alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

BPBD Sebar Alat Deteksi Dini Bencana

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Cuaca yang tak menentu di musim peralihan ini terus diwaspadai. Selain dilakukan mitigasi bencana, pemkab juga memasang alat deteksi dini berupa Early Warning System (EWS) di sejumlah wilayah sesuai pemetaan rawan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto M. Zaini menegaskan, musim pancaroba sekarang memang rawan terjadi bencana alam yang tak terduga. Mulai dari pohon tumbang, tanah longor, hingga banjir bandang. ’’Bencana alam bisa terjadi kapan saja. Makanya kita harus selalu waspada,’’ ungkapnya.

Sebagai antisipasi dini, selain getol melakukan mitigasi bencana dan membentuk desa tangguh bencana, belakangan pemasangan alat EWS juga jadi perioritas untuk mengetahui sejak dini sebelum terjadi bencana. Kondisi itu diharapkan mampu meminimalisir jatuhnya korban jiwa maupun material.

Terbaru, pemasangan alat yang diperoleh dari Universitas Gadjah Mada ini dilakukan di aliran Sungai Jatirejo. Sungai yang mengalir ke sungai Brangkal dan bermuara ke Sungai Brantas ini menjadi satu dari sejumlah sungai yang menjadi perhatian BPBD. Selain banyak ditemukan sumbatan sampah, tahun 2004 lalu, Sungai Brangkal pernah meluap yang mengakibatkan banjir bandang. ’’Jadi, jangan sampai peristiwa kelam itu terulang lagi. Antisipasi seperti apa? Salah satunya dengan pemasangan EWS,’’ katanya.

Baca Juga :  DDB Terus Mengganas, Belum Dua Bulan, 73 Warga Terserang

Di sepanjang sungai tersebut, dikatakan Zaini, bahkan ada dua EWS yang terpasang. Pertama, alat yang bisa mengirimkan sinyal bahaya dan terkoneksi dengan sistem di kantor Pusdalops BPBD di Jalan Raya Jabon, Kecamatan Mojoanyar, itu terpasang di hulu sungai. Tepat di sekitar Jembatan Plengkung, Desa Dinoyo, Kecamatan  Jatirejo. Satu lagi dipasang di Sungai Brangkal, Kecamatan Sooko. Tepatnya di samping Jembatan Murukan yang menjadi penghubung Kota dan Kabupaten Mojokerto. ’’Dua alat ini saling berhubungan. Jika ada peningkatan debit air, secara otomatis akan mengirimkan laporan sekaligus peringatan dini melalui sistem kami,’’ paparnya.

Peringatan ini sebagai deteksi dini petugas untuk bisa mengambil langkah pencegahan jika akan terjadi bencana. Termasuk peringatan kepada masyarakat sekitar juga secara otomatis akan mengikuti dengan tanda bunyi sirene. ’’Jangkauan suara terdengar sampai 0,5 kilometer. Karena pada dasarnya, deteksi dini ini bisa mampu meminimalisir jatuhnya korban jiwa maupun material,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Izin Penggunaan Darurat Vaksin Dapat Dikeluarkan, Ini Kata Prof Cissy

Selain dua titik itu, Zaini mengaku, setidaknya ada tujuh titik lagi yang sudah dipasang EWS. Antara lain, EWS Banjir dan Longsor (Bansor) di Desa Watonmasjedog, Kecamatan Ngoro; EWS Bansor di Desa Kemiri; EWS Banjir di Kali Kromong; EWS Banjir di Desa Padusan, Kecamatan Pacet; EWS Bansor di Sungai Klorak, Desa Kalikatir; EWS Banjir di Desa Dilem dan Begagan Limo, Kecamatan Gondang.

Dari hasil kajian, sejumlah titik yang menjadi prioritas pemasangan EWS tersebut karena dipetakan rawan dan pernah terjadi bencana. ’’Total sudah ada sembilan EWS yang kami pasang. Terdiri, tiga EWS Bansor, dan enam EWS Banjir,’’ ungkapnya. 

