alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Tradisi Festival Gula di Jerman Ditiadakan, Teman Pengganti Keluarga

PENGALAMAN menjalani bulan Ramadan dan Lebaran di Jerman dialami Mochamad Miftah El Azmi Mauladi Tontowi. Pemuda 23 tahun yang kini tengah menempuh pendidikan S2 di Fachhochschule Franfurt, Jerman.

Sudah lima tahun, arek Mojokerto asal Perum Kranggan Permai, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto ini merantau. Sembari berkuliah pascasarjana, Alvin-sapaan akrabnya juga nyambi bekerja sebagai arsitek. Sudah dua tahun terakhir ini dia tak pulang kampung. Setahun lalu, keluarganya yang mengunjunginya di Jerman.

Akan tetapi tahun ini berbeda. Rencana pulang kampung ke Mojokerto terpaksa direvisi, menyusul mewabahnya virus korona. Dia mengurungkan rencana mudik. Praktis sehari-hari dia berfokus terhadap kuliah dan pekerjaan. Meski aktivitas di luar ruangan masih dibatasi oleh pemerintah setempat. Selama tinggal di Jerman, dirinya beberapa kali merasakan Lebaran.

Alvin menceritakan, Jerman pasca Perang Dunia II terus mengalami peningkatan jumlah umat muslim. Akan tetapi, jumlahnya memang masih minoritas. Sekitar 5,7 persen dari populasi di Jerman adalah umat muslim. Praktis, dengan kondisi itu, tentunya perayaan lebaran di Jerman masih jauh dari kesemarakan perayaan Lebaran di Indonesia.

Di Jerman, juga tidak menjadikan Hari Raya Idul Fitri sebagai hari libur nasional. ’’Jangan harap ada pawai keliling dan takbiran dengan pengeras suara. Melainkan hanya dirayakan dengan sekadar mengadakan salat Id bersama,’’ kata dia. Meski begitu, lanjut Alvin, suasana Lebaran di Jerman terbilang khas. Itu disebabkan keberadaan komunitas muslim yang tinggal di Jerman tergolong beragam.

Baca Juga :  Jelang Musim Penghujan, Pohon Pinggir Jalan Belum Dikepras

Mulai dari muslim asal Asia, Eropa, hingga Timur Tengah. ’’Kalau di Jerman, Lebaran sering disebut Zuckerfest (Festival Gula),’’ sebutnya.  Saat festival tersebut, setiap komunitas muslim yang ada menunjukkan tradisi berlebarannya masing-masing. Kondisi yang heterogen itu dilatar belakangi kalangan imigran muslim atau pendatang dari berbagai negara.

’’Kami diberikan kesempatan untuk berkenalan dengan berbagai tradisi Lebaran dari berbagai penjuru dunia,’’ imbuhnya. Suatu kali, dirinya pernah alami tak mengenakkan. Itu terjadi ketika Lebaran justru bertepatan dengan hari kerja. Atau ketika masih mahasiswa, saat Lebaran berbarengan dengan hari masuk kuliah atau ujian.

Karena meski menjadi hari besar umat muslim, Hari Raya Idul Fitri belum menjadi hari libur di Jerman. Meski begitu yang paling menyedihkan Alvin adalah lebaran tahun ini diwarnai wabah pandemi korona. Yang mana akibatnya sangat luas. Hingga saat Lebaran yang biasanya diisi salat Id dan perayaan makan bersama terpaksa ditiadakan. ’’Prosedur-prosedur dari pemerintah Jerman amat ketat,’’ tandas Alvin.

Baca Juga :  Mahasiswa Desak DPRD Sikapi Limbah B3 dan Galian

Dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dan masyarakat muslim Indonesia di Frankfurt memutuskan untuk menjalankan salat Id di rumah masing-masing. Selain itu, takbiran dan ceramah salat Id nantinya dilaksanakan secara online. ’’Tapi ada sebagian masjid dari komunitas muslim lain yang mengadakan. Akan tetapi dengan prosedur yang diwajibkan pemerintah,’’ imbuhnya.

Sebenarnya dia memiliki kakak yang berada di Berlin. Meski berada dalam satu negara, dirinya tak bisa mengunjungi kakaknya dan sebaliknya. Itu dikarenakan kebijakan pemerintah setempat yang melarang warganya bepergian jauh. ’’Sementara belum bisa bertemu. Harus menghindari berpergian jauh dulu,’’ tambah Alvin.

Alhasil, Lebaran tahun ini akan menjadi bagian dalam sejarah hidupnya. Lebaran tanpa keluarga yang berada di tanah air. Akan tetapi, di Jerman, Alvin mendapat banyak teman asal Indonesia. ’’Sehingga ketika jauh dari keluarga, teman-teman saya di sini lah yang menjadi keluarga saya di Jerman,’’ pungkasnya. 

