena kita harus membangunan fasilitas-fasilitas di situ. Paling mudah ya mungkin kerja sama dengan pihak ketiga, para investor itu,” jelasnya. (adi/ron)

SAAT ini, program pariwisata di Kabupaten Mojokerto fokus di sektor pembangunan wisata desa dan optimalisasi objek wisata (obwis) yang sudah ada. Kendati demikian, kawasan TBI dinilai menyimpan peluang besar untuk dikembangkan sebagai wisata bahari. Sehingga, pemkab membuka ruang seluas-seluasnya bagi pihak ketiga untuk berinvestasi.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Mojokerto Amat Susilo mengakui, potensi besar pengembangan wisata di kawasan TBI. Bahkan, hamparan sempadan sungai yang membentang di dua desa di Kecamatan Jetis dan Gedeg tersebut pernah dirancang sebagai kawasan wisata bahari pada periode kepemimpinan terdahulunya. ”Kita tidak memungkiri di situ (TBI, red) punya potensi besar,” katanya kemarin.

Potensi besar itu berkaitan dengan kawasan TBI yang berada di bantaran Sungai Brantas dan telah lama menjadi jujukan masyarakat. Peluang pembangunan kawasan sebagai tempat wisata terbuka dinilai sangat besar.

Baca Juga :  Jamaah Padati Masjidilharam, Suhu di Makkah Capai 46 Derajat Celsius

Namun demikian, beberapa faktor diakuinya membuat pemkab belum bisa banyak bergerak dalam waktu dekat. Pertama terkait status kawasan TBI yang berada di bawah naungan BBWS Brantas.

Amat menyebutkan, pembangunan wisata di TBI yang tak lain milik BBWS Brantas dibutuhkan proses panjang. Mulai dari koordinasi pengelolaan, bentuk kerja sama, serta teknis pembangunan. ”Panjang itu prosesnya karena terkait dengan kewenangan itu tadi,” ujarnya.

Di samping tahapan panjang tersebut, program pengembangan wisata saat ini tidak berpihak pada program yang dapat megakomodasi kawasan TBI. Menurut dia, program pembangunan wisata di Kabupaten Mojokerto saat ini berfokus pada pengembangan wisata desa serta optimalisasi obwis milik pemkab yang sudah berjalan.

- Advertisement -

Dengan hal ini, anggaran yang diplot belum memungkinkan untuk membangun TBI dalam waktu dekat. ”Sementara ini, kita mengelola (obwis) yang ada dan mengembangkan potensi wisata yang berdampak langsung dengan masyarakat dan desa,” lontar Amat.

Baca Juga :  Vaksinasi Anak Capai 49 Persen

Lebih dari itu, anggaran yang dibutuhkan untuk membangunan TBI dinilainya tidak sedikit. Kendati belum bisa menyebut nilainya karena belum ada rencana ke sana, pihaknya menyebut nilai investasi di TBI sangat tinggi. Dengan beban modal yang besar, Amat menyebut, akan berbeda cerita jika pembangunan TBI disokong oleh pihak swasta atau pihak ketiga. ”Saya juga tidak tahu hitungannya (anggaran yang dibutuhkan, Red) berapa karena kita belum ada gambaran di situ. Yang jelas sangat besar sekali karena kita harus membangunan fasilitas-fasilitas di situ. Paling mudah ya mungkin kerja sama dengan pihak ketiga, para investor itu,” jelasnya. (adi/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/