alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Bahan dari Penjual Soto Ayam, Diolah Jadi Motor hingga Kapal Layar

Tulang belulang yang biasanya jadi sampah, ternyata sangat berguna. Di tangan Totok Santoso, tulang bisa dimanfaatkan menjadi sebuah karya seni yang dapat mendatangkan rupiah. Dari tulang itu pula, dia mampu menciptakan miniatur berbagai kendaraan.

INDAH OCEANANDA, Kecamatan Kranggan, Jawa Pos Radar Mojokerto

TAK banyak yang mengira. Tulang ayam, biawak dan labi-labi ternyata bisa menjadi karya seni yang menarik. Itulah yang dilakukan Totok. Berkat tangan terampilnya, tulang yang mestinya berada di tempat sampah, bisa berubah wujud menjadi miniatur becak, motor, hingga kapal layar.

Totok mengatakan, ia mulai mendalami tulang itu setelah terinspirasi dari temannya, tahun 2012 silam. Awalnya, sang teman iseng mengumpulkan tulang yang rencananya hendak dibuat miniatur sepeda. Namun, karena sang teman tak kunjung menyelesaikan miniatur itu, dia pun mencoba membuat sendiri dengan model kendaraan lain. ”Sejak itulah pergumulan saya dengan tulang dimulai,” ujar pria 41 tahun ini.

Tinggal di Jalan Piere Tendenan, Kelurahan Sentanan, Kecamatan Kranggan, Totok mengaku, tidak kesulitan mendapatkan tulang untuk bahan baku kerajinannya. Karena, di sekitar rumahnya, banyak penjual soto ayam. Lalu, untuk tengkorak biawak dan tempurung labi-labi, biasanya dia mencari di daerah Rolak Songo. ”Tapi harus pesan dulu ke penjualnya. Sebab, kalau langsung beli nggak bisa. Kan nggak menentu,” terang dia.

Cara Totok membuat miniatur, juga unik. Dia tak mau mengubah bentuk tulang, melainkan miniatur yang akan dibuat disesuaikan dengan bentuk tulang. Semisal, bagian lantai kapal. Dia ciptakan dari potongan tulang paha ayam. Ada juga miniatur motor dan becak dengan roda terbuat dari tulang leher ayam. Sedangkan, bagian depan motor dan kapal dirangkai dengan tengkorak biawak. Sedangkan untuk layar kapal dia buat menggunakan tulang tempurung labi-labi. ”Tinggal menyesuaikan saja sama besar tulangnya,” papar dia.

Baca Juga :  Belum Tuntas, Tanah Ambles

Proses menggabung-gabungkan aneka tulang itu, ditegaskan Totok, memakan waktu. Totok menyebut, untuk membuat miniatur becak saja, setidaknya butuh waktu hingga dua bulan. Adapun untuk bentuk kapal yang lebih rumit, pengerjaan bisa sampai enam bulan.

Pembuatan yang menelan waktu lama ini, karena Totok harus membersihkan tulang dari sisa-sisa daging yang menempel. Melalui proses perendaman dengan cuka selama empat jam. ”Selanjutnya, tulang-tulang dijemur hingga kering dan berwarna putih selama tiga hari berturut-turut dan harus dengan sinar matahari. Kalau sudah benar-benar kering kemudian direkatkan dengan lem sesuai dengan motif tulang,” bebernya.

Setelah jadi, sebagai sentuhan akhir, Totok biasanya memasukkan kerajinan itu dimasukkan ke dalam kotak kaca. Atau hanya dihias dengan kayu sebagai bantalan bawah miniatur. Semuanya dibentuk sendiri. ”Kalau untuk kaca, tetap sengaja dibentuk buka tutup. Supaya miniatur mudah dibersihkan dengan menyemprotkan pembersih saja,” jelas pria asli Kota Mojokerto itu.

Baca Juga :  Segera Gelar PPDB, Pastikan Kesiapan Sarpras Pendukung

Meski terbilang unik, Totok mengaku, pemasaran produk miniatur dari tulang ini masih tertatih-tatih. Terbukti, sejak dia memulai usaha ini, hanya bisa bertahan hingga tahun 2015 saja. Pasalnya, waktu pembuatan yang lama dan terkendala sistem pengiriman yang ekstra hati-hati. Produknya pernah tembus hingga Malang, Surabaya dan Bali.

”Setelah itu saya berhenti tidak buat miniatur lagi. Di samping modalnya nggak cukup, pengirimannya juga ribet. Bahkan pernah ditawarin dari Kalimantan mau beli, tapi saya belum berani. Akhirnya, selama vakum saya kerja serabutan (ikut borongan) atau menggarap kerajinan lain yang pemasarannya lebih cepat dibandingkan miniatur ini,” cerita pria lulusan SMP ini..

Totok menjual karya miniatur termurah seharga Rp 750.000 hingga Rp 3 juta. Menurut Totok, harga itu merupakan penghargaan atas kreativitasnya. Meski pemasaran sulit, Totok tak patah arang. Dengan dibantu tetangganya, Totok menawarkan aneka miniatur itu melalui media sosial.

Total sudah 15 karya yang ia jual ke berbagai daerah. Kini, tersisa satu miniatur kapalnya yang siap dijual oleh Totok. Sayangnya, belum ada pembeli yang melirik. ”Saya tetap merasa kerajinan ini unik dan punya nilai seni yang tinggi. Saya berharap, pemasaran miniatur ini bisa lebih luas. Sepanjang ada kreativitas, pasti ada jalan,” tukasnya. 

