alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Hemm, di Mojokerto Ada 3.142 Janda Baru

MOJOKERTO – Angka perceraian di Mojokerto mengalami peningkatan. Hal itu terbukti dari catatan di Pengadilan Agama (PA) Mojokerto pada tahun 2018 ini naik 10 persen dari tahun 2017 lalu.

Setidaknya pasangan rumah tangga yang resmi berpisah jumlahnya mencapai 3 ribu lebih. Humas PA Mojokerto, Sofyan Zefry membenarkan, kasus perceraian di Mojokerto saat ini memang mengalami kenaikan hingga 10 persen dari tahun 2017 lalu.

Zefry memaparkan, perceraian tahun 2018 ini tercatat sebanyak 3.390 perkara. Dari semua perceraian itu, perkara yang telah diputus majelis hakim sebanyak 3.142 perkara. Sedangkan sisanya 248 perkara belum resmi diputus dan masih dalam proses persidangan.

Baca Juga :  Sebelum Meninggal, Cak Rizal Ziarah ke Makam Bung Karno

Dengan demikian terdapat 3 ribu lebih perempuan berstatus janda pasca resmi berpisah dengan sang suami. ”Sebelum akhir tahun 2018 ini, PA akan berusaha untuk menyelesaikan,’’ katanya, Rabu (26/12).

Zefry merinci, tahun ini perkara cerai gugat cukup mendominasi. Yakni, tertulis sebanyak 2.138 perkara. Sedangkan cerai talak mencapai 854 perkara. ”Dari dulu cerai gugat memang paling banyak,’’ tambahnya.

Angka perceraian tersebut terbilang meningkat bila melihat perceraian tahun 2017 lalu yang mencapai 3.278 kasus. ”Tahun 2017 lalu memang lebih rendah,’’ jelasnya. Dia menegaskan, setidaknya ada tiga faktor tertinggi penyebab perkara perceraian.

Masing-masing adalah alasan ekonomi sebanyak 1.307, perselisihan kedua belah pihak 769, dan akibat perzinahan sebanyak 245 faktor. ”Selain itu, ada karena KDRT, mabuk, dan dikawinkan paksa. Akhirnya mereka memilih untuk bercerai,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Luapan Banjir Tutup Jalur Alternatif

Sebenarnya, tambah Zefry, kenaikan perceraian tersebut terbilang sangat mengejutkan. Pasalnya, pihak PA sudah melakukan beberapa cara. Seperti melakukan forum mediasi terlebih dahulu sebelum melanjutkan sidang perceraian. Dengan harapan angka perceraian kedua belah pihak diurungkan.

”Namun kenyataannya memang tetap naik,’’ tuturnya. Meski demikian, PA Mojokerto tetap berkomitmen menekan penurunan angka perceraian di tahun 2019 mendatang. ”Iya kita lihat saja nanti, dan pihak kami pasti melakukan usaha agar percerian ini bisa menurun,’’ ujarnya. (ras)

 

 

MOJOKERTO – Angka perceraian di Mojokerto mengalami peningkatan. Hal itu terbukti dari catatan di Pengadilan Agama (PA) Mojokerto pada tahun 2018 ini naik 10 persen dari tahun 2017 lalu.

Setidaknya pasangan rumah tangga yang resmi berpisah jumlahnya mencapai 3 ribu lebih. Humas PA Mojokerto, Sofyan Zefry membenarkan, kasus perceraian di Mojokerto saat ini memang mengalami kenaikan hingga 10 persen dari tahun 2017 lalu.

Zefry memaparkan, perceraian tahun 2018 ini tercatat sebanyak 3.390 perkara. Dari semua perceraian itu, perkara yang telah diputus majelis hakim sebanyak 3.142 perkara. Sedangkan sisanya 248 perkara belum resmi diputus dan masih dalam proses persidangan.

Baca Juga :  Lagi, Dokter Asal Kabupaten Mojokerto Terpapar Covid-19

Dengan demikian terdapat 3 ribu lebih perempuan berstatus janda pasca resmi berpisah dengan sang suami. ”Sebelum akhir tahun 2018 ini, PA akan berusaha untuk menyelesaikan,’’ katanya, Rabu (26/12).

- Advertisement -

Zefry merinci, tahun ini perkara cerai gugat cukup mendominasi. Yakni, tertulis sebanyak 2.138 perkara. Sedangkan cerai talak mencapai 854 perkara. ”Dari dulu cerai gugat memang paling banyak,’’ tambahnya.

Angka perceraian tersebut terbilang meningkat bila melihat perceraian tahun 2017 lalu yang mencapai 3.278 kasus. ”Tahun 2017 lalu memang lebih rendah,’’ jelasnya. Dia menegaskan, setidaknya ada tiga faktor tertinggi penyebab perkara perceraian.

Masing-masing adalah alasan ekonomi sebanyak 1.307, perselisihan kedua belah pihak 769, dan akibat perzinahan sebanyak 245 faktor. ”Selain itu, ada karena KDRT, mabuk, dan dikawinkan paksa. Akhirnya mereka memilih untuk bercerai,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Sebelum Meninggal, Cak Rizal Ziarah ke Makam Bung Karno

Sebenarnya, tambah Zefry, kenaikan perceraian tersebut terbilang sangat mengejutkan. Pasalnya, pihak PA sudah melakukan beberapa cara. Seperti melakukan forum mediasi terlebih dahulu sebelum melanjutkan sidang perceraian. Dengan harapan angka perceraian kedua belah pihak diurungkan.

”Namun kenyataannya memang tetap naik,’’ tuturnya. Meski demikian, PA Mojokerto tetap berkomitmen menekan penurunan angka perceraian di tahun 2019 mendatang. ”Iya kita lihat saja nanti, dan pihak kami pasti melakukan usaha agar percerian ini bisa menurun,’’ ujarnya. (ras)

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/