alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Telat Menyiram Sekali Saja, Daun Langsung Mengering

Minyak kayu putih tengah ramai menjadi bahan perbincangan. Banyak kalangan yang meyakini khasiat terapi uap minyak atsiri yang dihasilkan dari penyulingan daun kayu putih tersebut. Lalu, seperti apa sebenarnya perawatan bibit kayu putih di tengah eksistensinya yang naik daun karena dipercaya bisa melegakan gejala sesak napas ini?.

YULIANTO ADI NUGROHO, Jetis, Jawa Pos Radar Mojokerto

Pria paruh baya itu tengah khusyuk menyiram ribuan bibit kayu putih. Selang warna hijau yang mengucurkan air tak begitu deras itu, terus dijulurkan ke polybag yang masih berukuran sekitar 10 centimeter itu.

Ia adalah Sutro Afandi. Pria ini tengah berada di area persemaian RPH Kupang BKPH Kemlagi, di Mojoroto, Mojorejo, Jetis. Lokasinya berada sekitar 200 meter dari jalan raya kawasan hutan Watublorok.

Tugas utama Sutro adalah menjaga bibit kayu putih tidak mati dan siap tanam. Sehari sekali, dia menyiram sedikitnya 14 ribu bibit. Terlebih, saat ini baru saja memasuki musim kemarau. Penyiraman harus rutin dilakukan. ”Dari jam satu siang sampai sekarang jam tiga sore belum selesai (menyiram),” katanya.

Tempat persemaian ini sudah puluhan tahun menjadi pusat pembibitan kayu putih dan jati yang menyuplay seluruh lahan hutan Perhutani di bawah KPH Mojokerto. Lokasi ini seperti saksi bisu tumbuh kembang anak-anak di kampung setempat. Sutro kecil sudah akrab dengan pembibitan kayu putih. ”Lulus SD saya sudah ikut bantu-bantu di pembibitan ini,” kata pria kelahiran 1979 tersebut.

Baca Juga :  Sudah 12 Ton Diangkut, Gunungan Sampah di Tanggul Sungai Brangkal

21 tahun lalu, Sutro sudah menjadi bagian dari proses perawatan kayu putih hingga siap di tanam. Sejak 2015 lalu, pembiakan kayu putih dilakukan secara vegetatif. Yakni mulai dari pengisian media semai, penyiraman media sampai jenuh air, pemilihan pucuk kayu putih, perangsangan semai sampai dengan penempatan bibit siap tanam di open area.

Seluruh proses itu bisa dilakukan di lahan persemaian dengan waktu kurang lebih selama 3-4 bulan. ”Penanamannya menunggu musim hujan. Kalau kemarau begini malah bisa mati,” katanya.

Jika telat disiram, tanaman bakal kering. Hal ini bisa mempengaruhi kualitas bibit. ”Telah satu sore gitu saja, sudah kering daunnya,” tambah Kunting, pengelola persemaian lainnya.

Dia menyatakan, seluruh tanaman di area persemaian tersebut dipakai untuk memenuhi kebutuhan perhutani. Namun, tidak menutup kemungkinan jika ada pihak-pihak yang membutuhkan bibit untuk keperluan tertentu seperti ditanam pribadi. ”Tapi jarang ada yang ke sini minta bibit. Meskipun sekarang lagi ramai terapi uap ya,” sebutnya.

Baca Juga :  Akreditasi Prodi Minimal C

Tentang terapi uap, sejumlah kalangan mempercayai, uap hasil rebusan air yang dicampur minyak kayu putih bisa melegakan pernapasan. Hal ini kian ngetren semenjak kasus positif Covid-19 sedang menggila. Mereka melakoninya sebagai terapi pribadi untuk mengatasi gejala infeksi virus korona. Bahan itu bisa berupa minyak kayu putih yang sudah jadi, atau daunnya langsung.

Administratur Utama (ADM) KPH Mojokerto Nur Budi Susatyo menyatakan, pihaknya hanya melakukan penanaman dan produksi minyak kayu putih. Pengelolaan pengemasan dan penjualan produk minyak kayu putih dilakukan Perum Perhutani Kesatuan Bisnis Mandiri Industri Hasil Hutan (KBM IHH), Surabaya. Kendati demikian pihaknya mengakui, produk kayu putih tengah laris diburu masyarakat. ”Produk kayu putih laku keras. Dari sebelum pandemi, permintaan MKP (minyak kayu putih) di Perhutani sangat tinggi,” terangnya.

Selama ini, KPH Mojokerto hanya memasarkan produk minyak kayu putih dalam skala kecil. Mereka melakukan pengemasan dalam berbagai ukuran untuk dijual di koperasi KPH Mojokerto. Nur Budi mengaku, sejak pandemi, permintaan minyak kayu putih ini cukup tinggi. ”Bahkan sering kehabisan stok. Apakah berkaitan dengan tren terapi uap, saya tidak tahu,” terangnya. (adi/ron)

Minyak kayu putih tengah ramai menjadi bahan perbincangan. Banyak kalangan yang meyakini khasiat terapi uap minyak atsiri yang dihasilkan dari penyulingan daun kayu putih tersebut. Lalu, seperti apa sebenarnya perawatan bibit kayu putih di tengah eksistensinya yang naik daun karena dipercaya bisa melegakan gejala sesak napas ini?.