Tulang belulang yang biasanya jadi sampah, ternyata sangat berguna. Di tangan Totok Santoso, tulang bisa dimanfaatkan menjadi sebuah karya seni yang dapat mendatangkan rupiah. Dari tulang itu pula, dia mampu menciptakan miniatur berbagai kendaraan.

INDAH OCEANANDA, Kecamatan Kranggan, Jawa Pos Radar Mojokerto

TAK banyak yang mengira. Tulang ayam, biawak dan labi-labi ternyata bisa menjadi karya seni yang menarik. Itulah yang dilakukan Totok. Berkat tangan terampilnya, tulang yang mestinya berada di tempat sampah, bisa berubah wujud menjadi miniatur becak, motor, hingga kapal layar.

Totok mengatakan, ia mulai mendalami tulang itu setelah terinspirasi dari temannya, tahun 2012 silam. Awalnya, sang teman iseng mengumpulkan tulang yang rencananya hendak dibuat miniatur sepeda. Namun, karena sang teman tak kunjung menyelesaikan miniatur itu, dia pun mencoba membuat sendiri dengan model kendaraan lain. ”Sejak itulah pergumulan saya dengan tulang dimulai,” ujar pria 41 tahun ini.

Tinggal di Jalan Piere Tendenan, Kelurahan Sentanan, Kecamatan Kranggan, Totok mengaku, tidak kesulitan mendapatkan tulang untuk bahan baku kerajinannya. Karena, di sekitar rumahnya, banyak penjual soto ayam. Lalu, untuk tengkorak biawak dan tempurung labi-labi, biasanya dia mencari di daerah Rolak Songo. ”Tapi harus pesan dulu ke penjualnya. Sebab, kalau langsung beli nggak bisa. Kan nggak menentu,” terang dia.

Cara Totok membuat miniatur, juga unik. Dia tak mau mengubah bentuk tulang, melainkan miniatur yang akan dibuat disesuaikan dengan bentuk tulang. Semisal, bagian lantai kapal. Dia ciptakan dari potongan tulang paha ayam. Ada juga miniatur motor dan becak dengan roda terbuat dari tulang leher ayam. Sedangkan, bagian depan motor dan kapal dirangkai dengan tengkorak biawak. Sedangkan untuk layar kapal dia buat menggunakan tulang tempurung labi-labi. ”Tinggal menyesuaikan saja sama besar tulangnya,” papar dia.

Baca Juga :  PTM Terbatas Dimulai, Bupati Ikfina Pantau Tiga Sekolah
- Advertisement -

Proses menggabung-gabungkan aneka tulang itu, ditegaskan Totok, memakan waktu. Totok menyebut, untuk membuat miniatur becak saja, setidaknya butuh waktu hingga dua bulan. Adapun untuk bentuk kapal yang lebih rumit, pengerjaan bisa sampai enam bulan.

Pembuatan yang menelan waktu lama ini, karena Totok harus membersihkan tulang dari sisa-sisa daging yang menempel. Melalui proses perendaman dengan cuka selama empat jam. ”Selanjutnya, tulang-tulang dijemur hingga kering dan berwarna putih selama tiga hari berturut-turut dan harus dengan sinar matahari. Kalau sudah benar-benar kering kemudian direkatkan dengan lem sesuai dengan motif tulang,” bebernya.

Setelah jadi, sebagai sentuhan akhir, Totok biasanya memasukkan kerajinan itu dimasukkan ke dalam kotak kaca. Atau hanya dihias dengan kayu sebagai bantalan bawah miniatur. Semuanya dibentuk sendiri. ”Kalau untuk kaca, tetap sengaja dibentuk buka tutup. Supaya miniatur mudah dibersihkan dengan menyemprotkan pembersih saja,” jelas pria asli Kota Mojokerto itu.

Baca Juga :  Belum Tuntas, Tanah Ambles

Meski terbilang unik, Totok mengaku, pemasaran produk miniatur dari tulang ini masih tertatih-tatih. Terbukti, sejak dia memulai usaha ini, hanya bisa bertahan hingga tahun 2015 saja. Pasalnya, waktu pembuatan yang lama dan terkendala sistem pengiriman yang ekstra hati-hati. Produknya pernah tembus hingga Malang, Surabaya dan Bali.

”Setelah itu saya berhenti tidak buat miniatur lagi. Di samping modalnya nggak cukup, pengirimannya juga ribet. Bahkan pernah ditawarin dari Kalimantan mau beli, tapi saya belum berani. Akhirnya, selama vakum saya kerja serabutan (ikut borongan) atau menggarap kerajinan lain yang pemasarannya lebih cepat dibandingkan miniatur ini,” cerita pria lulusan SMP ini..

Totok menjual karya miniatur termurah seharga Rp 750.000 hingga Rp 3 juta. Menurut Totok, harga itu merupakan penghargaan atas kreativitasnya. Meski pemasaran sulit, Totok tak patah arang. Dengan dibantu tetangganya, Totok menawarkan aneka miniatur itu melalui media sosial.

Total sudah 15 karya yang ia jual ke berbagai daerah. Kini, tersisa satu miniatur kapalnya yang siap dijual oleh Totok. Sayangnya, belum ada pembeli yang melirik. ”Saya tetap merasa kerajinan ini unik dan punya nilai seni yang tinggi. Saya berharap, pemasaran miniatur ini bisa lebih luas. Sepanjang ada kreativitas, pasti ada jalan,” tukasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/