alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Monday, May 23, 2022

Mendengar Suara Takbiran, tanpa Salat ”Kemenangan”

Arek-arek Mojokerto rupanya tersebar ke berbagai pelosok negara dunia. Mereka menjalani studi, mendampingi suami, hingga bekerja. Masa Lebaran tahun ini mereka tidak mudik. Pandemi virus korona penyebab utamanya.

Hari Raya Idul Fitri pun bakal dirayakan sederhana. Tapi, kerinduan akan kampung halaman yang beribu-ribu kilometer jauhnya tetap semarak di hati mereka.

Momen Lebaran pertama di negeri rantau Aini Mazaya El Banna, 21, dirasakan tahun 2018 silam. Maklum, dia baru menginjakkan kaki di Negeri Firaun pada September 2017. Kala itu, baru saja momentum Hari Raya Idul Fitri berlangsung di Indonesia.

Mahasiswi asal Desa/Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini melanjutkan studi di Universitas Al Ahzar, Mesir. Tepatnya pada jurusan Ushuluddin. Semasa di Mesir, para mahasiswa rantau dari Indonesia menyebut diri mereka dengan istilah Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir). Menurut Maya-sapaan akrab Aini Mazaya El Banna, Ramadan dan Lebaran di tanah rantau jelas berbeda dengan kampung halaman.

Terlebih, dirinya semenjak kecil selalu dengan bapak dan ibu ketika Lebaran. Oleh sebab itu, pengalaman berada di luar negeri membuatnya merasakan betul arti kerinduan akan kampung halaman. Untuk Ramadan di Mesir sendiri, meski jauh dari keluarga membuatnya merasa bersyukur kepada Allah SWT.

Baca Juga :  Terparah Sepanjang Sejarah, Kanal Tertutup Tanah

Ia merasakan keindahan karena mengetahui adat istiadat di Negeri Kinanah yang unik dan menarik. Seperti, ’’Maidatur Rahman’’ yang artinya pembagian ifthar (buka puasa) bagi para shoimin dan orang-orang di jalan. Sehingga apabila Ramadan datang, para muhsinin selalu berlomba-lomba memberikan santapan buka puasa secara cuma-cuma.

Dan tak jarang pula para Masisir menjadi pemburu maidah itu sendiri. ’’Tentunya itu terjadi sebelum masa Covid-19 berlangsung,’’ ujar dia. Lalu momen salat Tarawih di Masjid Azhar sendiri pun tetap menjadi bagian istimewa. Selain mengkhatamkan Alquran, dipimpim oleh imam yang bersuara merdu dan membacanya dengan bacaan qiroah. ’’Membuat tarawih dengan 23 rakaat di musim panas kala puasa tidak terasa (lelah),’’ imbuh dia.

Ketika berpuasa di Mesir, salah satu tantangannya adalah temperatur yang tinggi. Dengan waktu berpuasa selama 16 jam, harus menerima suhu udara hingga mencapai 43 derajat Celsius. Lebih dari itu, secara pribadi dirinya merasa mulai lebih bisa memaknai suasana Ramadan di Mesir. Di mana Ramadan memang bulan ibadah, bulan penuh berkah, bulan Alquran dan bulan penuh ampunan.

Baca Juga :  Banyak Tanggul Kali Sadar dalam Posisi Menggantung

’’Ya semuanya entah mengapa tercermin dalam perilaku para masyayikh Azhar dan orang-orang Mesir sendiri,’’ beber Maya. Kalau untuk lebaran, umumnya masisir akan mengusahakan agar bisa salat Id di Masjid Azhar tentunya. Akan tetapi, bagi yang bertempat tinggal jauh dari sana dan kurang memungkinkan akan salat di masjid terdekatnya.

Tentu euforia ketika salat Id benar-benar terasa. ’’Kami merasa benar-benar menjadi satu dengan penduduk Mesir sendiri dan serasa keluarga sendiri. Saling bersalam-salaman dan minta maaf,’’ urainya. Sementara itu, semasa wabah pandemi korona, suasana teramat berbeda. Pemerintah setempat meniadakan semua kebiasaan-kebiasaan ketika bulan Ramadan sendiri.

Semisal, maidatur rahman dan salat Tarawih. Karena semua masjid juga dilakukan penutupan dan adanya pemberlakuan jam malam. Dari pemerintah juga mengimbau larangan berkumpul dalam jumlah besar. Sedianya pelaksanaan salat Id hanya disiarkan langsung di satu masjid pemerintah.

Sedangkan masjid-masjid lainnya hanya diperbolehkan memutar suara takbiran tanpa adanya pelaksanaan salat Id. ’’Sekarang tinggal di rumah pembinaan. Untuk keluar rumah dibatasi,’’ pungkas Maya. 

