alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Sunday, May 22, 2022

Enam Bulan, Sembilan Ribu Karyawan di Mojokerto Di-PHK

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Hingga memasuki pertengahan tahun, angka pengangguran di Kota dan Kabupaten Mojokerto terus merangkak naik. Memasuki akhir bulan Juni ini, sebanyak 8.940 orang yang semula produktif, kini tak lagi memiliki pekerjaan.

Kepala Bidang Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Mojokerto Adi Wibowo mengatakan, jumlah karyawan yang mengalami PHK sejak pandemi Covid-19 terus meningkat.

Hal itu terlihat dari banyaknya karyawan yang mengklaim tabungan jaminan hari tua (JHT). ’’Per hari, rata-rata, kami mencairkan Rp 2 miliar sampai Rp 2,5 miliar,’’ ungkapnya, kemarin. BPJS Ketenagakerjaan Mojokerto menyebutkan, sepanjang Januari, karyawan yang di-PHK dari perusahaanmencapai 1.133 orang, dan 184 orang menyatakan resign.

Dari jumlah itu, BPJS Ketenagkerajaan mencairkan hingga Rp 17,3 miliar. Memasuki Februari, jumlah PHK masih cukup tinggi, yakni mencapai 1.003 orang. Dan resign sebanyak 184 orang. Sedangkan selama Maret mengalami penurunan.

Baca Juga :  Kemendikbud Kesengsem Soekarno Center

Jumlah karyawan yang di-PHK sebanyak 792 orang, dan resign tercatata 210 orang. Bowo menambahkan, memasuki April, jumlah karyawan yang tak lagi bekerja kembali turun. Mereka yang di-PHK sebanyak 451 orang dan resign atau keluar kerja sebanyak 241 orang. ’’Selama April, pencairan JHT sebanyak Rp 8,2 miliar,’’ tegas dia.

Memasuki Mei, angka PHK kembali merangkak naik menjadi 723 karyawan dari 630 orang menyatakan resign. Selama Mei, BPJS Ketenagakerjaan mencatat telah mencarikan Rp 15, 7 miliar. Account Representative BPJS Ketenagakerjaan Mojokerto Brammantya Widya Aswara menambahkan, selama Juni, angka pengangguran kembali membeludak.

Terhitung, selama 26 hari terakhir, BPJS Ketenagkerjaan harus mencairkan Rp 32,1 miliar. Besarnya angka ini, disebabkan banyaknya karyawan yang mengalami PHK dan resign dari perusahaan tempat bekerja. Tercatat, sebanyak 1.707 orang di PHK dan resign sebanyak 1.420 orang. ’’Juni, menjadi rekor tertinggi selama 6 bulan terakhir,’’ bebernya.

Baca Juga :  Ratusan Paket Hadiah Tuntas Diundi

Tingginya PHK juga terlihat dari banyaknya antrean pencairan. Mereka rela mengantre sejak subuh untuk mendapat nomor antrean pelayanan. Angka ini diprediksinya akan terus merangkak naik. Menyusul, pandemi Covid-19 tak kunjung mereda di wilayah Mojokerto. ’’Dengan pandemi ini, maka banyak sekali perusahaan yang kolaps. Dan mem-PHK karyawannya,’’ pungkasnya. 

 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Hingga memasuki pertengahan tahun, angka pengangguran di Kota dan Kabupaten Mojokerto terus merangkak naik. Memasuki akhir bulan Juni ini, sebanyak 8.940 orang yang semula produktif, kini tak lagi memiliki pekerjaan.

Kepala Bidang Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Mojokerto Adi Wibowo mengatakan, jumlah karyawan yang mengalami PHK sejak pandemi Covid-19 terus meningkat.

Hal itu terlihat dari banyaknya karyawan yang mengklaim tabungan jaminan hari tua (JHT). ’’Per hari, rata-rata, kami mencairkan Rp 2 miliar sampai Rp 2,5 miliar,’’ ungkapnya, kemarin. BPJS Ketenagakerjaan Mojokerto menyebutkan, sepanjang Januari, karyawan yang di-PHK dari perusahaanmencapai 1.133 orang, dan 184 orang menyatakan resign.

Dari jumlah itu, BPJS Ketenagkerajaan mencairkan hingga Rp 17,3 miliar. Memasuki Februari, jumlah PHK masih cukup tinggi, yakni mencapai 1.003 orang. Dan resign sebanyak 184 orang. Sedangkan selama Maret mengalami penurunan.

Baca Juga :  Diduga Mengantuk, Pengendara Motor Terperosok

Jumlah karyawan yang di-PHK sebanyak 792 orang, dan resign tercatata 210 orang. Bowo menambahkan, memasuki April, jumlah karyawan yang tak lagi bekerja kembali turun. Mereka yang di-PHK sebanyak 451 orang dan resign atau keluar kerja sebanyak 241 orang. ’’Selama April, pencairan JHT sebanyak Rp 8,2 miliar,’’ tegas dia.

Memasuki Mei, angka PHK kembali merangkak naik menjadi 723 karyawan dari 630 orang menyatakan resign. Selama Mei, BPJS Ketenagakerjaan mencatat telah mencarikan Rp 15, 7 miliar. Account Representative BPJS Ketenagakerjaan Mojokerto Brammantya Widya Aswara menambahkan, selama Juni, angka pengangguran kembali membeludak.

- Advertisement -

Terhitung, selama 26 hari terakhir, BPJS Ketenagkerjaan harus mencairkan Rp 32,1 miliar. Besarnya angka ini, disebabkan banyaknya karyawan yang mengalami PHK dan resign dari perusahaan tempat bekerja. Tercatat, sebanyak 1.707 orang di PHK dan resign sebanyak 1.420 orang. ’’Juni, menjadi rekor tertinggi selama 6 bulan terakhir,’’ bebernya.

Baca Juga :  Polisi Telusuri Distribusi Elpiji Melon di Mojokerto

Tingginya PHK juga terlihat dari banyaknya antrean pencairan. Mereka rela mengantre sejak subuh untuk mendapat nomor antrean pelayanan. Angka ini diprediksinya akan terus merangkak naik. Menyusul, pandemi Covid-19 tak kunjung mereda di wilayah Mojokerto. ’’Dengan pandemi ini, maka banyak sekali perusahaan yang kolaps. Dan mem-PHK karyawannya,’’ pungkasnya. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/