alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Pemakaman Kiai Ud Dilepas dengan Pekikan Salawat Nabi

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Lantunan doa mengiringi pemakaman jenazah Mas’ud Yunus Kamis malam (27/8).

Sebelum mengembuskan napas terakhir, Wali Kota Mojokerto periode 2013-2018 ini sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga, Waru, Sidoarjo, pasca dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

Suasana haru menyelimuti rumah duka di kediaman Mas’ud Yunus di Lingkungan Kedung Mulang, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, malam tadi. Isak tangis pun pecah saat jenazah Yai Ud –sapaan akrab Mas’ud Yunus- tiba dengan menggunakan ambulans.

Setelah dilakukan salat jenazah, kemudian jasad almarhum langsung disemayamkan dengan standar protokol Covid-19 di Makam Islam Kedung Mulang, Jalan Perum CSE Surodinawan atau sisi barat kantor PC NU Kota Mojokerto.

Siti Amsiyah, istri Mas’ud Yunus, masih ingat betul pesan terakhir dari mendiang suaminya. Sebelum tutup usia, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Mojokerto ini sempat mengingatkan dia untuk waspada terhadap virus korona. ’’Saya disuruh hati-hati di dalam masa korona yang kedua ini,’’ terangnya usai melepas jenazah suaminya.

Siti Amsiyah menceritakan, sebelum tutup usia, Mas’ud Yunus yang masih berstatus sebagai warga binaan Lapas Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo, ini menyebutkan jika ada warga binaan lain yang telah terpapar virus SARS-CoV-2. ’’Katanya, teman saya banyak yang sakit,’’ ucapnya menirukan Mas’ud Yunus.

Baca Juga :  Biaya Pemulasaraan Jenasah Masih Utang

Saat itu, kata dia, Yai Ud masih dalam kondisi sehat. Hingga akhirnya, pada Rabu (26/8), Siti Amsah mendapatkan kabar jika suaminya mengalami keluhan batuk-batuk dan sesak napas.

Atas kondisi tersebut, sosok yang pernah menduduki kursi wawali kota pada masa kepemimpinan Wali Kota Abdul Gani Soehartono ini harus dirawat di ruang isolasi khusus di Lapas Kelas I Surabaya. Lantaran tak kunjung membaik, petugas lapas kemudian merujuknya ke RS Mitra Keluarga, Kamis (27/8) pagi.

Siti Amsiyah menyebutkan, jika suaminya hanya dirawat kurang dari dua jam di RS yang berada Kecamatan Waru, Sidoarjo itu. Hingga akhirnya, sekitar pukul 12.03 kemarin, Mas’ud Yunus dinyatakan meninggal dunia.

’’Alhamdulillah sebelum meninggal, anak saya bisa mendampingi bapak (Mas’ud Yunus). Karena yang lainnya tidak diperbolehkan,’’ terang mantan TP PKK Kota Mojokerto periode 2013-2018 ini.

Proses pemakaman dilakukan dengan menerapkan standar protokol kesehatan. Tampak puluhan petugas medis dengan menggunakan APD lengkap. Sebagian berwarna putih-putih. Selebihnya mengenakan APD warna hijau. Begitu ambulans dari rumah duka memasuki lahan makam, petugas lantas menutup akses masuk ke dalam makam bagi para petakziah.

Hanya pihak keluarga, beberapa kolega, dan petugas medis yang diperkenankan menyaksikan proses pemakaman. Sementara ratusan hingga ribuan pelayat yang sebelumnya mengantar dari rumah duka hingga pintu makam hanya diperboleh menunggu di luar.

Baca Juga :  Desa Kweden Kembar, Era Modernisasi hingga Wader Pari

Suara pekikan salawat Nabi Muhammad mengiringi peti jenazah Kiai Ud begitu dikeluarkan dari ambulans menuju liang makam. Backhoe (alat berat) juga diturunkan untuk membantu penggalian dan penutupan makam.

Sementara, pelayat yang berada di dalam makam tak henti-hentinya membacakan kalimat tauhid hingga proses pemakaman selesai.

’’Kita sangat kehilangan sosok kiai, guru, sekaligus panutan. Beliau adalah orang baik. Selama hidupnya selalu konsen terhadap pendidikan, agama, ke-NU-an, dan menulis. Semoga semua amal ibadah, perjuangan, dan pengadiannya untuk Mojokerto, khususnya bagi NU dan kota, diterima di sisi Allah SWT. Serta senantiasa mendapatkan syafaat Rasulullah,’’ tutur KH Maksum Maulani, pengasuh PP Al-Azhar Kota Mojokerto. 

Untuk diketahui, Mas’ud Yunus masih menjalani masa hukuman di Lapas Kelas I Surabaya. Itu setelah eks wali kota ini ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus suap pembahasan perubahan APBD Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) tahun anggaran 2017.

Mas’ud Yunus dijatuhi vonis 3,5 tahun oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Surabaya di Sidoarjo pada 4 Oktober 2018 lalu. 