Arek-arek Mojokerto rupanya tersebar ke berbagai pelosok negara dunia. Mereka menjalani studi, mendampingi suami, hingga bekerja. Masa Lebaran tahun ini mereka tidak mudik. Pandemi virus korona penyebab utamanya.

Hari Raya Idul Fitri pun bakal dirayakan sederhana. Tapi, kerinduan akan kampung halaman yang beribu-ribu kilometer jauhnya tetap semarak di hati mereka.

Momen Lebaran pertama di negeri rantau Aini Mazaya El Banna, 21, dirasakan tahun 2018 silam. Maklum, dia baru menginjakkan kaki di Negeri Firaun pada September 2017. Kala itu, baru saja momentum Hari Raya Idul Fitri berlangsung di Indonesia.

Mahasiswi asal Desa/Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini melanjutkan studi di Universitas Al Ahzar, Mesir. Tepatnya pada jurusan Ushuluddin. Semasa di Mesir, para mahasiswa rantau dari Indonesia menyebut diri mereka dengan istilah Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir). Menurut Maya-sapaan akrab Aini Mazaya El Banna, Ramadan dan Lebaran di tanah rantau jelas berbeda dengan kampung halaman.

Terlebih, dirinya semenjak kecil selalu dengan bapak dan ibu ketika Lebaran. Oleh sebab itu, pengalaman berada di luar negeri membuatnya merasakan betul arti kerinduan akan kampung halaman. Untuk Ramadan di Mesir sendiri, meski jauh dari keluarga membuatnya merasa bersyukur kepada Allah SWT.

Baca Juga :  Bupati Berbagi Bahagia Saat Ramadan

Ia merasakan keindahan karena mengetahui adat istiadat di Negeri Kinanah yang unik dan menarik. Seperti, ’’Maidatur Rahman’’ yang artinya pembagian ifthar (buka puasa) bagi para shoimin dan orang-orang di jalan. Sehingga apabila Ramadan datang, para muhsinin selalu berlomba-lomba memberikan santapan buka puasa secara cuma-cuma.

- Advertisement -

Dan tak jarang pula para Masisir menjadi pemburu maidah itu sendiri. ’’Tentunya itu terjadi sebelum masa Covid-19 berlangsung,’’ ujar dia. Lalu momen salat Tarawih di Masjid Azhar sendiri pun tetap menjadi bagian istimewa. Selain mengkhatamkan Alquran, dipimpim oleh imam yang bersuara merdu dan membacanya dengan bacaan qiroah. ’’Membuat tarawih dengan 23 rakaat di musim panas kala puasa tidak terasa (lelah),’’ imbuh dia.

Ketika berpuasa di Mesir, salah satu tantangannya adalah temperatur yang tinggi. Dengan waktu berpuasa selama 16 jam, harus menerima suhu udara hingga mencapai 43 derajat Celsius. Lebih dari itu, secara pribadi dirinya merasa mulai lebih bisa memaknai suasana Ramadan di Mesir. Di mana Ramadan memang bulan ibadah, bulan penuh berkah, bulan Alquran dan bulan penuh ampunan.

Baca Juga :  Banyak Tanggul Kali Sadar dalam Posisi Menggantung

’’Ya semuanya entah mengapa tercermin dalam perilaku para masyayikh Azhar dan orang-orang Mesir sendiri,’’ beber Maya. Kalau untuk lebaran, umumnya masisir akan mengusahakan agar bisa salat Id di Masjid Azhar tentunya. Akan tetapi, bagi yang bertempat tinggal jauh dari sana dan kurang memungkinkan akan salat di masjid terdekatnya.

Tentu euforia ketika salat Id benar-benar terasa. ’’Kami merasa benar-benar menjadi satu dengan penduduk Mesir sendiri dan serasa keluarga sendiri. Saling bersalam-salaman dan minta maaf,’’ urainya. Sementara itu, semasa wabah pandemi korona, suasana teramat berbeda. Pemerintah setempat meniadakan semua kebiasaan-kebiasaan ketika bulan Ramadan sendiri.

Semisal, maidatur rahman dan salat Tarawih. Karena semua masjid juga dilakukan penutupan dan adanya pemberlakuan jam malam. Dari pemerintah juga mengimbau larangan berkumpul dalam jumlah besar. Sedianya pelaksanaan salat Id hanya disiarkan langsung di satu masjid pemerintah.

Sedangkan masjid-masjid lainnya hanya diperbolehkan memutar suara takbiran tanpa adanya pelaksanaan salat Id. ’’Sekarang tinggal di rumah pembinaan. Untuk keluar rumah dibatasi,’’ pungkas Maya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/