alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Toko dan Warung Yang Buka Lewati Jam Malam Bakal Ditutup Paksa

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Diberlakukannya pembatasan dan jam malam di Kota Mojokerto rupanya masih belum sepenuhnya dipatuhi oleh pelaku usaha.

Pasalnya, sejumlah warung makan, toko, pedagang kaki lima (PKL), serta warkop masih kedapatan membuka pelayanan melewati pukul 19.00. Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto hingga pukul 20.00 tadi malam, sejumlah pemilik usaha masih membuka pelayanan.

Terutama yang berada di luar ruas jalan yang diterapkan physical distancing. Seperti di Jalan Raden Wijaya, Jalan Pahlawan, Jalan Mojopahit selatan, hingga sejumlah ruas jalan lainnya.

Padahal, Wali Kota Ika Puspitasari (Ning Ita) sebelumnya telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 443.33/4026/417.309/2020 terkait Kewaspadaan Terhadap Wabah Covid-19. Dalam surat tersebut antara lain memberlakukan physical distancing di empat ruas jalan di Kota Onde-Onde.

Selain itu, mengatur pembatasan jam operasional terhadap toko, toko modern, depot, warung, cake, PKL, dan sejenisnya untuk maksimal buka hingga pukul 19.00. Bahkan, sebelumnya, kondisi serupa juga menjadi catatan Ning Ita ketika turun langsung meninjau penerapan SE yang berlaku sejak 25 April hingga 30 Mei nanti.

Baca Juga :  Kesadaran Masyarakat Rendah, Berdesakan dan Abaikan Jarak Aman

Dari kegiatan yang dilakukan Minggu (26/4) tersebut, Ning Ita mendapati sejumlah pemilik usaha dan pedagang yang melanggar aturan jam malam. ”Saya melihat sudah cukup efektif, meskipun ada satu-dua warung yang masih melewati jam buka,” ujarnya.

Untuk itu, Ning Ita menilai jika regulasi tersebut perlu dibarengi dengan adanya punishment. Mengingat, tahap sosialisasi telah dilakukan sebelum aturan pembatasan tersebut diterapkan. Bahkan, kemarin pemilik usaha dan pedagang yang kepergok masih membuka usaha telah diberikan peringatan langsung. ”Ini adalah peringatan terakhir,” ulasnya.

Oleh karena itu, jika diketahui mengulang pelanggaran yang sama, maka pihaknya akan menerapkan sanksi yang lebih tegas. Ning Ita menegaskan, pihaknya bakal melakukan penutupan sebagai efek jera. ”Kita berikan punishment, mereka akan ditutup tidak boleh buka lagi,” tegasnya.

Baca Juga :  Aturan Pemkot Setengah Hati, Penutupan Jalan Tak Berlangsung Utuh

Disinggung terkait banyak pelaku usaha yang keberatan terkait aturan tersebut, Ning Ita menyatakan, jika langkah pembatasan terpaksa harus diambil demi upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Terlebih, Kota Mojokerto saat ini telah dikepung oleh zona merah.

Oleh karena itu, selama Ramadan ini para pelaku usaha, khususnya penjaja makanan harus beradaptasi dengan menyesuaikan cara berjualan. Di antaranya dengan mengutamakan take away atau bungkus untuk mencegah adanya kerumunan. ”Ini yang kita hindari, karena di sanalah potensi kerawanan untuk terjadi penyebaran Covid-19,” tandasnya.

 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Diberlakukannya pembatasan dan jam malam di Kota Mojokerto rupanya masih belum sepenuhnya dipatuhi oleh pelaku usaha.

Pasalnya, sejumlah warung makan, toko, pedagang kaki lima (PKL), serta warkop masih kedapatan membuka pelayanan melewati pukul 19.00. Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto hingga pukul 20.00 tadi malam, sejumlah pemilik usaha masih membuka pelayanan.

Terutama yang berada di luar ruas jalan yang diterapkan physical distancing. Seperti di Jalan Raden Wijaya, Jalan Pahlawan, Jalan Mojopahit selatan, hingga sejumlah ruas jalan lainnya.

Padahal, Wali Kota Ika Puspitasari (Ning Ita) sebelumnya telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 443.33/4026/417.309/2020 terkait Kewaspadaan Terhadap Wabah Covid-19. Dalam surat tersebut antara lain memberlakukan physical distancing di empat ruas jalan di Kota Onde-Onde.

Selain itu, mengatur pembatasan jam operasional terhadap toko, toko modern, depot, warung, cake, PKL, dan sejenisnya untuk maksimal buka hingga pukul 19.00. Bahkan, sebelumnya, kondisi serupa juga menjadi catatan Ning Ita ketika turun langsung meninjau penerapan SE yang berlaku sejak 25 April hingga 30 Mei nanti.

Baca Juga :  Tetap Kluyuran di Malam Hari, Pelanggar Tak Sekadar Di-Rapid Test

Dari kegiatan yang dilakukan Minggu (26/4) tersebut, Ning Ita mendapati sejumlah pemilik usaha dan pedagang yang melanggar aturan jam malam. ”Saya melihat sudah cukup efektif, meskipun ada satu-dua warung yang masih melewati jam buka,” ujarnya.

- Advertisement -

Untuk itu, Ning Ita menilai jika regulasi tersebut perlu dibarengi dengan adanya punishment. Mengingat, tahap sosialisasi telah dilakukan sebelum aturan pembatasan tersebut diterapkan. Bahkan, kemarin pemilik usaha dan pedagang yang kepergok masih membuka usaha telah diberikan peringatan langsung. ”Ini adalah peringatan terakhir,” ulasnya.

Oleh karena itu, jika diketahui mengulang pelanggaran yang sama, maka pihaknya akan menerapkan sanksi yang lebih tegas. Ning Ita menegaskan, pihaknya bakal melakukan penutupan sebagai efek jera. ”Kita berikan punishment, mereka akan ditutup tidak boleh buka lagi,” tegasnya.

Baca Juga :  Jam Malam Diberlakukan, Pertokoan Mojopahit Tutup Lebih Awal

Disinggung terkait banyak pelaku usaha yang keberatan terkait aturan tersebut, Ning Ita menyatakan, jika langkah pembatasan terpaksa harus diambil demi upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Terlebih, Kota Mojokerto saat ini telah dikepung oleh zona merah.

Oleh karena itu, selama Ramadan ini para pelaku usaha, khususnya penjaja makanan harus beradaptasi dengan menyesuaikan cara berjualan. Di antaranya dengan mengutamakan take away atau bungkus untuk mencegah adanya kerumunan. ”Ini yang kita hindari, karena di sanalah potensi kerawanan untuk terjadi penyebaran Covid-19,” tandasnya.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/