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Cuaca yang tak menentu di musim peralihan ini terus diwaspadai. Selain dilakukan mitigasi bencana, pemkab juga memasang alat deteksi dini berupa Early Warning System (EWS) di sejumlah wilayah sesuai pemetaan rawan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto M. Zaini menegaskan, musim pancaroba sekarang memang rawan terjadi bencana alam yang tak terduga. Mulai dari pohon tumbang, tanah longor, hingga banjir bandang. ’’Bencana alam bisa terjadi kapan saja. Makanya kita harus selalu waspada,’’ ungkapnya.

Sebagai antisipasi dini, selain getol melakukan mitigasi bencana dan membentuk desa tangguh bencana, belakangan pemasangan alat EWS juga jadi perioritas untuk mengetahui sejak dini sebelum terjadi bencana. Kondisi itu diharapkan mampu meminimalisir jatuhnya korban jiwa maupun material.

Terbaru, pemasangan alat yang diperoleh dari Universitas Gadjah Mada ini dilakukan di aliran Sungai Jatirejo. Sungai yang mengalir ke sungai Brangkal dan bermuara ke Sungai Brantas ini menjadi satu dari sejumlah sungai yang menjadi perhatian BPBD. Selain banyak ditemukan sumbatan sampah, tahun 2004 lalu, Sungai Brangkal pernah meluap yang mengakibatkan banjir bandang. ’’Jadi, jangan sampai peristiwa kelam itu terulang lagi. Antisipasi seperti apa? Salah satunya dengan pemasangan EWS,’’ katanya.

Baca Juga :  Airlangga Beri Semangat Pasien Covid-19

Di sepanjang sungai tersebut, dikatakan Zaini, bahkan ada dua EWS yang terpasang. Pertama, alat yang bisa mengirimkan sinyal bahaya dan terkoneksi dengan sistem di kantor Pusdalops BPBD di Jalan Raya Jabon, Kecamatan Mojoanyar, itu terpasang di hulu sungai. Tepat di sekitar Jembatan Plengkung, Desa Dinoyo, Kecamatan  Jatirejo. Satu lagi dipasang di Sungai Brangkal, Kecamatan Sooko. Tepatnya di samping Jembatan Murukan yang menjadi penghubung Kota dan Kabupaten Mojokerto. ’’Dua alat ini saling berhubungan. Jika ada peningkatan debit air, secara otomatis akan mengirimkan laporan sekaligus peringatan dini melalui sistem kami,’’ paparnya.

Peringatan ini sebagai deteksi dini petugas untuk bisa mengambil langkah pencegahan jika akan terjadi bencana. Termasuk peringatan kepada masyarakat sekitar juga secara otomatis akan mengikuti dengan tanda bunyi sirene. ’’Jangkauan suara terdengar sampai 0,5 kilometer. Karena pada dasarnya, deteksi dini ini bisa mampu meminimalisir jatuhnya korban jiwa maupun material,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Izin Penggunaan Darurat Vaksin Dapat Dikeluarkan, Ini Kata Prof Cissy
- Advertisement -

Selain dua titik itu, Zaini mengaku, setidaknya ada tujuh titik lagi yang sudah dipasang EWS. Antara lain, EWS Banjir dan Longsor (Bansor) di Desa Watonmasjedog, Kecamatan Ngoro; EWS Bansor di Desa Kemiri; EWS Banjir di Kali Kromong; EWS Banjir di Desa Padusan, Kecamatan Pacet; EWS Bansor di Sungai Klorak, Desa Kalikatir; EWS Banjir di Desa Dilem dan Begagan Limo, Kecamatan Gondang.

Dari hasil kajian, sejumlah titik yang menjadi prioritas pemasangan EWS tersebut karena dipetakan rawan dan pernah terjadi bencana. ’’Total sudah ada sembilan EWS yang kami pasang. Terdiri, tiga EWS Bansor, dan enam EWS Banjir,’’ ungkapnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/