alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Dikirim Buku Gambar dan Boneka, Kesedihan Tak Mampu Disembunyikan

Pengalaman Lebaran tahun ini sepertinya bakal selalu dikenang oleh warga yang menjalani karantina maupun tenaga medis yang bertugas di gedung observasi Covid-19 Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Cinde, Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Meski untuk sementara harus terpisah dengan keluarga, namun mereka saling memiliki keterikatan di ”rumah barunya” saat ini. Penanggung Jawab Gedung Observasi Covid-19 Rusunawa Cinde, dr Wenly Susanto menceritakan, Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah ini menjadi Lebaran yang cukup berbeda bagi tim kesehatan maupun warga yang menjalani observasi di rusunawa.

Sebab, hari kemenangan itu dirayakan dengan cara yang sangat sederhana. Bahkan, salat Id pun terpaksa harus didirikan di dalam rusunawa. ”Teman-teman tetap salat Id di lantai satu. Itu pun tetap sesuai dengan protokol kesehatan dengan jaga jarak dan memakai masker,” terangnya. Di sisi lain, guratan kesedihan tidak dapat disembunyikan oleh warga muslim yang menjalani masa karantina.

Pasalnya, di hari yang fitri tersebut, mereka harus melewati secara terpisah dengan keluarga lantaran harus tetap tinggal setidaknya selama dua pekan. Kendati demikian, ujar Wenly, para penghuni masih merasa beryukur karena tetap bisa saling menghubungi meski hanya melalui sambungan seluler.

Baca Juga :  Gara-gara Dimarahi Ortu, Siswi Kabur Bersama Kekasih

”Tentu ada suasana sedih, tapi mereka masih bisa tetap bahagia. Setidaknya karena bisa tetap menghubungi dengan keluarga,” ujarnya. Di samping itu, warga yang menjalani karantina juga masih berkesempatan untuk saling bertatap muka dengan keluarga. Namun, aktivitas tersebut tidak dapat dilakukan dengan cara bertemu langsung, melainkan hanya secara virtual melalui layar handphone (HP) dengan video call.

Wenly menyebutkan, mood kebahagiaan itu lah yang saat ini paling dibutuhkan bagi orang-orang yang menjalani masa observasi. Bahkan, selama momen Lebaran ini, tidak sedikit keluarga yang mengirimkan paket makanan maupun bingkisan apa pun yang menjadi kesukaan warga untuk mengisi kesibukan selama menjalani karantina.

”Kalau mereka senang, imunnya pasti naik. Sehingga pemulihannya bisa cepat,” tandasnya. Hingga Selasa (26/5), setidaknya ada 11 warga yang menjalani karantina di rusunawa. Secara klinis, seluruhnya dalam keadaan sehat tanpa ada keluhan berarti. Baik warga yang berstatus orang dengan risiko (ODR) maupun orang tanpa gejala (OTG) yang terkonfirmasi postif Covid-19.

Baca Juga :  Imbas Pembangunan Rel Ganda

Di gedung empat lantai tersebut, juga terdapat pasangan ibu dan dan anak yang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19. Menurutnya, aktivitasnya sehari-hari ibu dan putrinya yang masih usia 9 tahun tetap seperti biasanya. Menurutnya, kondisi itu tidak lepas dari dukungan orang-orang yang berada di luar gedung. ”Karena banyak orang baik dari luar yang kasih buku gambar dan kasih boneka buat nyenengin dia (anak terkonfirmasi positif),” imbuhnya.

Sejak awal, tim kesehatan memposisikan diri sebagai keluarga dari warga yang menjalani observasi. Khususnya saat Lebaran kemarin. Sehingga, warga tidak ada yang merasa jauh dari orang tua dan keluargnya. ”Anggap di rusunawa ini adalah rumah sendiri. Dan kami, tenaga medis adalah keluarga baru mereka juga,” paparnya.

Pengalaman Lebaran tahun ini sepertinya bakal selalu dikenang oleh warga yang menjalani karantina maupun tenaga medis yang bertugas di gedung observasi Covid-19 Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Cinde, Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Meski untuk sementara harus terpisah dengan keluarga, namun mereka saling memiliki keterikatan di ”rumah barunya” saat ini. Penanggung Jawab Gedung Observasi Covid-19 Rusunawa Cinde, dr Wenly Susanto menceritakan, Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah ini menjadi Lebaran yang cukup berbeda bagi tim kesehatan maupun warga yang menjalani observasi di rusunawa.

Sebab, hari kemenangan itu dirayakan dengan cara yang sangat sederhana. Bahkan, salat Id pun terpaksa harus didirikan di dalam rusunawa. ”Teman-teman tetap salat Id di lantai satu. Itu pun tetap sesuai dengan protokol kesehatan dengan jaga jarak dan memakai masker,” terangnya. Di sisi lain, guratan kesedihan tidak dapat disembunyikan oleh warga muslim yang menjalani masa karantina.

Pasalnya, di hari yang fitri tersebut, mereka harus melewati secara terpisah dengan keluarga lantaran harus tetap tinggal setidaknya selama dua pekan. Kendati demikian, ujar Wenly, para penghuni masih merasa beryukur karena tetap bisa saling menghubungi meski hanya melalui sambungan seluler.

Baca Juga :  Kepatuhan Masyarakat Jadi Strategi Kunci Penanganan Lonjakan Covid-19

”Tentu ada suasana sedih, tapi mereka masih bisa tetap bahagia. Setidaknya karena bisa tetap menghubungi dengan keluarga,” ujarnya. Di samping itu, warga yang menjalani karantina juga masih berkesempatan untuk saling bertatap muka dengan keluarga. Namun, aktivitas tersebut tidak dapat dilakukan dengan cara bertemu langsung, melainkan hanya secara virtual melalui layar handphone (HP) dengan video call.

Wenly menyebutkan, mood kebahagiaan itu lah yang saat ini paling dibutuhkan bagi orang-orang yang menjalani masa observasi. Bahkan, selama momen Lebaran ini, tidak sedikit keluarga yang mengirimkan paket makanan maupun bingkisan apa pun yang menjadi kesukaan warga untuk mengisi kesibukan selama menjalani karantina.

- Advertisement -

”Kalau mereka senang, imunnya pasti naik. Sehingga pemulihannya bisa cepat,” tandasnya. Hingga Selasa (26/5), setidaknya ada 11 warga yang menjalani karantina di rusunawa. Secara klinis, seluruhnya dalam keadaan sehat tanpa ada keluhan berarti. Baik warga yang berstatus orang dengan risiko (ODR) maupun orang tanpa gejala (OTG) yang terkonfirmasi postif Covid-19.

Baca Juga :  Kwarcab Kabupaten Mojokerto Gelar Vaksinasi Covid-19

Di gedung empat lantai tersebut, juga terdapat pasangan ibu dan dan anak yang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19. Menurutnya, aktivitasnya sehari-hari ibu dan putrinya yang masih usia 9 tahun tetap seperti biasanya. Menurutnya, kondisi itu tidak lepas dari dukungan orang-orang yang berada di luar gedung. ”Karena banyak orang baik dari luar yang kasih buku gambar dan kasih boneka buat nyenengin dia (anak terkonfirmasi positif),” imbuhnya.

Sejak awal, tim kesehatan memposisikan diri sebagai keluarga dari warga yang menjalani observasi. Khususnya saat Lebaran kemarin. Sehingga, warga tidak ada yang merasa jauh dari orang tua dan keluargnya. ”Anggap di rusunawa ini adalah rumah sendiri. Dan kami, tenaga medis adalah keluarga baru mereka juga,” paparnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/