 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Lantunan doa mengiringi pemakaman jenazah Mas’ud Yunus Kamis malam (27/8).

Sebelum mengembuskan napas terakhir, Wali Kota Mojokerto periode 2013-2018 ini sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga, Waru, Sidoarjo, pasca dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

Suasana haru menyelimuti rumah duka di kediaman Mas’ud Yunus di Lingkungan Kedung Mulang, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, malam tadi. Isak tangis pun pecah saat jenazah Yai Ud –sapaan akrab Mas’ud Yunus- tiba dengan menggunakan ambulans.

Setelah dilakukan salat jenazah, kemudian jasad almarhum langsung disemayamkan dengan standar protokol Covid-19 di Makam Islam Kedung Mulang, Jalan Perum CSE Surodinawan atau sisi barat kantor PC NU Kota Mojokerto.

Siti Amsiyah, istri Mas’ud Yunus, masih ingat betul pesan terakhir dari mendiang suaminya. Sebelum tutup usia, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Mojokerto ini sempat mengingatkan dia untuk waspada terhadap virus korona. ’’Saya disuruh hati-hati di dalam masa korona yang kedua ini,’’ terangnya usai melepas jenazah suaminya.

Siti Amsiyah menceritakan, sebelum tutup usia, Mas’ud Yunus yang masih berstatus sebagai warga binaan Lapas Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo, ini menyebutkan jika ada warga binaan lain yang telah terpapar virus SARS-CoV-2. ’’Katanya, teman saya banyak yang sakit,’’ ucapnya menirukan Mas’ud Yunus.

Baca Juga :  Kodim 0815 Mojokerto Terima Kunjungan Taruna Akademi Militer
- Advertisement -

Saat itu, kata dia, Yai Ud masih dalam kondisi sehat. Hingga akhirnya, pada Rabu (26/8), Siti Amsah mendapatkan kabar jika suaminya mengalami keluhan batuk-batuk dan sesak napas.

Atas kondisi tersebut, sosok yang pernah menduduki kursi wawali kota pada masa kepemimpinan Wali Kota Abdul Gani Soehartono ini harus dirawat di ruang isolasi khusus di Lapas Kelas I Surabaya. Lantaran tak kunjung membaik, petugas lapas kemudian merujuknya ke RS Mitra Keluarga, Kamis (27/8) pagi.

Siti Amsiyah menyebutkan, jika suaminya hanya dirawat kurang dari dua jam di RS yang berada Kecamatan Waru, Sidoarjo itu. Hingga akhirnya, sekitar pukul 12.03 kemarin, Mas’ud Yunus dinyatakan meninggal dunia.

’’Alhamdulillah sebelum meninggal, anak saya bisa mendampingi bapak (Mas’ud Yunus). Karena yang lainnya tidak diperbolehkan,’’ terang mantan TP PKK Kota Mojokerto periode 2013-2018 ini.

Proses pemakaman dilakukan dengan menerapkan standar protokol kesehatan. Tampak puluhan petugas medis dengan menggunakan APD lengkap. Sebagian berwarna putih-putih. Selebihnya mengenakan APD warna hijau. Begitu ambulans dari rumah duka memasuki lahan makam, petugas lantas menutup akses masuk ke dalam makam bagi para petakziah.

Hanya pihak keluarga, beberapa kolega, dan petugas medis yang diperkenankan menyaksikan proses pemakaman. Sementara ratusan hingga ribuan pelayat yang sebelumnya mengantar dari rumah duka hingga pintu makam hanya diperboleh menunggu di luar.

Baca Juga :  Wali Kota Targetkan Rampung dalam Tiga Triwulan

Suara pekikan salawat Nabi Muhammad mengiringi peti jenazah Kiai Ud begitu dikeluarkan dari ambulans menuju liang makam. Backhoe (alat berat) juga diturunkan untuk membantu penggalian dan penutupan makam.

Sementara, pelayat yang berada di dalam makam tak henti-hentinya membacakan kalimat tauhid hingga proses pemakaman selesai.

’’Kita sangat kehilangan sosok kiai, guru, sekaligus panutan. Beliau adalah orang baik. Selama hidupnya selalu konsen terhadap pendidikan, agama, ke-NU-an, dan menulis. Semoga semua amal ibadah, perjuangan, dan pengadiannya untuk Mojokerto, khususnya bagi NU dan kota, diterima di sisi Allah SWT. Serta senantiasa mendapatkan syafaat Rasulullah,’’ tutur KH Maksum Maulani, pengasuh PP Al-Azhar Kota Mojokerto. 

Untuk diketahui, Mas’ud Yunus masih menjalani masa hukuman di Lapas Kelas I Surabaya. Itu setelah eks wali kota ini ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus suap pembahasan perubahan APBD Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) tahun anggaran 2017.

Mas’ud Yunus dijatuhi vonis 3,5 tahun oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Surabaya di Sidoarjo pada 4 Oktober 2018 lalu. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/