alexametrics
31.1 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Rapid Test Corona Sudah Tiba di RSUD Soekandar Mojosari

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – RSUD Prof dr Soekandar telah memiliki alat uji cepat atau rapid test kit Covid-19. Alat tersebut digunakan untuk melakukan screening terhadap virus korona. Diprioritaskan bagi pasien dalam pengawasan dan tenaga kesehatan.

Direktur RSUD Prof dr Soekandar dr Djalu Nastkutub mengatakan, alat uji cepat Covid-19 itu diterima dari Gubernur Khofifah Indar Parawansa, Kamis (26/) malam.

Setidaknya, sebanyak 9.500 rapid test dibagikan kepada 65 rumah sakit rujukan se-Jawa Timur (Jatim). ”Alatnya bantuan dari provinsi, sudah kami terima tadi malam (26/3) di Grahadi,” terangnya.

Hanya saja, alat yang mampu mendeteksi dini virus korona itu tidak diterima secara merata, akan tetapi disesuaikan dengan kapasitas ruang isolasi dan jumlah pasien Covid-19 di masing-masing rumah sakit. Untuk RSUD Prof dr Soekandar hanya dijatah 80 rapid test.

Tentunya, jumlah tersebut cukup terbatas di tengah meningkatnya persebaran virus korona di Jatim. Di sisi lain, penggunaan alat deteksi dini virus korona itu hanya untuk sekali pakai. ”Jadi, satu alat hanya untuk satu orang,” papar mantan wadir Pelayanan RSUD Prof dr Soekandar ini.

Baca Juga :  Resmikan Poli Ekselutif dan Beri Santunan Yatim Piatu dan Masyarakat

Oleh karena itu, rapid test Covid-19 tidak digunakan sebagai alat uji bagi pasien secara umum. Melainkan sebatas dipergunakan bagi orang-orang degan skala prioritas tertentu. Djalu mengaku segera menyusun standar operasional prosedur (SOP) terhadap rapid test Covid-19.

Antara lain yang masuk menjadi prioritas utama adalah PDP Covid-19. Menurut Djalu, selama ini tim dokter RSUD menggunakan uji laboratorium spesimen swab untuk mengetahui apakah pasien terjangkit virus korona atau tidak.  Akan tetapi, teknik tersebut membutuhkan waktu cukup untuk bisa mengetahui hasil. Meski idealnya hanya membutuhkan 1 x 24 jam, akan tetapi di tengah pandemi virus korona ini proses uji lab bisa memakan waktu berhari-hari.

Djalu menegaskan, berbeda halnya dengan rapid test Covid-19 ini. Sebab, proses uji dan hasilnya dapat diketahui lebih cepat. Selain itu, spesimen yang dijadikan sebagai bahan uji cukup dengan mengambil sampel darah dari PDP. ”Prosesnya lebih cepat, hanya sekitar 15 menit hasil bisa diketahui,” tandasnya.

Baca Juga :  Beton Jembatan Sepanjang 57 Meter Jebol, Akses Ditutup Total

Dengan demikian, maka pasien terduga terjangkit virus korona tidak perlu harus berlama-lama menunggu hasil uji di ruang isolasi. Terlebih, kapasitas ruangan khusus tersebut juga terbatas. Dengan begitu, ketika hasil uji rapid test menyatakan negatif, maka dapat menjadi salah satu pertimbangan tim dokter untuk memulangkan atau mengeluarkan pasien dari ruang isolasi.

Di sisi lain, imbuh Djalu, para petugas medis yang berhadapan langsung dengan pasien Covid-19 juga mendapat prioritas dilakukan rapid test. Pasalnya, sebagai garda terdepan dalam menangani pasien dengan virus korona, para tenaga kesehatan tersebut juga menjadi rentan tertular. ”Tenaga kesehatan yang terlibat langsung di ruang isolasi dan bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19 juga kita prioritaskan,” tandasnya.

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – RSUD Prof dr Soekandar telah memiliki alat uji cepat atau rapid test kit Covid-19. Alat tersebut digunakan untuk melakukan screening terhadap virus korona. Diprioritaskan bagi pasien dalam pengawasan dan tenaga kesehatan.

Direktur RSUD Prof dr Soekandar dr Djalu Nastkutub mengatakan, alat uji cepat Covid-19 itu diterima dari Gubernur Khofifah Indar Parawansa, Kamis (26/) malam.

Setidaknya, sebanyak 9.500 rapid test dibagikan kepada 65 rumah sakit rujukan se-Jawa Timur (Jatim). ”Alatnya bantuan dari provinsi, sudah kami terima tadi malam (26/3) di Grahadi,” terangnya.

Hanya saja, alat yang mampu mendeteksi dini virus korona itu tidak diterima secara merata, akan tetapi disesuaikan dengan kapasitas ruang isolasi dan jumlah pasien Covid-19 di masing-masing rumah sakit. Untuk RSUD Prof dr Soekandar hanya dijatah 80 rapid test.

Tentunya, jumlah tersebut cukup terbatas di tengah meningkatnya persebaran virus korona di Jatim. Di sisi lain, penggunaan alat deteksi dini virus korona itu hanya untuk sekali pakai. ”Jadi, satu alat hanya untuk satu orang,” papar mantan wadir Pelayanan RSUD Prof dr Soekandar ini.

Baca Juga :  Terganjal Cakupan Vaksin Lansia

Oleh karena itu, rapid test Covid-19 tidak digunakan sebagai alat uji bagi pasien secara umum. Melainkan sebatas dipergunakan bagi orang-orang degan skala prioritas tertentu. Djalu mengaku segera menyusun standar operasional prosedur (SOP) terhadap rapid test Covid-19.

- Advertisement -

Antara lain yang masuk menjadi prioritas utama adalah PDP Covid-19. Menurut Djalu, selama ini tim dokter RSUD menggunakan uji laboratorium spesimen swab untuk mengetahui apakah pasien terjangkit virus korona atau tidak.  Akan tetapi, teknik tersebut membutuhkan waktu cukup untuk bisa mengetahui hasil. Meski idealnya hanya membutuhkan 1 x 24 jam, akan tetapi di tengah pandemi virus korona ini proses uji lab bisa memakan waktu berhari-hari.

Djalu menegaskan, berbeda halnya dengan rapid test Covid-19 ini. Sebab, proses uji dan hasilnya dapat diketahui lebih cepat. Selain itu, spesimen yang dijadikan sebagai bahan uji cukup dengan mengambil sampel darah dari PDP. ”Prosesnya lebih cepat, hanya sekitar 15 menit hasil bisa diketahui,” tandasnya.

Baca Juga :  Seniman Ciptakan Kidungan Lawan Korona

Dengan demikian, maka pasien terduga terjangkit virus korona tidak perlu harus berlama-lama menunggu hasil uji di ruang isolasi. Terlebih, kapasitas ruangan khusus tersebut juga terbatas. Dengan begitu, ketika hasil uji rapid test menyatakan negatif, maka dapat menjadi salah satu pertimbangan tim dokter untuk memulangkan atau mengeluarkan pasien dari ruang isolasi.

Di sisi lain, imbuh Djalu, para petugas medis yang berhadapan langsung dengan pasien Covid-19 juga mendapat prioritas dilakukan rapid test. Pasalnya, sebagai garda terdepan dalam menangani pasien dengan virus korona, para tenaga kesehatan tersebut juga menjadi rentan tertular. ”Tenaga kesehatan yang terlibat langsung di ruang isolasi dan bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19 juga kita prioritaskan,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Penutupan Puskesmas Meluas

Pung Bongkar Pasang Bacawabup

Artikel Terbaru


/