alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Monday, May 23, 2022

IPHI Sebut Pembayaran Dam Dikoordinir KBIH Memudahkan Jamaah

MOJOKERTO – Ketua IPHI Kabupaten Mojokerto, Abdul Wahid Rozaq menjelaskan, memang banyak jamaah sebelumnya tidak mengetahui tata cara membayar dam. Seperti, mencari lokasi pasar membeli kambing dan menyembelihnya.

Karena baru menunaikan haji dan terkendala bahasa. Sehingga, kata Gus Wahid begitu biasa Abdul Wahid Rozaq disapa, dengan mempertimbangkan berbagai kesulitan, pembayaran dam secara kolektif akan memudahkan jamaah memenuhi kewajibannya. ’’Apalagi, dari ribuan jamaah haji Mojokerto, banyak dari mereka baru pertama kali berhaji,’’ ungkapnya.

Dia menuturkan, pemerintah dikabarkan tengah melarang jamaah pergi ke pasar hewan untuk membeli secara mandiri. Mereka harus membeli kepada Pemerintah Arab Saudi yang pembayarannya melalui bank setempat.

Baca Juga :  Bupati Dorong Pegawai Kembangkan Kompetensi

Hanya saja, pihaknya mengaku masih banyak jamaah secara mandiri maupun melalui KBIH masih leluasa ke pasar hewan langsung. ’’Namun, tetap kita koordinir. Bekerja sama dengan teman-teman mukimin atau tokoh-tokoh setempat di sana (Arab Saudi). Agar kita dipandu ke pasar,’’ tuturnya.

Seperti, dalam satu rombongan ada 50 jamaah, membayar kolektif dan dikoordinir KBIH. Mereka kemudian mendatangi pasar hewan untuk membeli kambing dan menyaksikan langsung proses penyembelihan. ’’Biasanya, sesuai kesepakatan dengan KBIH, dan mengumpulkan uang dari jamaah,’’ katanya.

Dia menyebutkan, besaran dam untuk pembelian kambing paling tinggi sekitar 400 real. Disinggung nilai dam mencapai 500 sampai 700 real, Gus Wahid mengaku tidak tahu persis. Hanya, dia meminta, yang harus diperhatikan adalah tetap sesuai ketentuan atau peraturan yang dibuat Pemerintahan Arab Saudi.

Baca Juga :  Pengelola Sunrise Mall Berharap Relaksasi

’’Kalau memang yang mengkoordinir Pemerintah Saudi, jaminan dari sisi syarinya, umur kambing dipastikan mencukupi,’’ ujarnya. Dia menjelaskan, pembayaran dam dibayar secara kolektif dimaksudkan lebih pada pemilihan model haji. Bukan pada pelanggaran lainnya. Sebab, secara umum, jamaah haji Indonesia memang bersifat tamattu.

’’Gamblangnya, dam di sini jamaah haji karena memilih haji tamattu. Bukan karena pelanggaran. Sejak awal jamaah sudah sepakat dan tidak keberatan bayar dam,’’ tegasnya.

MOJOKERTO – Ketua IPHI Kabupaten Mojokerto, Abdul Wahid Rozaq menjelaskan, memang banyak jamaah sebelumnya tidak mengetahui tata cara membayar dam. Seperti, mencari lokasi pasar membeli kambing dan menyembelihnya.

Karena baru menunaikan haji dan terkendala bahasa. Sehingga, kata Gus Wahid begitu biasa Abdul Wahid Rozaq disapa, dengan mempertimbangkan berbagai kesulitan, pembayaran dam secara kolektif akan memudahkan jamaah memenuhi kewajibannya. ’’Apalagi, dari ribuan jamaah haji Mojokerto, banyak dari mereka baru pertama kali berhaji,’’ ungkapnya.

Dia menuturkan, pemerintah dikabarkan tengah melarang jamaah pergi ke pasar hewan untuk membeli secara mandiri. Mereka harus membeli kepada Pemerintah Arab Saudi yang pembayarannya melalui bank setempat.

Baca Juga :  Sambut Baik Nilai BPIH, Kemenag Imbau Pelunasan Tunggu Keppres

Hanya saja, pihaknya mengaku masih banyak jamaah secara mandiri maupun melalui KBIH masih leluasa ke pasar hewan langsung. ’’Namun, tetap kita koordinir. Bekerja sama dengan teman-teman mukimin atau tokoh-tokoh setempat di sana (Arab Saudi). Agar kita dipandu ke pasar,’’ tuturnya.

- Advertisement -

Seperti, dalam satu rombongan ada 50 jamaah, membayar kolektif dan dikoordinir KBIH. Mereka kemudian mendatangi pasar hewan untuk membeli kambing dan menyaksikan langsung proses penyembelihan. ’’Biasanya, sesuai kesepakatan dengan KBIH, dan mengumpulkan uang dari jamaah,’’ katanya.

Dia menyebutkan, besaran dam untuk pembelian kambing paling tinggi sekitar 400 real. Disinggung nilai dam mencapai 500 sampai 700 real, Gus Wahid mengaku tidak tahu persis. Hanya, dia meminta, yang harus diperhatikan adalah tetap sesuai ketentuan atau peraturan yang dibuat Pemerintahan Arab Saudi.

Baca Juga :  Pengelola Sunrise Mall Berharap Relaksasi

’’Kalau memang yang mengkoordinir Pemerintah Saudi, jaminan dari sisi syarinya, umur kambing dipastikan mencukupi,’’ ujarnya. Dia menjelaskan, pembayaran dam dibayar secara kolektif dimaksudkan lebih pada pemilihan model haji. Bukan pada pelanggaran lainnya. Sebab, secara umum, jamaah haji Indonesia memang bersifat tamattu.

’’Gamblangnya, dam di sini jamaah haji karena memilih haji tamattu. Bukan karena pelanggaran. Sejak awal jamaah sudah sepakat dan tidak keberatan bayar dam,’’ tegasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/