YULIANTO ADI NUGROHO, Jetis, Jawa Pos Radar Mojokerto

Pria paruh baya itu tengah khusyuk menyiram ribuan bibit kayu putih. Selang warna hijau yang mengucurkan air tak begitu deras itu, terus dijulurkan ke polybag yang masih berukuran sekitar 10 centimeter itu.

Ia adalah Sutro Afandi. Pria ini tengah berada di area persemaian RPH Kupang BKPH Kemlagi, di Mojoroto, Mojorejo, Jetis. Lokasinya berada sekitar 200 meter dari jalan raya kawasan hutan Watublorok.

Tugas utama Sutro adalah menjaga bibit kayu putih tidak mati dan siap tanam. Sehari sekali, dia menyiram sedikitnya 14 ribu bibit. Terlebih, saat ini baru saja memasuki musim kemarau. Penyiraman harus rutin dilakukan. ”Dari jam satu siang sampai sekarang jam tiga sore belum selesai (menyiram),” katanya.

Tempat persemaian ini sudah puluhan tahun menjadi pusat pembibitan kayu putih dan jati yang menyuplay seluruh lahan hutan Perhutani di bawah KPH Mojokerto. Lokasi ini seperti saksi bisu tumbuh kembang anak-anak di kampung setempat. Sutro kecil sudah akrab dengan pembibitan kayu putih. ”Lulus SD saya sudah ikut bantu-bantu di pembibitan ini,” kata pria kelahiran 1979 tersebut.

Baca Juga :  Peserta Seminar dan Talkshow Dimanjakan Pesona Alam dan Pegunungan
- Advertisement -

21 tahun lalu, Sutro sudah menjadi bagian dari proses perawatan kayu putih hingga siap di tanam. Sejak 2015 lalu, pembiakan kayu putih dilakukan secara vegetatif. Yakni mulai dari pengisian media semai, penyiraman media sampai jenuh air, pemilihan pucuk kayu putih, perangsangan semai sampai dengan penempatan bibit siap tanam di open area.

Seluruh proses itu bisa dilakukan di lahan persemaian dengan waktu kurang lebih selama 3-4 bulan. ”Penanamannya menunggu musim hujan. Kalau kemarau begini malah bisa mati,” katanya.

Jika telat disiram, tanaman bakal kering. Hal ini bisa mempengaruhi kualitas bibit. ”Telah satu sore gitu saja, sudah kering daunnya,” tambah Kunting, pengelola persemaian lainnya.

Dia menyatakan, seluruh tanaman di area persemaian tersebut dipakai untuk memenuhi kebutuhan perhutani. Namun, tidak menutup kemungkinan jika ada pihak-pihak yang membutuhkan bibit untuk keperluan tertentu seperti ditanam pribadi. ”Tapi jarang ada yang ke sini minta bibit. Meskipun sekarang lagi ramai terapi uap ya,” sebutnya.

Baca Juga :  Akreditasi Prodi Minimal C

Tentang terapi uap, sejumlah kalangan mempercayai, uap hasil rebusan air yang dicampur minyak kayu putih bisa melegakan pernapasan. Hal ini kian ngetren semenjak kasus positif Covid-19 sedang menggila. Mereka melakoninya sebagai terapi pribadi untuk mengatasi gejala infeksi virus korona. Bahan itu bisa berupa minyak kayu putih yang sudah jadi, atau daunnya langsung.

Administratur Utama (ADM) KPH Mojokerto Nur Budi Susatyo menyatakan, pihaknya hanya melakukan penanaman dan produksi minyak kayu putih. Pengelolaan pengemasan dan penjualan produk minyak kayu putih dilakukan Perum Perhutani Kesatuan Bisnis Mandiri Industri Hasil Hutan (KBM IHH), Surabaya. Kendati demikian pihaknya mengakui, produk kayu putih tengah laris diburu masyarakat. ”Produk kayu putih laku keras. Dari sebelum pandemi, permintaan MKP (minyak kayu putih) di Perhutani sangat tinggi,” terangnya.

Selama ini, KPH Mojokerto hanya memasarkan produk minyak kayu putih dalam skala kecil. Mereka melakukan pengemasan dalam berbagai ukuran untuk dijual di koperasi KPH Mojokerto. Nur Budi mengaku, sejak pandemi, permintaan minyak kayu putih ini cukup tinggi. ”Bahkan sering kehabisan stok. Apakah berkaitan dengan tren terapi uap, saya tidak tahu,” terangnya. (adi/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/