PENGALAMAN menjalani bulan Ramadan dan Lebaran di Jerman dialami Mochamad Miftah El Azmi Mauladi Tontowi. Pemuda 23 tahun yang kini tengah menempuh pendidikan S2 di Fachhochschule Franfurt, Jerman.

Sudah lima tahun, arek Mojokerto asal Perum Kranggan Permai, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto ini merantau. Sembari berkuliah pascasarjana, Alvin-sapaan akrabnya juga nyambi bekerja sebagai arsitek. Sudah dua tahun terakhir ini dia tak pulang kampung. Setahun lalu, keluarganya yang mengunjunginya di Jerman.

Akan tetapi tahun ini berbeda. Rencana pulang kampung ke Mojokerto terpaksa direvisi, menyusul mewabahnya virus korona. Dia mengurungkan rencana mudik. Praktis sehari-hari dia berfokus terhadap kuliah dan pekerjaan. Meski aktivitas di luar ruangan masih dibatasi oleh pemerintah setempat. Selama tinggal di Jerman, dirinya beberapa kali merasakan Lebaran.

Alvin menceritakan, Jerman pasca Perang Dunia II terus mengalami peningkatan jumlah umat muslim. Akan tetapi, jumlahnya memang masih minoritas. Sekitar 5,7 persen dari populasi di Jerman adalah umat muslim. Praktis, dengan kondisi itu, tentunya perayaan lebaran di Jerman masih jauh dari kesemarakan perayaan Lebaran di Indonesia.

Di Jerman, juga tidak menjadikan Hari Raya Idul Fitri sebagai hari libur nasional. ’’Jangan harap ada pawai keliling dan takbiran dengan pengeras suara. Melainkan hanya dirayakan dengan sekadar mengadakan salat Id bersama,’’ kata dia. Meski begitu, lanjut Alvin, suasana Lebaran di Jerman terbilang khas. Itu disebabkan keberadaan komunitas muslim yang tinggal di Jerman tergolong beragam.

Baca Juga :  Mutasi Jilid III Digelar Pekan Ini

Mulai dari muslim asal Asia, Eropa, hingga Timur Tengah. ’’Kalau di Jerman, Lebaran sering disebut Zuckerfest (Festival Gula),’’ sebutnya.  Saat festival tersebut, setiap komunitas muslim yang ada menunjukkan tradisi berlebarannya masing-masing. Kondisi yang heterogen itu dilatar belakangi kalangan imigran muslim atau pendatang dari berbagai negara.

- Advertisement -

’’Kami diberikan kesempatan untuk berkenalan dengan berbagai tradisi Lebaran dari berbagai penjuru dunia,’’ imbuhnya. Suatu kali, dirinya pernah alami tak mengenakkan. Itu terjadi ketika Lebaran justru bertepatan dengan hari kerja. Atau ketika masih mahasiswa, saat Lebaran berbarengan dengan hari masuk kuliah atau ujian.

Karena meski menjadi hari besar umat muslim, Hari Raya Idul Fitri belum menjadi hari libur di Jerman. Meski begitu yang paling menyedihkan Alvin adalah lebaran tahun ini diwarnai wabah pandemi korona. Yang mana akibatnya sangat luas. Hingga saat Lebaran yang biasanya diisi salat Id dan perayaan makan bersama terpaksa ditiadakan. ’’Prosedur-prosedur dari pemerintah Jerman amat ketat,’’ tandas Alvin.

Baca Juga :  Mahasiswa Desak DPRD Sikapi Limbah B3 dan Galian

Dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dan masyarakat muslim Indonesia di Frankfurt memutuskan untuk menjalankan salat Id di rumah masing-masing. Selain itu, takbiran dan ceramah salat Id nantinya dilaksanakan secara online. ’’Tapi ada sebagian masjid dari komunitas muslim lain yang mengadakan. Akan tetapi dengan prosedur yang diwajibkan pemerintah,’’ imbuhnya.

Sebenarnya dia memiliki kakak yang berada di Berlin. Meski berada dalam satu negara, dirinya tak bisa mengunjungi kakaknya dan sebaliknya. Itu dikarenakan kebijakan pemerintah setempat yang melarang warganya bepergian jauh. ’’Sementara belum bisa bertemu. Harus menghindari berpergian jauh dulu,’’ tambah Alvin.

Alhasil, Lebaran tahun ini akan menjadi bagian dalam sejarah hidupnya. Lebaran tanpa keluarga yang berada di tanah air. Akan tetapi, di Jerman, Alvin mendapat banyak teman asal Indonesia. ’’Sehingga ketika jauh dari keluarga, teman-teman saya di sini lah yang menjadi keluarga saya di Jerman,’’ pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/